BI Ramal Penjualan Ritel Naik 6,9% saat Ramadan

Penjualan ritel diprediksi meningkat pada Februari 2026. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan 6,9% seiring lonjakan konsumsi masyarakat menjelang Ramadan.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 10 Maret 2026, 14:45 WIB
Masyarakat menengah lebih suka berbelanja di pasar ritel, Jakarta, Jumat (7/7/2023). (merdeka.com/imam buhori)

Liputan6.com, Jakarta - Kinerja penjualan eceran di Indonesia diperkirakan meningkat pada Februari 2026, seiring naiknya konsumsi masyarakat menjelang Ramadan dan persiapan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 Hijriah.

Hal tersebut tercermin dari hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) yang dirilis Bank Indonesia. Dalam survei tersebut, Indeks Penjualan Riil (IPR) Februari 2026 diprakirakan tumbuh 6,9% secara tahunan (year on year/yoy).

"Peningkatan ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Januari 2026 yang tercatat sebesar 5,7% yoy," jelas Direktur Eksekutif Departemen KomunikasiBank Indonesia Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan tertulis, Selasa (10/3/2026).

Kenaikan kinerja penjualan ritel terutama didorong oleh meningkatnya penjualan pada beberapa kelompok barang. Di antaranya kelompok suku cadang dan aksesori kendaraan, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta subkelompok sandang yang mengalami peningkatan permintaan menjelang Ramadan.

Selain meningkat secara tahunan, penjualan eceran juga diperkirakan naik secara bulanan. Pada Februari 2026, IPR diprediksi tumbuh 4,4% secara bulanan (month to month/mtm).

Kenaikan tersebut terjadi setelah pada Januari 2026 penjualan ritel sempat mengalami kontraksi 2,7% mtm, seiring normalisasi konsumsi masyarakat setelah periode libur Natal dan Tahun Baru.

 

Tekanan Inflasi Diperkirakan Turun Usai Lebaran

BPKN melakukan kunjungan 22 pasar tradisional dan ritel di Jabodetabek untuk langsung melakukan pengawasan serta penggunaan Qris dimana pemerintah mengeluarkan kebijakan yang memudahkan konsumen. (merdeka.com/imam buhori)

Dari sisi harga, Bank Indonesia memperkirakan tekanan inflasi dalam tiga bulan ke depan, yakni pada April 2026, akan cenderung menurun.

Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) April 2026 yang diperkirakan berada di level 153,9, lebih rendah dibandingkan IEH pada Maret 2026 yang tercatat 175,7. Penurunan ini dipengaruhi oleh normalisasi harga setelah periode Idulfitri.

Namun demikian, dalam jangka waktu enam bulan mendatang tekanan harga diperkirakan kembali meningkat.

Bank Indonesia mencatat IEH Juli 2026 diprakirakan mencapai 157,1, sedikit lebih tinggi dibandingkan IEH Juni 2026 yang berada di level 156,3.

Kenaikan tersebut diperkirakan dipicu oleh meningkatnya permintaan barang dan jasa pada periode tahun ajaran baru, yang biasanya mendorong kenaikan harga sejumlah kebutuhan masyarakat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya