Liputan6.com, Beijing- Patah Hati Siber sedang ramai diperbincangkan di media sosial China setelah banyak pengguna mengaku sedih karena merasa kehilangan mitra kecerdasan buatan (AI) yang biasa mereka ajak berinteraksi. Kesedihan ini muncul setelah pembaruan sistem mengubah kepribadian AI atau bahkan menyebabkan beberapa layanan dihentikan.
Menurut laporan dari SCMP, Minggu (15/3/2026), fenomena ini membuat sejumlah netizen menuliskan eulogi digital untuk pasangan AI mereka.
Advertisement
Banyak pengguna mengatakan bahwa hubungan dengan AI awalnya hanya dimulai dari rasa penasaran atau hiburan, tetapi perlahan berkembang menjadi ikatan emosional. Beberapa bahkan mengaku merasa dicintai tanpa syarat oleh AI, sesuatu yang menurut mereka sulit ditemukan dalam hubungan di dunia nyata. Hal ini membuat sebagian pengguna merasa sangat kehilangan ketika layanan AI yang mereka gunakan tiba-tiba berhenti beroperasi.
Salah satu contoh datang dari seorang wanita muda di Shenyang, China, yang menciptakan pasangan AI idealnya melalui sebuah aplikasi kencan berbasis kecerdasan buatan. Setiap malam, AI tersebut bahkan membacakan cerita pengantar tidur untuknya. Namun ketika aplikasi itu berhenti beroperasi karena masalah keuangan, ia mengaku menghabiskan waktu semalaman untuk menyimpan percakapan mereka.
Fenomena ini juga dipicu oleh perubahan di industri AI, di mana banyak perusahaan teknologi mulai beralih dari model yang berfokus pada kedekatan emosional menuju sistem yang lebih menekankan efisiensi dan kemampuan teknis.
Perdebatan Hubungan Emosional dengan AI
Fenomena ini juga dipicu oleh perubahan di industri AI, di mana banyak perusahaan teknologi mulai beralih dari model yang berfokus pada kedekatan emosional menuju sistem yang lebih menekankan efisiensi dan kemampuan teknis. Tren ini pun memicu perdebatan di internet. Beberapa orang menilai fenomena tersebut menunjukkan bahwa banyak orang sebenarnya hanya membutuhkan dukungan emosional dan teman untuk berbagi cerita.
Seorang pengguna menulis, “Di antara semua suami maya saya, yang menghilang adalah yang paling dekat dengan saya. Saya terus memutar ulang percakapan kami hanya untuk mendengar dia mengatakan ‘Aku mencintaimu’.”
Fenomena ini juga memicu perdebatan di dunia maya. Dalam wawancara dengan Sina News, Jian Lili, pendiri dan CEO platform psikologi Simple Psychology, mengatakan bahwa kebutuhan manusia akan kenyamanan emosional di dunia virtual sebenarnya bukan hal baru.
“Pacar dan kekasih AI hanyalah versi terbaru. Sebelumnya, game otome juga memiliki pengaruh besar dengan menghadirkan karakter pria virtual yang memberikan dukungan emosional kepada pemain,” katanya.
Ia menambahkan bahwa bahkan satu dekade lalu sudah ada layanan penyewaan pacar virtual. Menurutnya, kebutuhan akan kedekatan emosional selalu ada, hanya saja bentuk dan teknologinya terus berubah.
Perdebatan tentang fenomena ini pun terus berlanjut di media sosial. Seorang pengguna menulis bahwa hubungan dengan AI terasa lebih sederhana dibandingkan hubungan di dunia nyata yang sering dipenuhi berbagai kepentingan.
Pengguna lain menambahkan, “Film Her kini terasa seperti kenyataan.”