Liputan6.com, Jakarta - Strategy membeli bitcoin (BTC) senilai USD 1,57 miliar atau Rp 26,63 triliun (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.960) pada pekan lalu. Aksi beli itu termasuk pembelian terbesar oleh Strategy pada 2026 sebesar 22.337 BTC. Hal ini seiring meningkatnya permintaan terhadap STRC, saham preferen dengan suku bunga variabelnya.
Mengutip Yahoo Finance, Selasa (17/3/2026), pekan lalu, perusahaan pembeli bitcoin ini mengumpulkan hampir USD 1,2 miliar atau Rp 20,35 triliun melalui produk yang memberikan dividen. Angka ini menandai peningkatan signifikan dibandingkan pendapatan USD 377 dari STRC pekan sebelumnya.
Advertisement
Perusahaan yang berbasis di Tysons Corner, Virginia ini sekarang memiliki sekitar 761.000 bitcoin, berdasarkan siaran pers. Dengan bitcoin yang baru-baru ini diperdagangkan sekitar USD 73.340 atau Rp 1,24 miliar, jumlah itu bernilai sekitar USD 55,8 miliar atau Rp 946,59 triliun, berdasarkan data CoinGecko.
Seiring bitcoin telah jatuh dalam beberapa bulan terakhir, persedian Strategy menunjukkan kerugian besar di atas kertas. Namun, seiring bitcoin yang semakin mendekati rata-rata harga pembelian sekitar USD 76.700 atau Rp 1,3 miliar, kepemilikan bitcoin perusahaan hanya turun USD 1,7 miliar pada Senin pekan ini.
Harga saham Strategy melonjak ke level tertinggi 45 hari di USD 148 pada Senin, dan baru-baru ini diperdagangkan naik 4% pada hari itu di USD 145,40, menurut Yahoo Finance. Namun, saham telah turun lebih dari 56% selama enam bulan terakhir.
Sejak STRC diluncurkan pada Juli, Strategy telah menggunakan saham preferen sebagai sumber pendanaan alternatif dibandingkan dengan saham biasa. Produk ini saat ini memberikan imbal hasil 11,5%, yang berarti pembayaran bulanan sekitar $0,9583 per STRC untuk investor.
Setelah pembelian terbaru Strategy, STRC memiliki kapitalisasi pasar sekitar USD 5 miliar, yang mewakili peningkatan nilai produk sebesar 30% selama bulan lalu. Sebelumnya, salah satu pendiri dan Ketua Eksekutif Strategy menyebut STRC sebagai "momen iPhone" perusahaan.
Sinyal Strategy
Ketika produk diperdagangkan di atas ambang batas USD 100, Strategy telah memberi sinyal akan menerbitkan lebih banyak saham preferen untuk menjaga harga tetap stabil. Sementara itu, perusahaan dapat menggunakan hasil tersebut dan memperluas posisinya sebagai pemegang Bitcoin terbesar di dunia.
Dengan penerbitan STRC terbaru perusahaan, beban dividen Strategy telah meningkat menjadi lebih dari USD 1 miliar per bulan, menurut situs webnya. Investor sebelumnya telah meneliti keberlanjutan biaya tersebut, yang menyebabkan Strategy memperkuat cadangan kasnya sebesar USD 2,25 miliar.
Di Myriad, pasar prediksi yang dimiliki oleh perusahaan induk Decrypt, Dastan, para pedagang memperkirakan peluang 17% Strategy akan menjual Bitcoin tahun ini. Angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan dengan peluang 27% sebulan yang lalu.
Strategy Ungkap Aksi Beli Bitcoin ke-100 pada 2026
Sebelumnya, perusahaan kripto Strategy mengungkapkan pembelian Bitcoin terkecilnya tahun ini pada Senin, 23 Februari 2026. Langkah ini bertaruh secara moderat pada aset digital tersebut sebelum mengadakan konferensi dua hari di Las Vegas, Amerika Serikat.
Perusahaan yang berbasis di Tysons Corner, Virginia ini menghabiskan USD 40 juta atau Rp 673 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.830) untuk 591 Bitcoin minggu lalu, meningkatkan total kepemilikannya menjadi 717.722 Bitcoin. Dengan Bitcoin yang baru-baru ini diperdagangkan sekitar USD 65.500 atau Rp 1,1 miliar, persediaan perusahaan tersebut bernilai USD 47 miliar atau Rp 790,7 triliun, menurut data CoinGecko.
Acara di Las Vegas ini disebut sebagai acara jaringan bagi mereka yang membentuk "masa depan kesuksesan perusahaan." Acara ini dimulai dengan pidato utama dari salah satu pendiri dan Ketua Eksekutif Strategy, Michael Saylor, tentang pergeseran perusahaan menuju "kredit digital."
Latar belakang seputar perusahaan pembeli Bitcoin jauh berbeda ketika perusahaan tersebut mengadakan "Strategy World" untuk pertama kalinya pada Mei lalu, terutama karena pemegang Bitcoin korporasi terbesar telah melihat kepemilikannya mengalami kerugian besar di atas kertas sejak saat itu.
Aksi Beli
Setelah menghabiskan lebih dari USD 54 miliar atau Rp 908,5 triliun untuk Bitcoin, Strategy menghadapi kerugian yang belum terealisasi sebesar USD 6,8 miliar atau Rp 114,4 triliun. Namun, harga pembelian rata-ratanya turun menjadi USD 76.020 dengan pembelian terbarunya, yang menandai penambahan ke-100 pada persediaannya sejak didirikan pada 2020.
Harga saham Strategy turun 2,5% pada Senin menjadi USD 127, menurut Yahoo Finance. Angka tersebut lebih tinggi dari titik terendah sekitar USD 123 beberapa minggu lalu, namun 64% lebih rendah selama enam bulan terakhir.
Akuisisi terbaru perusahaan tersebut didanai dengan hasil dari penerbitan saham biasa. Pembelian telah meningkat dalam beberapa minggu sebelumnya karena perusahaan mengandalkan saham preferen dengan suku bunga variabel (STRC), yang saat ini menawarkan dividen bulanan sebesar 11,25%.