Liputan6.com, Jakarta - Musim mudik 2026 bertepatan dengan kenaikan kasus campak di Indonesia. Guna melindungi anak di momen pulang kampung, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso mengimbau orang tua untuk melengkapi imunisasi campak anak.
“Situasi seperti sekarang ini, KLB (kejadian luar biasa) campak di mana-mana, saya kira momen Lebaran ini juga perlu silaturahim tetap harus. Tetapi mungkin penjagaan kesehatan, terutama bayi dan anak-anak kecil, toddler kita itu juga perlu kita lakukan dengan baik,” kata Piprim saat ditemui di Jakarta Timur, Kamis (12/3/2026).
Advertisement
“Yang paling aman sebetulnya kalau balita atau bayi yang sudah saatnya diimunisasi, dilengkapi dulu imunisasinya, sebelum nanti ketemu dengan orang banyak karena itu salah satu ikhtiar yang juga penting buat anak-anak kita,” imbuhnya.
Imunisasi campak sebelum mudik menjadi hal penting lantaran campak adalah penyakit yang sangat menular.
“Apalagi Lebaran itu ketemu banyak orang ya. Sudah saatnya para orang tua melindungi baik-baik, bayinya ya terutama (kontak) dari orang yang tidak dikenal ya, apalagi kalau di kerumunan, itu memang mesti wajib waspada. Kita memang agak jadinya paranoid sama orang ya, tetapi saya kira mungkin itu demi penjagaan,” katanya.
Penjagaan kontak anak dengan orang lain di momen Lebaran diperlukan karena anak kerap dicium atau disentuh oleh orang lain. Perlindungan imunisasi bisa menjadi salah satu upaya meningkatkan imunitas buah hati terutama saat menghadapi momen Lebaran.
Tak Disarankan Bawa Anak Mudik dengan Sepeda Motor
Piprim kemudian memberikan beberapa tips sehat bagi anak selama perjalanan Mudik. Salah satu yang ia garisbawahi adalah mengupayakan untuk tidak membawa anak dengan motor dalam perjalanan jauh.
“Usahakan jangan bawa anak pakai motor. Itu agak mengerikan sih, apalagi berjam-jam nanti kalau anaknya ngantuk dan sebagainya. Kalau terpaksa pakai motor ya bapaknya aja atau orang dewasa, ibu dan anaknya sih pakai kendaraan lain agar lebih aman,” imbaunya.
Mengupayakan anak mudik dengan kendaraan yang aman dan nyaman juga dapat berpengaruh pada kesehatannya selama perjalanan.
“Anak itu butuh istirahat lebih lama dari orang dewasa kan kita tahu jam tidurnya anak itu kan lebih lama dari orang dewasa. Oleh karena itu, kalau pakai kendaraan pribadi, disiapkan car seat (dudukan mobil) yang nyaman biar bisa tidur nyenyak. Supaya perjalanan itu tidak membuat imunnya turun karena dia butuh tidur cukup selama perjalanan,” ujarnya.
Tak lupa, asupan cairan harus dicukupi. Anak-anak perlu minum cukup agar tidak dehidrasi. Termasuk obat-obatan tertentu tak boleh tertinggal. Misalnya, obat demam, obat diare, obat gigitan serangga dan obat P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan) lainnya.
Mudik Ramah Anak 2026
Senada dengan Piprim, Komisi Perlindungan Anak Indonesia menilai perjalanan mudik Lebaran perlu memerhatikan keselamatan dan kenyamanan anak. Mengingat tingginya mobilitas masyarakat serta berbagai risiko yang dapat dialami anak selama perjalanan.
KPAI mengungkap, setiap tahun, perjalanan mudik masih menyisakan berbagai risiko bagi anak. Mulai dari kecelakaan lalu lintas, kelelahan perjalanan, hingga anak terpisah dari orang tua di titik-titik keramaian, serta potensi kekerasan di ruang publik yang padat mobilitas masyarakat.
KPAI menegaskan bahwa anak tidak boleh menjadi korban dari praktik perjalanan mudik yang mengabaikan aspek keselamatan. Momentum mudik seharusnya menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi anak. Maka, seluruh pihak perlu memastikan perjalanan yang aman, sehat, dan nyaman sehingga anak terlindungi dari berbagai risiko selama perjalanan.
Karena itu, KPAI menyerukan penguatan gerakan Mudik Ramah Anak dengan semangat: “Semua Aman, Semua Nyaman, Semua Terlindungi.”
“Anak merupakan kelompok paling rentan dalam perjalanan mudik. Karena itu negara, masyarakat, dan keluarga harus memastikan setiap anak yang melakukan perjalanan mudik berada dalam kondisi aman, nyaman, dan terlindungi,” kata Komisioner KPAI Aris Adi Leksono dalam keterangan pers, Rabu (11/3/2026).
Keselamatan Anak Harus Jadi Perhatian Utama
Perlindungan anak dalam mobilitas masyarakat seperti mudik menjadi sangat penting mengingat jumlah anak di Indonesia yang sangat besar. Berdasarkan data kependudukan, pada 2025, jumlah anak Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 79,8 juta jiwa atau sekitar 28,65 persen dari total populasi. Jumlah ini menunjukkan bahwa anak merupakan bagian signifikan dari masyarakat Indonesia sehingga kebutuhan dan keselamatan mereka harus menjadi perhatian utama dalam setiap kebijakan publik, termasuk dalam penyelenggaraan transportasi dan fasilitas publik selama masa mudik.
Di sisi lain, perkembangan teknologi juga menunjukkan bahwa anak semakin aktif dalam ruang digital. Survei menunjukkan sekitar 81,52 persen anak usia 7–17 tahun telah menggunakan telepon seluler, dan sekitar 55,94 persen aktif mengakses internet, sebagian besar untuk hiburan dan media sosial.
"Situasi ini menunjukkan bahwa perlindungan anak harus dilakukan secara menyeluruh di berbagai ruang kehidupan anak, termasuk ruang publik dan mobilitas sosial seperti perjalanan mudik," tambahnya.