7 Rekomendasi Usaha Ternak yang Cocok untuk Orang Tua di Desa, Masa Tua Produktif

Temukan beragam pilihan usaha ternak yang cocok untuk orang tua di desa, menawarkan aktivitas produktif, potensi penghasilan tambahan, dan perawatan mudah di ma

oleh Fitriyani Puspa SamodraDiterbitkan 10 Maret 2026, 19:00 WIB
Dibantu salah satu masyarakat sekitar, Aceng Busyrol tengah memberikan pakan ikan pada budidaya ikan lele secara Biofok di pesantren Al-Hidayah Nangoh, Garut, Jawa Barat. (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Liputan6.com, Jakarta - Menjalani masa tua di desa merupakan dambaan bagi banyak orang karena suasananya yang tenang, asri, dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Namun, berdiam diri tanpa aktivitas tentu bisa membosankan, sehingga mencari kesibukan yang bermanfaat sekaligus menghasilkan secara finansial menjadi pilihan bijak. Salah satu opsi yang paling realistis dan menjanjikan adalah mencari usaha ternak yang cocok untuk orang tua di desa guna mengisi waktu luang dengan kegiatan positif.

Aktivitas beternak di lingkungan pedesaan memiliki keuntungan tersendiri, mulai dari ketersediaan lahan yang masih luas hingga kemudahan akses pakan alami dari alam sekitar. Bagi orang tua, jenis ternak yang dipilih sebaiknya tidak memerlukan tenaga fisik yang terlalu besar namun tetap memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Dengan pengelolaan yang tepat, hobi memelihara hewan ini bisa bertransformasi menjadi sumber penghasilan tambahan yang sangat stabil bagi keluarga.

Liputan6.com ini akan mengulas berbagai pilihan hewan ternak yang memiliki karakteristik perawatan mudah, masa panen relatif singkat, dan risiko yang terkendali. Merujuk pada berbagai sumber terpercaya mengenai potensi ekonomi pedesaan, berikut adalah beberapa rekomendasi usaha yang bisa segera dimulai di halaman rumah atau lahan terbatas. Selasa (10/3/2026).

1. Ternak Ayam Petelur

Jenis Ayam Petelur Rumahan yang Cepat Bertelur. (Foto: AI)

Kebutuhan akan telur sebagai bahan pokok harian menjadikan bisnis ini tidak pernah sepi peminat. Bagi orang tua, ayam petelur sangat cocok karena aktivitas utamanya hanya berkisar pada pemberian pakan dan pengambilan telur setiap pagi. Menurut sumber dari lenteradesa.id, ayam petelur bisa mulai dipelihara sejak usia 2-3 bulan hingga siap berproduksi secara rutin.

2. Budidaya Ikan Lele di Kolam Terpal

Jika lahan yang dimiliki terbatas, ternak lele adalah solusinya. Mengutip laman desabandongan.magelangkab.go.id, ikan lele memiliki daya tahan tubuh yang kuat dan tidak mudah mati. Orang tua bisa memanfaatkan kolam terpal di samping rumah agar tidak perlu sering bepergian jauh. Masa panennya pun singkat, yakni kurang dari dua bulan dengan harga jual yang cukup stabil di pasar.

3. Ternak Kambing

Beternak kambing sudah menjadi tradisi turun-temurun di desa sebagai "tabungan" masa depan. Usaha ini menjanjikan keuntungan besar, terutama menjelang Hari Raya Iduladha. Perawatannya relatif mudah karena pakan hijau-hijauan melimpah di desa. Selain dagingnya, kambing tertentu juga bisa dimanfaatkan susunya untuk nilai jual tambahan.

4. Budidaya Burung Puyuh

Seorang pria menunjukkan telur burung puyuh di sebuah peternakan di Kota Khan Younis di Jalur Gaza selatan (5/11/2020). Meningkatnya permintaan daging burung puyuh berkat harganya yang murah membantu mendongkrak penjualan unggas itu di Jalur Gaza selama pandemi COVID-19. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Burung puyuh adalah opsi usaha ternak yang cocok untuk orang tua di desa karena ukuran hewannya kecil dan tidak memerlukan kandang yang luas. Omzet dari penjualan telur puyuh cukup menjanjikan, yakni sekitar Rp3 juta per bulan untuk skala rumah tangga menengah. Burung ini sudah mulai produktif bertelur pada usia 35 hingga 50 hari.

5. Ternak Bebek (Pedaging atau Petelur)

Bebek memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat dibandingkan ayam broiler terhadap serangan penyakit. Orang tua di desa bisa memilih bebek petelur jika ingin mendapatkan penghasilan harian, atau bebek pedaging jika ingin hasil yang lebih cepat (sekali panen). Potensi keuntungannya pun besar; satu ekor bebek mampu menghasilkan satu butir telur per hari yang harganya relatif lebih mahal dari telur ayam biasa.

6. Budidaya Lebah Madu

Bagi orang tua yang menyukai ketenangan, ternak lebah madu adalah pilihan yang sangat menarik. Usaha ini tidak membutuhkan tenaga fisik untuk membersihkan kandang atau mencari pakan secara manual, karena lebah akan mencari nektar sendiri dari tanaman di sekitar desa. Selain menghasilkan madu yang berkhasiat untuk kesehatan, nilai jual madu asli sangatlah tinggi di pasaran.

7. Ternak Jangkrik

Jangkrik yang hampir siap panen di peternakan jangkrik Yugo Yunianto di Menden, Kebonarum, Klaten (Foto: Liputan6.com/Ibrahim Hasan)

Meningkatnya jumlah pecinta burung kicau membuat permintaan akan jangkrik sebagai pakan terus meroket. Ternak jangkrik tidak membutuhkan modal besar dan bisa dilakukan di dalam ruangan menggunakan kotak-kotak kayu kecil. Perawatannya sederhana, cukup dengan menjaga kelembapan dan memberikan pakan berupa sayuran atau dedaunan.

 

FAQ Seputar Usaha Ternak

1. Apa jenis ternak yang paling cepat menghasilkan uang?

Ternak ayam broiler pedaging dan ikan lele adalah yang tercepat. Keduanya bisa dipanen dalam waktu kurang dari dua bulan. Jangkrik juga termasuk yang sangat cepat karena siklus hidupnya yang pendek.

2. Berapa modal minimal untuk memulai usaha ternak skala rumahan?

Untuk jenis ternak kecil seperti jangkrik atau burung puyuh, modal awal bisa dimulai dari kisaran Rp300.000 hingga Rp500.000 untuk pembelian bibit dan wadah sederhana.

3. Apakah usaha ternak di desa memerlukan izin khusus?

Untuk skala rumahan atau kecil-kecilan (hobi produktif), biasanya tidak memerlukan izin rumit. Namun, tetap penting untuk menjaga kebersihan agar bau limbah tidak mengganggu tetangga sekitar.

4. Bagaimana cara mengatasi risiko kematian hewan ternak?

Pencegahan adalah kunci utama. Pastikan sirkulasi udara kandang baik, pemberian vaksin atau vitamin rutin sesuai jenis hewannya, serta menjaga kebersihan pakan dan air minum.

5. Di mana saya bisa menjual hasil ternak di desa?

Hasil ternak bisa dijual langsung ke pengepul (tengkulak) yang biasanya berkeliling desa, pasar tradisional setempat, atau ditawarkan langsung ke tetangga dan pengusaha rumah makan di sekitar lokasi.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya