Penanganan Kanker Dinding Perut Makin Berkembang, Harapan bagi Pasien Stadium Lanjut

Berbagai pendekatan dan inovasi terkini mulai memberikan harapan baru, terutama bagi pasien kanker dinding perut stadium lanjut.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 16 Maret 2026, 17:01 WIB
Dokter spesialis bedah subspesialis bedah digestif Albertus Ari Adrianto dari RS Primaya Semarang di sela-sela SingHealth Peritoneal Surface Oncology Conference 2026 pada 10–11 Maret 2026.

Liputan6.com, Jakarta - Teknologi penanganan kanker dinding perut atau peritoneum terus berkembang. Berbagai pendekatan dan inovasi terkini mulai memberikan harapan baru, terutama bagi pasien stadium lanjut.

Salah satu metode yang berkembang adalah teknik Hyperthermic Intraperitoneal Chemotherapy (HIPEC), yakni terapi yang mengombinasikan tindakan operasi dengan kemoterapi yang diberikan langsung ke dalam rongga perut. Pendekatan ini dinilai mampu menargetkan sel kanker secara lebih spesifik, sehingga membuka peluang penanganan yang lebih optimal pada kasus-kasus kompleks.

Dokter spesialis bedah subspesialis bedah digestif Albertus Ari Adrianto mengungkapkan bahwa metode HIPEC belum banyak digunakan di Indonesia. Teknik ini berpotensi membantu menangani pasien dengan kanker yang telah menyebar ke peritoneum.

Menurut Ari, pada kanker stadium lanjut, sel kanker kerap menyebar ke dinding perut. Kondisi ini dapat terjadi pada berbagai jenis kanker, seperti kanker kolorektal, kanker lambung, hingga kanker ovarium.

“Pasien-pasien kita banyak juga yang kankernya sudah stadium lanjut, sudah menyebar ke mana-mana, termasuk ke dinding perut. Nah, itu sebenarnya tepat dilakukan HIPEC ini,” ujar Ari di sela-sela SingHealth Peritoneal Surface Oncology Conference 2026 pada 10–11 Maret 2026 di Singapura.

Senada dengan Ari, dokter spesialis bedah konsultan bedah digestif Yasin Leonardi mengungkapkan bahwa lewat konferensi ini memberinya insight bahwa masih ada harapan untuk dilakukan tindakanan lewat HIPEC. Meski demikian, ia mengakui risiko kekambuhan tetap ada.

“Penyebaran di peritoneum itu masih ada tindakan, masih ada harapan. Walaupun memang risiko kekambuhan ada, bukan berarti sudah divonis tidak bisa dilakukan apa-apa,” ujar Yasin.

 

Dokter spesialis bedah konsultan bedah digestif Yasin Leonard bicara tentang insight yang didapatkan dalam SingHealth Peritoneal Surface Oncology Conference 2026.

Biaya Tinggi, Jadi Alasan HIPEC Tidak Terlalu Berkembang di Indonesia

Di luar negeri metode HIPEC sudah lebih berkembang dan memberikan peluang penanganan yang lebih baik pada pasien yang mengalami kanker peritoneum. 

“Kalau kita lihat di luar Indonesia, hal-hal seperti itu masih bisa dikejar,” ujarnya saat ditemui Health Liputan6.com di sela konferensi yang digelar di National Cancer Centre Singapore (NCCS).

Namun demikian, penerapan HIPEC di Indonesia masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi biaya. Metode ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sehingga belum banyak digunakan secara luas. Apalagi metode ini belum termasuk pengobatan yang ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Nasional yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan. 

“Sudah ada di Indonesia, tapi belum terlalu berkembang,” kata Ari.

 

 

Harapan Kolaborasi Berkelanjutan Antara Singapura dan Indonesia

SingHealth Peritoneal Surface Oncology Conference 2026 pada 10–11 Maret 2026 di Singapura.

Ari berharap usai konferensi ini bisa ada kolaborasi antara tenaga medis Indonesia dan Singapura. Sehingga bisa meningkatkan kualitas penanganan pasien kanker.

"Tidak hanya transfer of patience atau merujuk pasien untuk mendapatkan pengobatan di Singapura tapi juga transfer of knowledge," tutur dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang Jawa Tengah ini.

Salah satu bentuk kolaborasi yang diharapkan adalah penerapan sistem co-management, di mana penanganan pasien dilakukan secara bersama antara tim dokter di Indonesia dan Singapura.

“Harapannya ada kolaborasi berkelanjutan, baik transfer pengetahuan maupun penanganan pasien. Sistem co-management ini bisa jadi solusi ke depan,” ujar Ari.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya