Resi Gudang, Instrumen Pembiayaan Petani yang Dipakai Negara Maju

Sistem resi gudang diatur melalui Undang-Undang sejak 2006 dan diperbarui pada 2011.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 10 Maret 2026, 04:00 WIB
Direktur Pengembangan Bisnis dan Operasional PT Kliring Berjangka Indonesia, Saidu Solihin. Sistem resi gudang diatur melalui Undang-Undang sejak 2006 dan diperbarui pada 2011.

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Pengembangan Bisnis dan Operasional PT Kliring Berjangka Indonesia, Saidu Solihin, mengakui bahwa sistem resi gudang masih belum banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia, termasuk kalangan media. Padahal, instrumen ini sudah memiliki dasar hukum dan berpotensi besar membantu pembiayaan sektor pertanian.

Saidu menjelaskan bahwa sistem resi gudang di Indonesia telah diatur melalui Undang-Undang sejak 2006 dan diperbarui pada 2011. Regulasi tersebut dibuat pemerintah untuk membantu petani, nelayan, dan peternak agar tidak terjebak menjual hasil produksinya dengan harga murah saat panen raya.

“Banyak yang baru dengar tentang resi gudang. Padahal ini instrumen yang sudah siap. Bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat mereka menyebutnya warehouse receipt, dan undang-undangnya sudah ada sejak 1906,” kata Saidu dalam pertemuan di Jakarta, dikutip Selasa (10/3/2026).

Ia menuturkan, dalam praktiknya resi gudang merupakan bukti kepemilikan atas komoditas yang disimpan di gudang resmi. Dokumen tersebut dapat digunakan seperti agunan, mirip dengan fungsi BPKB kendaraan, sehingga dapat dijadikan jaminan untuk memperoleh pembiayaan dari lembaga keuangan.

Melalui mekanisme ini, petani tidak perlu langsung menjual hasil panennya saat harga sedang jatuh akibat kelebihan pasokan. Komoditas dapat disimpan terlebih dahulu di gudang yang telah memiliki izin dari pemerintah, lalu pemiliknya menerima resi sebagai bukti kepemilikan.

“Resinya bisa diagunkan untuk mendapatkan pembiayaan. Jadi petani tetap punya dana untuk produksi berikutnya, dan baru menjual komoditasnya ketika harga kembali normal,” ujarnya.

Saidu menjelaskan bahwa siklus harga komoditas, seperti beras, umumnya turun saat panen raya karena pasokan melimpah. Namun satu hingga dua bulan setelah masa panen, harga biasanya kembali normal bahkan meningkat.

Dengan sistem resi gudang, komoditas dapat disimpan sementara di gudang sehingga tidak langsung membanjiri pasar. Hal ini tidak hanya melindungi petani dari kerugian, tetapi juga membantu menjaga stabilitas harga komoditas.

 

 

Bagian Penting Rantai Pasok Komoditas

Green Coke memiliki peran penting untuk berbagai sektor industri skala besar diantaranya yaitu sebagai bahan baku dalam pembuatan Anoda Grafit Aritifisial (Komponen pembuatan Baterai seperti di Electric Vehicle, Electronic, dll). Kemudian Bahan baku Calcined Coke (digunakan sebagai bahan pengurai pada pabrik alumunium; Reduktor dalam proses peleburan timah; Bahan penambah kadar karbon pada industri logam atau pelebur baja); Alternatif bahan bakar (digunakan sebagai alternatif efisien bahan bakar dalam proses industri, dikarenakan memiliki nilai kalori (Net Calorific Value) yang lebih tinggi. Green Coke yang dipasarkan oleh Pertachem hadir dengan spesifikasi unggul, yaitu dengan kadar sulfur rendah sebesar 0,5% (Low Sulphur) dan Ash Content hanya 0,1%. Selain itu, Green Coke juga memiliki nilai kalori (Net Calorific Value) yang lebih tinggi yaitu sekitar 7500 – 8500 Cal/kg. Dengan kandungan sulfur yang lebih rendah berkontribusi pada kualitas udara yang lebih baik dan dampak lingkungan yang lebih rendah. Selain memperkuat pemasaran dan penjualan produk Green Coke, Pertachem sebagai marketing arm produk petrokimia Pertamina, juga akan terus memperluas pengembangan jaringan pemasaran produk lainnya seperti Produk Chemical (Solvent, Paraffin Wax, Sulphur, Caustic Soda, Methanol, SMO, Calcium Carbonate, Purified Terephtalic Acid, dan lainnya); Produk Polymer (Polypropylene, Polyethylene, Polystyrene, Masterbatch, Polyvinyl Chloride, Polytehylene Terephtalate, dan Ethyl Vinyl Acetate); dan Produk Aromatic Olefin (Paraxylene, Benzene, Propylene, Orthoxylene).

Menurutnya, sistem ini juga berpotensi menjadi bagian penting dari rantai pasok komoditas nasional hingga ekspor. Di sejumlah negara maju, resi gudang bahkan sudah digunakan untuk berbagai jenis komoditas industri, seperti logam.

“Di Jepang misalnya, komoditas baja pun sudah bisa menggunakan sistem resi gudang. Sementara di Indonesia saat ini masih dominan di sektor pertanian dan peternakan,” jelas Saidu.

Sebagai perusahaan BUMN, PT Kliring Berjangka Indonesia ditunjuk pemerintah melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi sebagai pusat registrasi sistem resi gudang nasional. Peran tersebut membuat KBI bertugas mencatat dan menerbitkan bukti kepemilikan komoditas yang disimpan di gudang resmi.

Saidu mengibaratkan fungsi tersebut seperti sistem registrasi kendaraan bermotor. “Kalau beli mobil ada BPKB yang dikeluarkan Samsat. Nah, untuk komoditas yang disimpan di gudang, kami yang mencatat kepemilikannya dan menerbitkan resinya,” katanya.

Meski Indonesia sudah menerapkan sistem ini sejak 2006, Saidu mengakui perkembangannya masih tertinggal dibanding negara lain di kawasan Asia. Negara seperti Vietnam, Thailand, hingga India dinilai telah lebih maju dalam memanfaatkan skema warehouse receipt financing.

 

Potensi Komoditas

Namun ia optimistis Indonesia dapat mengejar ketertinggalan tersebut karena memiliki potensi komoditas yang sangat besar.

“Potensi komoditas Indonesia luar biasa. Kalau sistem resi gudang ini dijalankan dengan benar, dampaknya bisa besar terhadap pembiayaan sektor riil dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya sosialisasi kepada seluruh pemangku kepentingan, mulai dari petani, pelaku usaha, lembaga pembiayaan hingga pengelola gudang, agar pemanfaatan resi gudang semakin luas. Saidu berharap resi gudang dapat terus berperan strategis dalam mendukung program kedaulatan pangan yang tengah didorong pemerintah.

“Kalau berbicara kedaulatan pangan, artinya kita harus mampu memenuhi kebutuhan dari produksi sendiri. Salah satu instrumen yang bisa mendukung itu adalah sistem resi gudang,” kata Saidu.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya