DPR Minta Skema FCA dihapus, Begini Respons OJK

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menanggapi permintaan DPR untuk menghapus mekanisme full periodic call auction (FCA).

oleh Tira SantiaDiterbitkan 13 Maret 2026, 16:10 WIB
DPR meminta mekanisme skema perdagangan full periodic call auction (FCA) dihapus. Berikut respons OJK. (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan akan evaluasi kebijakan Papan Pemantauan Khusus (PPK) yang menggunakan skema perdagangan Full Periodic Call Auction (FCA), menyusul adanya permintaan dari DPR agar mekanisme tersebut dihapus.

"Ya kita akan evaluasi, jadi selain mungkin PRnya sosialisasi juga ya,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi  saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (13/3/2026).

Evaluasi dilakukan untuk memastikan kebijakan tersebut tetap relevan dengan kebutuhan pasar. Dia menilai, sejak awal kebijakan ini dibuat dengan tujuan yang baik, yakni memberikan kesempatan kepada investor untuk kembali mengaktifkan perdagangan saham-saham yang selama ini kurang likuid atau tidak aktif di pasar reguler.

Ia menjelaskan, sejumlah saham yang masuk dalam kriteria papan pemantauan khusus sebelumnya mengalami kesulitan untuk diperdagangkan secara normal di papan reguler karena minimnya minat beli dan jual dari investor.

"Peruntukan awalnya sebenarnya tujuannya sangat baik, kita ingin memberikan kesempatan kepada seluruh investor untuk katakanlah membangkitkan atau mengaktifkan kembali saham-saham yang masuk dalam kriteria, termasuk saham yang sebenarnya tidak aktif yang selama ini kesulitan kalau masuk dalam papan yang reguler,” jelasnya.

Dia menuturkan, dengan ada mekanisme khusus tersebut, diharapkan saham-saham tersebut dapat kembali memiliki aktivitas perdagangan sehingga memberi peluang bagi investor untuk bertransaksi secara lebih terstruktur.

Transparansi Mekanisme Perdagangan

IHSG menguat 24,13 poin atau 0,34 persen dibandingkan penutupan sebelumnya pada level 7.196,75. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Salah satu sorotan terhadap papan pemantauan khusus adalah soal transparansi dalam proses pembentukan harga saham. Hasan mengakui mekanisme periodical call auction memang berbeda dengan sistem perdagangan kontinu di papan reguler.

Dalam skema ini, proses pencocokan transaksi tidak terjadi setiap saat, melainkan secara berkala setelah minat beli dan jual terkumpul. Tujuannya adalah untuk memastikan terdapat kekuatan permintaan dan penawaran yang cukup sebelum harga terbentuk.

"Dalam konteks pembentukan harga gitu ya, kebetulan memang kan perlakuannya adalah periodical call gitu ya, sehingga sebetulnya itu dibutuhkan untuk mengumpulkan kembali minat jual dan beli dari peminat yang sebelumnya kurang untuk saham tertentu. Jadi, kalau dilakukan continue tentu tidak tercipta tuh kekuatan beli dan jual yang cukup,” jelasnya.

Meski demikian, OJK membuka kemungkinan peningkatan transparansi dalam sistem tersebut, misalnya dengan menghadirkan indikator seperti indicative best bid dan best offer agar investor dapat melihat gambaran minat pasar sebelum transaksi terjadi.

 

BEI Review Perdagangan FCA pada Kuartal II 2026

Nilai transaksi hingga akhir perdagangan pada Selasa (8/4/2025) mencapai Rp 20,41 triliun dengan melibatkan 22,65 miliar saham dalam 1,43 juta kali transaksi. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Sebelumnya, sistem perdagangan saham dengan skema Full Call Auction (FCA) akan dievaluasi pada kuartal II 2026. Hal ini sebagai bagian dari agenda reformasi pasar modal Indonesia oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Demikian disampaikan Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, seperti dikutip dari Antara, Minggu (22/2/2026).

Adapun FCA merupakan suatu mekanisme perdagangan saham yang order beli dan jual akan dikumpulkan selama periode tertentu, kemudian dieksekusi secara bersamaan pada satu harga yang ditentukan. Adapun, harga didasarkan pada titik keseimbangan antara permintaan dan penawaran.

"Sesuai seluruh kebijakan, kami melakukan review secara periodik, FCA juga termasuk yang kami review. Kami melihat ada ruang untuk penyempurnaan atau perbaikan,” kata dia.

Jeffrey menuturkan, peningkatan transparansi data termasuk granularitas kepemilikan saham dan penyesuaian aturan free float menjadi 15 persen, berpotensi mengubah kebutuhan terhadap sebagian kriteria yang selama ini digunakan sebagai dasar penempatan emiten di papan pemantauan khusus.

Dengan demikian, agenda reformasi pasar modal tersebut juga mendorong perlunya dilakukan penyesuaian terhadap sistem perdagangan saham dengan skema FCA.

"Dengan transparansi yang lebih tinggi, tentu dampaknya signifikan. Perlu dilihat lagi apakah sebagian atau seluruh kriteria papan pemantauan khusus itu masih diperlukan,” tutur Jeffrey.

Terkait kemungkinan perubahan mekanisme perdagangan bagi saham yang masuk kategori FCA, Jeffrey menyatakan terbukanya opsi pergeseran dari sistem auction kembali ke continuous trading.

"Jadi auction? Jadi continuous lagi? Sangat mungkin. Tapi poinnya, FCA akan di review. Prosesnya sedang berjalan,” ujar Jeffrey.

Jeffrey melanjutkan, bahwa arah penyesuaian sistem perdagangan saham dengan skema FCA lebih condong pada penyederhanaan, bukan penambahan.

"Most likely pengurangan, tidak akan ada penambahan,” ujar Jeffrey.

 

 

Fokus BEI

Sebelumnya, sepanjang Senin (9/2/2026), pergerakan IHSG diwarnai penguatan 433 saham. Sementara, 252 saham melemah dan 136 lainnya stagnan. Tampak dalam foto, layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta pada Senin 9 Februari 2026. (BAY ISMOYO/AFP)

Adapun mekanisme detail, termasuk terkait format auction tetap dipertahankan atau diganti, Ia menuturkan masih dalam tahap pembahasan di internal BEI.

“Itu nanti kita review, dan akan kami sampaikan selanjutnya,” kata Jeffrey.

Jeffrey menargetkan proses review sistem perdagangan saham dengan skema FCA akan dilakukan pada kuartal II-2026.

Untuk saat ini, pihaknya masih berfokus terhadap pengembangan pasar modal dalam rangka menindaklanjuti concern penyedia indeks global seperti FTSE Russell dan MSCI.

“Saat ini kami masih fokus pada pengembangan yang terkait FTSE dan MSCI. Review FCA mungkin secepat-cepatnya dilakukan pada kuartal II,” ujar Jeffrey.

Jeffrey memastikan BEI dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan terus bekerja menyelesaikan seluruh rangkaian reformasi, termasuk pembenahan efektivitas perdagangan, peningkatan kualitas likuiditas, serta perlindungan investor.

“Kami akan bekerja terus untuk itu,” tutur Jeffrey.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya