Deretan Bintang Chanel di Paris Fashion Week 2026, dari Jennie hingga Margot Robbie

Matthieu Blazy meluncurkan koleksi siap pakai Chanel di Paris Fashion Week 2026 yang diramaikan dengan sederet bintang, termasuk Jennie Kim dan Teyana Taylor.

oleh Dinny MutiahDiterbitkan 10 Maret 2026, 07:00 WIB
Jennie Kim alias Jenni BLACKPINK di show Koleksi Chanel Musim Gugur/Musim Dingin 2026-2027 untuk Wanita dipresentasikan di Paris, Senin, 9 Maret 2026. (dok. GEOFFROY VAN DER HASSELT / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Seperti biasa, show Chanel menarik perhatian dunia, termasuk yang digelar di sela Paris Fashion Week 2026 pada Senin malam, 9 Maret 2026. Para bintang memenuhi barisan depan dengan gaya masing-masing. Salah satu yang paling mencuri perhatian, bahkan sejak sebelum show utama dilaksanakan, adalah Jennie Kim alias Jennie BLACKPINK.

Pelantun lagu Like Jennie itu duduk di barisan depan dengan atasan jala berhiaskan manik-manik hijau dan kemeja yang dikenakan di atas pakaian dalam berwarna hitam. Ia menata rambutnya bun rapi dengan anting bulat dengan permata ruby dan tas tangan warna merah. 

Tapi, WWD secara khusus menyoroti sepatu yang dikenakannya. Dikutip Selasa (10/3/2026), sepatu bergaya pump yang unik itu sebenarnya diperkenalkan pertama kali dalam koleksi musim semi 2026 pada musim gugur lalu. Sepatu berwarna krem dan hitam memiliki trim di sepanjang bagian atas yang mengalir menjadi garis vertikal di bagian depan. Gaya ini juga dipotong lebih tinggi daripada pump biasa dan memiliki garis luar segitiga, bukan melengkung. 

Bersama dengan Jennie, hadir pula Teyana Taylor. Pemenang Golden Globes 2026 itu semakin eksis di berbagai pertunjukan mode dunia. Kali ini, ia mengenakan gaun bermotif yang kompleks, dikombinasikan dengan jas hujan transparan berhias ornamen merah. 

Taylor memadankan busananya dengan sepatu bergaya pump slingback berujung runcing. Sepatu itu memiliki tali slingback klasik dengan gesper dan tumit meruncing. Bagian atasnya dipotong di samping, menjadikannya sepatu pump yang lebih terbuka. Sepatu berujung putih itu kontras dengan warna hitam di bagian belakang, dihiasi dengan logo Chanel yang saling bertautan.

Teyana Taylor di show Koleksi Chanel Musim Gugur/Musim Dingin 2026-2027 untuk Wanita dipresentasikan di Paris, Senin, 9 Maret 2026. (dok. AP Photo/Tom Nicholson)

Gaya Lily-Rose Depp dan Margot Robbie

Lily-Rose Depp dan Margot Robbie di show Koleksi Chanel Musim Gugur/Musim Dingin 2026-2027 untuk Wanita dipresentasikan di Paris, Senin, 9 Maret 2026. (dok. AP Photo/Tom Nicholson)

Lily-Rose Depp juga menjadi salah satu tamu barisan depan show Chanel. Ia hadir dengan sepatu Chanel rancangan Direktur Kreatif Chanel Mathieu Blazy, yakni sepatu pump d'Orsay berwarna krem dengan ujung putih dan tali di sekitar pergelangan kaki. Ujung sepatu itu berbentuk berlian dan bagian belakang sepatu menampilkan aksen putih bersudut. 

Sepatu itu melengkapi gaun motif leopard, lengkap dengan hiasan telingan kucing yang diincarnya sejak pertama kali muncul di pertunjukan Métiers d’Art di New York pada Desember 2025. "Saya pikir itu sangat luar biasa, dan saya terobsesi dengannya sejak saat itu," kata aktris yang menggambarkan dirinya sebagai pecinta kucing.

Margot Robbie melengkapi deretan bintang show Chanel dengan busana semi-transparannya, yakni perpaduan tank top berleher bulat dan celana panjang lurus berwarna biru keabu-abuan. Bintang dan produser film Wuthering Heights itu juga menampilkan gaya rambut bob dan poni baru di acara tersebut.

Ia menggenapi penampilannya dengan sepasang sepatu hak dua warna, yang juga menghadirkan kembali estetika sepatu berujung putih. Dengan bermain-main dengan proporsi, aksen ujung sepatu hitam relatif sempit dan semakin menipis di sekitar sisi sepatu.

Inspirasi Koleksi Ready-to-wear Chanel

Salah satu koleksi busana siap pakai Chanel di Paris Fashion Week 2026. (dok. JULIEN DE ROSA / AFP)

Sejak mengambil alih jabatan direktur kreatif tahun lalu, Matthieu Blazy telah membingkai koleksinya sebagai percakapan fiktif dengan sang pendiri label, Coco Chanel, seringkali membiarkan kata-katanya membimbing jalannya. Begitu pula dengan koleksi busana siap pakai yang dipamerkannya pada Senin malam.

Blazy mengaku koleksi itu terinspirasi dari wawancara Chanel dengan surat kabar Prancis Le Figaro pada 1950-an. Di belakang panggung setelah pertunjukan, ia membacakan kutipan tersebut.

"Mode adalah ulat dan kupu-kupu," katanya. "Jadilah ulat di siang hari dan kupu-kupu di malam hari. Tidak ada yang lebih nyaman daripada ulat dan tidak ada yang lebih diciptakan untuk cinta daripada kupu-kupu. Kita membutuhkan gaun yang merayap dan gaun yang terbang. Kupu-kupu tidak pergi ke pasar dan ulat tidak pergi ke pesta dansa."

Dengan melihat ke belakang, sungguh menakjubkan melihat betapa eratnya koleksi musim gugurnya mengikuti konsep tersebut, dengan tampilan yang bervariasi dari jersey hitam polos hingga jaring logam dalam warna pelangi yang berkilauan.rtunjukan tersebut.

Terinspirasi dari Pakaian Pekerja Era 1920an

Salah satu koleksi busana siap pakai Chanel di Paris Fashion Week 2026. (dok. JULIEN DE ROSA / AFP)

Di panggung runway yang dihiasi dengan derek berwarna-warni yang mengingatkan pada mainan konstruksi anak-anak, Stephanie Cavalli, yang membuka peragaan busana couture-nya pada Januari tahun ini, adalah yang pertama tampil dengan jaket rajut hitam berresleting yang hanya dihiasi empat kancing emas.

Di lingkungan Grand Palais yang luas, kemeja luar dan blus tweed yang terinspirasi dari pakaian kerja mungkin tampak kurang menarik. Namun, jika rok selutut yang serasi diganti dengan celana jeans, Anda akan mendapatkan pembaruan cerdas pada jaket tweed klasik — yang sama baiknya untuk wanita maupun pria, kelompok pelanggan Chanel yang terus bertambah.

Sekali lagi, Blazy mengambil inspirasi langsung dari sang pendiri. "Di apartemennya ada kain kasa yang diaplikasikan di dinding dan dicat emas, dan bagi saya, itu adalah definisi terbaik dari Chanel — karena dia mengambil sesuatu yang sederhana, dia menambahkan sesuatu padanya," katanya. "Dia mengambil pakaian dari kelas pekerja, dan dia mengubahnya menjadi barang mewah."

Referensi era 1920-an menjadi dasar pakaian sehari-hari, mulai dari setelan kembar sutra berpinggang rendah dengan mantel berlipit hingga gaun flapper tambal sulam yang dihiasi sulaman bunga. Terdapat gema Era Jazz pada rajutan bermotif elektrik, gaun berlipit dengan garis-garis grafik suara, dan mantel berbulu dengan pola warna-warni yang seolah muncul dari lukisan Sonia Delaunay.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya