Strategi Menhub Atasi Kepadatan Antrean Pelabuhan Gilimanuk

Menhub Dudy Purwagandhi menyiapkan langkah strategis untuk mengurai kepadatan di Pelabuhan Gilimanuk jelang mudik 2026.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 16 Maret 2026, 18:15 WIB
Antrean kendaraan yang hendak masuk ke kapal di Pelabuhan Gilimanuk Bali (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menyiapkan sejumlah langkah untuk menangani kepadatan arus kendaraan di kawasan Pelabuhan Gilimanuk menjelang periode mudik. Langkah tersebut dilakukan dengan menambah kapal penyeberangan, menyiapkan buffer zone, serta mengatur prioritas kendaraan yang melintas.

Menhub mengatakan pengaturan dilakukan dengan memisahkan kendaraan besar agar tidak bercampur dengan kendaraan kecil maupun bus. Selain itu, kendaraan roda dua juga akan diprioritaskan dalam proses penyeberangan.

“Gilimanuk kita menyiapkan buffer zone, kita tambah kapal, kemudian kita pisahkan kendaraan-kendaraan besar, kita masukkan ke buffer zone sehingga kendaraan-kendaraan kecil maupun bis bisa didahulukan. Kemudian juga kita prioritaskan juga kepada kendaraan roda 2, karena roda 2 tidak punya atap dan sebagainya, jadi kita persen untuk mereka masuk,” ujar Dudy kepada wartawan, di sekitar kawasan Stasiun Manggarai, Senin (16/3/2026).

Ia menambahkan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mengatur arus kendaraan agar perjalanan masyarakat selama mudik dapat berjalan lancar dan aman.

Selain itu, Menhub juga menyoroti masih adanya pelanggaran aturan pembatasan operasional kendaraan barang oleh sebagian pelaku logistik. Menurutnya, pembatasan tersebut bertujuan untuk menjaga kelancaran arus mudik, seperti yang terlihat dari kondisi di Gilimanuk.

“Ya memang kita prihatin ya, karena masih ada beberapa pusat logistik yang tidak mengindahkan SKB. Kita harapkan sebagai contoh yang terlihat dimana di Gilimanuk, itu memperlihatkan bahwa pembatasan itu memiliki tujuan. Apa tujuannya? Agar arus mudik itu bisa berjalan dengan lancar dan selamat tentunya,” kata dia.

Ia juga mengimbau para pengusaha logistik agar mematuhi aturan yang telah ditetapkan pemerintah demi kepentingan masyarakat luas yang melakukan perjalanan mudik.

 

Mengular Puluhan Kilometer

Sejumlah kendaraan hendak menuju ke kapal yang mengakutnya ke Pelabuhan Gilimanuk Bali (Istimewa)

Sebelumnya, Lonjakan drastis arus pemudik dari Bali menuju Jawa memaksa PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ketapang mengambil langkah darurat. Guna memangkas antrean yang mengular hingga puluhan kilometer, ASDP resmi memberlakukan skema tiba bongkar berangkat secara masif di lintas penyeberangan Gilimanuk–Ketapang.

​Hingga Minggu (15/3/2026), ASDP telah mengerahkan 11 armada kapal khusus untuk menjalankan skema TBB dari total 35 kapal yang beroperasi. Dalam pola ini, kapal yang bersandar di Pelabuhan Ketapang hanya menurunkan penumpang dan kendaraan, lalu langsung bertolak kembali ke Gilimanuk tanpa mengisi muatan di Ketapang.

​"Kami prioritaskan kecepatan perputaran kapal. Begitu tiba di Ketapang, langsung bongkar dan segera balik ke Gilimanuk untuk menjemput antrean kendaraan yang kian panjang," tegas General Manager ASDP Cabang Ketapang, Arief Eko.

 

Kenaikan 32 Persen

​Data menunjukkan tekanan arus mudik tahun ini jauh melampaui angka tahun lalu. Beberapa poin krusial terkait lonjakan ini antara lain, total penumpang lebih dari 200.000 orang telah menyebrang sejak H-10. Terjadi kenaikan tajam sebesar 32 persen pada volume sepeda motor dibanding periode yang sama tahun lalu. Sedangkan kendaraan kecil mengalami kenaikan sebesar 11 persen.

"Sejak Minggu dini hari, kemacetan di Gilimanuk didominasi kendaraan roda dua yang ekor antreannya mencapai puluhan kilometer," tambahnya.

​Kondisi ini diprediksi akan mencapai puncaknya pada 17 Maret 2026. Hal ini dipicu oleh rencana penutupan total operasional penyeberangan pada 17-20 Maret dalam rangka menghormati Hari Raya Nyepi di Bali.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya