Liputan6.com, Jakarta - Momentum Ramadan dan Idulfitri kerap diiringi dengan meningkatnya aktivitas transaksi digital masyarakat, mulai dari belanja online, pengiriman uang, hingga berbagai promo musiman. Kondisi ini sering dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk melancarkan berbagai modus penipuan, seperti pesan palsu mengenai paket kiriman, promo belanja, hingga pihak yang mengaku sebagai perwakilan institusi tertentu untuk meminta data pribadi atau kode OTP.
Advertisement
Ancaman penipuan digital juga semakin meningkat seiring pesatnya perkembangan layanan keuangan digital. Modus seperti phishing, social engineering, dan penyalahgunaan data pribadi kini semakin beragam dan sering kali sulit dikenali oleh masyarakat.
Melihat kondisi tersebut, Bank Saqu menghadirkan kampanye Awas Hantu Cyber dengan pendekatan komunikasi yang kreatif melalui personifikasi Hantu Cyber, yang menggambarkan berbagai ancaman digital yang kerap mengintai aktivitas finansial masyarakat di dunia digital.
Melalui pendekatan storytelling yang ringan dan mudah dipahami, Bank Saqu ingin membantu masyarakat mengenali berbagai modus penipuan sekaligus memahami langkah-langkah sederhana untuk melindungi diri.
Chief Digital & Retail Business Officer Bank Saqu Angela Lew Dermawan mengatakan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari upaya Bank Saqu untuk terus mendampingi nasabah agar dapat bertransaksi secara aman di era digital.
“Di dunia digital saat ini, ancaman kejahatan siber sering datang tanpa disadari dan tidak selalu terlihat jelas, tetapi dampaknya bisa sangat nyata bagi masyarakat. Menjelang Idulfitri, ketika aktivitas transaksi digital masyarakat biasanya meningkat, kami ingin mengingatkan nasabah untuk tetap waspada terhadap berbagai modus penipuan. Melalui ‘Awas Hantu Cyber’, Bank Saqu berharap masyarakat dapat lebih memahami cara melindungi diri dan menjaga keamanan data pribadi saat bertransaksi," ungkap dia, Senin (16/3/2026).
Indonesia Alami Ratusan Juta Anomali Trafik Siber
Kampanye Awas Hantu Cyber ini dilatarbelakangi dengan Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang mencatat bahwa Indonesia mengalami ratusan juta anomali trafik siber setiap tahunnya yang berpotensi mengarah pada berbagai serangan digital.
Sementara itu, laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa kerugian masyarakat akibat penipuan digital, termasuk social engineering dan penyalahgunaan OTP, diperkirakan mencapai lebih dari Rp2,5 triliun pada 2024. Laporan industri juga mencatat bahwa sepanjang November 2024 hingga September 2025 terdapat lebih dari 274 ribu laporan penipuan finansial di Indonesia, dengan estimasi kerugian publik mencapai lebih dari Rp6 triliun.
Selain menghadirkan edukasi kepada masyarakat, Bank Saqu juga terus memperkuat sistem keamanan serta meningkatkan upaya perlindungan transaksi digital guna memberikan pengalaman perbankan yang aman bagi nasabah.