Faktor Risiko Kanker pada Remaja dan Dewasa Muda, Ketahui Sebelum Terlambat

Tiap tahun ada 400-500 kelompok usia produktif yakni remaja dan dewasa muda terkonfirmasi kanker di National Cancer Centre Singapore.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 11 Maret 2026, 07:00 WIB
Remaja dan dewasa muda juga bisa kena kanker /unsplash

Liputan6.com, Singapura - Kanker seringkali dianggap penyakit orang tua atau lanjut usia, tapi kenyataannya remaja dan dewasa muda (adolescent and young adult) juga bisa terkena penyakit ini. Lalu, apa faktor risiko yang membuat kelompok yang sedang dalam usia produktif ini terkena kanker?

"Itu pertanyaan yang sangat menarik dan pertanyaan bernilai tinggi jika kita bisa menjawabnya (sangat berharga bagi pencegahan dan deteksi dini kanker pada kelompok usia muda," tutur dokter Poon Yi Ling Eileen dari Divisi Onkologi Medik National Cancer Centre Singapore (NCCS).

Meski begitu, ada faktor risiko yang bisa meningkatkan kemungkinan remaja dan dewasa muda terkena kanker. Pertama, riwayat keluarga. "Mereka yang memiliki riwayat keluarga (dengan kanker) maka mungkin bisa terkena kanker," tutur Poon kepada Liputan6.com dan jurnalis dari beberapa negara Asia lainnya di NCCS pada Selasa, 10 Maret 2026.

Namun, bagi banyak pasien lain yang di keluarga tidak ada riwayat kanker bisa jadi karena faktor risiko lain seperti pola makan yang mengandung karsinogen atau zat pemicu kanker.

Kemudian, perokok dan perokok pasif juga memiliki kemungkinan terkena kanker. Seperti diketahui rokok mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia, dengan 70 di antaranya bersifat karsinogenik (pemicu kanker). Salah satu zat yang bisa memicu kanker adalah tar.

Keempat, berat badan berlebih. "Jenis kanker tertentu juga berhubungan dengan berat badan (berat badan berlebih bahkan obesitas)."

Terakhir, Poon berbicara tentang hal yang tidak bisa dikontrol, "Dan, ada kemungkinan karena nasib buruk semata."

Kasus Kanker pada Remaja dan Dewasa Muda di Singapura

Dokter onkologi medis Poon Yi Ling Eileen dari National Cancer Centre Singapore (NCCS) bicara tentang pasien kanker remaja dan dewasa muda. (Foto: Dok SingHealth)

Poon mengungkapkan kanker pada usia remaja dan dewasa muda berjumlah 5-7%. Bila merujuk data di National Cancer Centre Singapore, tiap tahun ada 400-500 remaja dan dewasa muda yang didiagosis kanker. Lalu, rentang tahun 2018 hingga 2021, setidaknya ada 6.000 pasien kanker usia remaja dan dewasa muda yang berobat di rumah sakit pemerintah Singapura itu.

"Itu baru di sini, belum rumah sakit pemerintah lain dan swasta yang ada di Singapura," lanjut dokter yang memiliki minat pada Adolescent and Young Adult Oncology (AYAO) ini.

Meskipun kanker pada AYAO masih jarang terjadi, tapi memengaruhi produktivitas mengingat mereka yang berusia 15 hingga 39 merupakan kelompok produktif.

"Karena ketika kita berbicara tentang 5 persen populasi dari kelompok usia ini, kita berbicara tentang 5 persen dari populasi yang seharusnya secara aktif berkontribusi kepada masyarakat," tutur Poon.

Pada usia tersebut, banyak yang masih sekolah, meraih cita-cita, bekerja dan berkeluarga. "Hal ini juga erat kaitannya dengan fertilitas, seperti diketahui kemoterapi pada pengobatan kanker bisa memengaruhi kesuburan," tuturnya.

Kanker yang menyerang kelompok usia ini seperti kanker payudara, leukemia, limfoma, sarkoma jaringan lunak, melanoma, dan tumor sistem saraf pusat.

Gencarkan Edukasi Kanker di Usia Remaja dan Dewasa Muda

Guna meningkatkan awaraness, Poon bersama tim membentuk konsorsium internasional tentang Adolescent and Young Adult Oncology (AYAO).

"Pada dasarnya kami ingin mencoba untuk meningkatkan kesadaran pada kelompok pasien usia ini," tuturnya.

Lalu, NCCS juga bekerja sama dengan komunitas seperti Singapore Cancer Society dan organisasi nirlaba lain untuk membantu menyebarkan edukasi mengenai kanker pada remaja dan anak muda.Tak ketinggalan, remaja dan anak muda juga jadi target edukasi mengenai gejala kanker.

"Jadi, jika ada gejala yang berlanjut satu hingga delapan minggu, sesuatu yang muncul padahal seharusnya tidak, nah harus cari tahu. Cek ke dokter," pesan Poon.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya