Liputan6.com, Singapura - Liputan6.com berkesempatan bertemu dengan dokter onkologi medik yang juga geneticist (ahli genetika) Chiang Jianbang dari National Cancer Centre Singapore (NCCS).
Dalam pertemuan di NCCS pada Selasa, 10 Maret 2026, Chiang mengungkapkan bahwa sebagai dokter onkologi medik ia kerap mendapatkan pasien dengan kanker stadium lanjut.
Advertisement
"Sebagian besar pasien ketika menemui saya sudah stadium empat, sehingga perawatan apapun yang saya lakukan bertujuan paliatif (fokus pada kualitas hidup pasien seperti nyaman bukan kesembuhan)," tutur Chiang.
Namun, Chiang mengungkapkan bahwa saat ini dunia kedokteran makin maju. Ada salah satu upaya proaktif yang bisa dilakukan untuk mendeteksi risiko sindrom kanker herediter atau kanker yang diwariskan secara genetik terjadi ketika mutasi gen menyebabkan kanker diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
"Lewat tes ini, kita bisa mengidentifikasi pasien berisiko tinggi, lalu mengawasi mereka dan bila terjadi kanker bisa dideteksi saat stadium nol atau satu. Sehingga tidak sampai stadium 4," tuturnya.
Namun, tes genetik bukan untuk semua orang. Biasanya, dokter merekomendasikan tes ini bagi pasien kanker dan mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker seperti kanker payudara, ovarium. Bahkan sarkoma, karsinoma sel ginjal, kanker ginjal juga memiliki komponen herediter.
Dengan melakukan tes, pasien dan keluarga jadi bisa berjaga-jaga, menjalani pemeriksaan rutin lebih intensif, dan mengambil langkah pencegahan lebih dini.
Chiang bercerita bahwa saat ia bersama pasien kanker, ia tak hanya memikirkan pasien tersebut tapi juga keluarganya. "Ketika merawat pasien kanker, saya juga memikirkan bagaimana saya bisa menjangkau keluara yang terkena sindrom kanker herediter," tuturnya.
Proses Tes Genetik Risiko Kanker Herediter
Dalam melakukan tes genetika, maka empat langkah yang dilalui yakni bertemu konselor genetik untuk konseling pra-test dan pos-test. Hal ini perlu dilakukan karena implikasi klinis, psikososial, etis, dan hukum yang terkait dengan pengujian genetik. Maka pasien yang mempertimbangkan pengujian tersebut harus menerima konseling genetik pra-tes dan pasca-tes dari spesialis genetika/konselor genetik.
Konseling genetik bertujuan untuk menyederhanakan informasi genetik yang kompleks, menjelaskan implikasi hasil tes genetik, mengatasi kekhawatiran, dan mendiskusikan hasil tes sambil mendorong pengambilan keputusan yang tepat.
Langkah selanjutnya mendapatkan persetujuan tes. Ketiga, pengumpulan sampel.
Sampel yang digunakan untuk mengetahui risiko kanker adalah darah. Namun, pada pasien anak bisa dengan buccal sample (mengambil sel yang ada di pipi bagian dalam dengan cara swab).
"Namun buccal sample bukan pilihan pertama, kami memilih sampel darah sebisa mungkin karena kontaminasi paling sedikit," tuturnya.
Kemudian sampel darah diperikas. Lalu, pasien akan membuat janji temu untuk membacakan hasilnya. "Beberapa gen dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal dan rahim, sementara gen lain dapat meningkatkan risiko kanker ginjal. Jadi, dengan mengindentifikasi gen, kemudian dapat mengidentifikasi kanker apa yang berisiko pada pasien ini," jelasnya.