Puasa Titik Awal Pola Makan Ideal, Tetap Konsumsi Sehat meski Sudah Tak Ramadan

Kebiasaan makan sehat selama puasa bisa didaptasi di kehidupan setelah Ramadan.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 13 Maret 2026, 19:35 WIB
Jadikan Puasa Titik Awal Pola Makan Ideal, Tetap Terapkan Konsumsi Sehat Meski Sudah Tak Ramadan. Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin.

Liputan6.com, Jakarta - Puasa dapat dijadikan titik awal untuk membiasakan pola makan ideal. Kebiasaan makan sehat selama Bulan Suci bisa dilanjutkan meski Ramadan telah usai.

Guru Besar Ilmu Gizi IPB University, Profesor Hardinsyah mengatakan, pola makan setelah menjalani puasa Ramadan cenderung berubah dibandingkan kebiasaan sehari-hari. Maka dari itu, ia menekankan pentingnya menjadikan puasa sebagai titik awal membangun pola makan ideal yang berkelanjutan, baik dari sisi kesehatan maupun spiritual.

“Puasa harus dijadikan momentum untuk melakukan detoksifikasi tubuh. Masyarakat dapat menjadikan puasa sebagai patokan pola makan ideal secara spiritual dan gizi,” ujar Hardinsyah mengutip keterangan resmi, Sabtu (14/3/2026).

Ia menjelaskan, pengaturan pola makan pascapuasa dapat diterapkan dengan pendekatan yang mirip intermittent fasting, yakni membatasi asupan dari segi jumlah, jenis, dan waktu makan. Pola ini diharapkan mampu membantu menurunkan lemak tubuh serta menekan risiko penyakit metabolik seperti diabetes.

Menurut Hardinsyah, konsistensi menjadi tantangan utama dalam mempertahankan pola makan sehat setelah Ramadan. Perubahan pola pikir dan tekad kuat sangat dibutuhkan, terutama ketika kembali pada rutinitas harian.

“Untuk mempertahankan pola makan ideal ini membutuhkan mindset dan tekad yang kuat. Setelah bulan puasa, ujiannya akan lebih serius untuk mengubah mindset. Biasakan diri dengan intermittent fasting dan mempraktikannya tanpa mengharapkan pahala,” jelasnya.

Transisi Pola Makan Sehat Setelah Ramadan

Transisi pola makan sehat dapat dimulai dengan membiasakan sarapan pagi untuk menekan risiko kolesterol. Selanjutnya, makan siang dapat dilewatkan atau dikurangi porsinya, disertai kebiasaan mencukupi kebutuhan air putih dan berolahraga pada sore hari.

Ia juga mengingatkan agar konsumsi makanan berlemak, manis, dan instan dikendalikan. Kebiasaan ini dapat terus dilatih, termasuk saat menjalankan puasa Syawal, ketika godaan berbagai hidangan kerap meningkat.

“Nafsu untuk memakan makanan berlemak dan manis serta makanan instan juga dikurangi. Kebiasaan ini bisa dilatih saat puasa Syawal,” tuturnya.

Siasati dengan Buah Segar

Sebagai alternatif, Hardinsyah menyarankan konsumsi buah-buahan segar untuk membantu menekan keinginan mengonsumsi makanan tinggi lemak dan gula. Buah dinilai mampu memenuhi kebutuhan energi sekaligus menyediakan serat dan vitamin.

Selain itu, pengaturan jenis dan porsi makanan juga perlu diperhatikan, dengan memperbanyak protein dibandingkan karbohidrat, menyesuaikan kebutuhan masing-masing individu, seperti anak-anak dan ibu hamil.

“Kalau berat badan menurun, menjadi berat badan normal, maka harus dipertahankan. Ketika setelah dua minggu kemudian terasa lingkar pinggang bertambah maka pola makan harus kembali disesuaikan,” pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya