BMKG: Kemarau di Jabar Datang Lebih Awal, Khususnya Bekasi dan Karawang

BMKG memprediksi musim kemarau di Jawa Barat datang lebih awal dan lebih kering dibandingkan biasanya.

oleh Dikdik RipaldiDiterbitkan 16 Maret 2026, 16:54 WIB
Selain itu, lanjutnya, tren pemanasan global dan perubahan iklim, gelombang panas heatwave semakin berisiko berpeluang terjadi 30 kali lebih sering. Kemudian dominasi monsun Australia, Indonesia memasuki musim kemarau. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 di Jawa Barat datang lebih awal dan lebih kering dibandingkan kondisi normal. Diperkirakan berlangsung bertahap mulai Maret hingga Juni 2026.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas I Bandung, Teguh Rahayu menyampaikan, sebagian besar wilayah mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026.

Hal tersebut disampaikan berdasarkan analisis dinamika atmosfer dan model prediksi iklim periode normal 1991–2020.

“Secara umum, sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami sifat hujan bawah normal, dengan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dan durasi kemarau berkisar 13 hingga 15 dasarian, bahkan cenderung lebih panjang dari normal,” kata Teguh dikutip secara tertulis, Senin, 16 Maret 2026.

Berdasarkan data BMKG, sekitar 56 persen wilayah Jawa Barat diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026. Sementara sekitar 66 persen wilayah diprediksi mengalami awal musim kemarau lebih cepat dibandingkan rata-rata klimatologisnya.

Adapun wilayah yang lebih dahulu memasuki musim kemarau pada Maret 2026 meliputi sebagian kecil wilayah Bekasi dan Karawang. Selanjutnya pada April 2026, musim kemarau diperkirakan meluas ke wilayah Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Indramayu, serta sebagian Cirebon.

Pada Mei hingga Juni 2026, musim kemarau diprediksi meluas ke sebagian besar wilayah Jawa Barat, termasuk Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung Raya, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Pangandaran, Majalengka, Kuningan, Ciamis hingga Banjar.

“BMKG juga mencatat sekitar 93 persen wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami kondisi lebih kering dibandingkan kondisi normal. Selain itu, sekitar 81 persen wilayah diperkirakan mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang,” jelasnya.

Antisipasi Dampak Kemarau

Dengan kondisi tersebut, sejumlah potensi dampak perlu diantisipasi sejak dini, di antaranya kekeringan meteorologis, berkurangnya ketersediaan air bersih, gangguan pada sistem irigasi pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Oleh karena itu, BMKG mengimbau pemerintah daerah serta masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi, seperti mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air dan menyesuaikan kalender tanam di sektor pertanian.

“Informasi prediksi musim ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam perencanaan sektor pertanian, pengelolaan air, serta mitigasi bencana di wilayah Jawa Barat menjelang musim kemarau tahun ini,” tandasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya