Liputan6.com, Jakarta - Paparan timbal dari cat rumah ternyata bisa menjadi ancaman tersembunyi bagi kesehatan anak. Tanpa disadari, zat logam berat ini dapat masuk ke tubuh anak saat mereka bermain dan bereksplorasi di lingkungan rumah. Dokter spesialis anak, dr. Reza Fahlevi, Sp.A(K) menjelaskan bahwa pada masa eksplorasi, anak-anak berpotensi terpapar berbagai material dari lingkungan sekitar.
Paparan tersebut bisa masuk ke tubuh melalui tangan yang terkontaminasi lalu dimasukkan ke mulut, atau melalui debu yang terhirup. Salah satu sumber paparan yang jarang disadari adalah cat rumah yang mengandung timbal.
Advertisement
Reza mencontohkan, lapisan cat pada dinding yang mengandung timbal dapat mengalami degradasi seiring waktu. Proses ini dapat menghasilkan debu halus yang berpotensi terhirup atau tertelan. Apalagi anak-anak memiliki kebiasaan menyentuh berbagai benda lalu memasukkan tangan ke dalam mulut.
Menurut Reza, lingkungan yang sehat merupakan faktor penting yang tidak bisa dipisahkan dari kesehatan keluarga, terutama dalam melindungi kelompok rentan seperti anak-anak.
Hal ini juga berkaitan erat dengan periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan, masa penting yang menentukan kualitas tumbuh kembang anak.
"Anak-anak itu sering melakukan eksplorasi dengan bermain, dan itu adalah hal yang penting di masa tumbuh kembangnya. Jadi, lingkungan tempat dia melakukan eksplorasi, baik di rumah, playground, maupun di sekolah harus aman," kata Reza.
Dia mengingatkan bahwa yang paling dikhawatirkan adalah akumulasi paparan timbal dalam tubuh. "Dengan kadar yang sama, konsentrasi timbal yang masuk ke tubuh anak bisa lebih besar karena luas permukaan tubuhnya masih kecil dibandingkan orang dewasa," ujarnya.
Timbal sendiri merupakan unsur logam yang secara alami ada di lingkungan. Namun jika paparan terjadi secara berlebihan, zat ini dapat menimbulkan dampak kesehatan. Jika paparan terjadi dalam jangka panjang, timbal dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan.
"Beberapa risiko kesehatan saat timbal ini terakumulasi adalah kerusakan otak yang memengaruhi kecerdasan dan konsentrasi anak. Pada orang dewasa juga dapat menyebabkan kelainan saraf, gangguan ginjal, hipertensi, hingga kerusakan sel darah jika terpapar dalam jumlah tinggi dan waktu lama," tambahnya.
Meski demikian, Reza mengingatkan agar orang tua tidak mengabaikan potensi paparan tersebut.
Kualitas Udara di Dalam Rumah untuk Kesehatan Anak
Hal senada disampaikan arsitek sekaligus urban designer, Adjie Negara. Dia menilai bahwa lingkungan tempat tinggal memiliki peran besar terhadap kesehatan jangka panjang, termasuk kualitas udara di dalam rumah dan material bangunan yang digunakan.
Salah satu yang sering luput dari perhatian adalah potensi paparan timbal dari cat rumah, terutama jika cat tersebut mengandung kadar timbal tinggi.
Menurut Adjie, desain rumah seharusnya tidak hanya berfokus pada estetika. Jangan lupa juga memperhatikan aspek kesehatan.
"Bangunan yang kita buat harus memperhatikan banyak hal, mulai dari penempatan bukaan agar sinar matahari masuk, penghawaan yang baik, sirkulasi silang, hingga keberadaan elemen hijau. Semua itu bukan hanya sumber oksigen, tetapi juga bisa menjadi stress relief yang penting bagi kesehatan mental," kata Adjie.
Selain desain, pemilihan material bangunan juga menjadi faktor yang sangat penting. Material yang bersentuhan langsung dengan penghuni rumah. Baik melalui kulit, udara yang dihirup, maupun air yang digunakan, harus dipastikan aman.
"Memilih material adalah elemen yang sangat penting dalam arsitektur. Apalagi material yang akan bersentuhan langsung dengan manusia. Jika penghuni rumah memiliki sensitivitas tertentu seperti asma, pemilihan material harus lebih diperhatikan," ujarnya.
Paparan timbal di rumah biasanya berasal dari cat yang menggunakan pigmen berbasis timbal atau dari pipa air tertentu. Seiring waktu, lapisan cat tersebut dapat terdegradasi dan menghasilkan debu yang berpotensi terhirup atau tertelan.
Batas Bahaya Timbal Menurut WHO
Untuk meminimalkan risiko paparan, pemilihan material bangunan yang aman menjadi langkah penting.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menggunakan cat berbasis air (water-based paint) yang memiliki kadar bahan berbahaya lebih rendah.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri merekomendasikan batas kandungan timbal dalam cat di bawah 90 ppm, standar yang kini banyak diadopsi secara global.
Di Indonesia, penggunaan material bangunan yang aman juga didukung melalui regulasi Standar Nasional Indonesia (SNI) yang mengatur batas kandungan zat berbahaya dalam cat dekoratif.
Adjie menegaskan bahwa pada dasarnya cat tidak selalu berbahaya. Namun, cat dengan kadar timbal tinggi dapat meningkatkan risiko paparan jangka panjang bagi penghuni rumah.