Indeks Nikkei di Jepang Tergelincir Setelah Harga Minyak Dunia Melesat

Konflik di Timur Tengah dongkrak harga minyak dunia berimbatas terhadap pergerakan indeks Nikkei di Jepang.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 09 Maret 2026, 14:13 WIB
Indeks Nikkei di Jepang sempat merosot lebih dari 7% pada perdagangan Senin pagi, (9/3/2026). (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Nikkei di Jepang sempat merosot lebih dari 7% pada perdagangan saham Senin pagi, (9/3/2026). Indeks Nikkei di Jepang turun di bawah posisi 52.000 seiring meningkatnya prospek konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Mengutip kyodonews.net, indeks Nikkei 225 di Jepang melemah 3.880,38 poin atau 6,98% dari perdagangan Jumat pekan lalu. Pada sesi pagi, indeks Nikkei ditutup ke posisi 51.740,46. Indeks Topix merosot 208,21 poin atau 5,6% menjadi 3.508,72.

Sementara itu, dolar AS menguat terhadap yen di kisaran 158 di tengah kekhawatiran dampak lonjakan harga minyak mentah. Pada Senin siang, dolar AS diperdagangkan di kisaran 158,68-158,70 yen.

Pelaku pasar menyebutkan, kekhawatiran meningkat seiring kabar Dewan Intelijen Nasional AS telah melaporkan serangan skala besar tidak akan menggulingkan rezim Iran.

Pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran, yang diumumkan pada Senin, setelah pembunuhan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, menimbulkan kekhawatiran konflik militer dan lonjakan harga minyak mentah dapat berkepanjangan.

"Ada pandangan bahwa bahkan jika pemimpin tertinggi berubah, rezim berbasis agama Iran kemungkinan besar tidak akan berubah secara drastis," ujar Strategist the Investment Content Department of Nomura Securities Co, Wataru Akiyama.

Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) acuan untuk sementara melampaui USD 119 per barel di New York pada Minggu, level tertinggi sejak Juni 2022, seiring dengan terus meningkatnya konflik di Timur Tengah. Kontrak tersebut berakhir di bawah angka USDD 100 pada Jumat.

 

Pembukaan Bursa Saham Asia pada 9 Maret 2026

Ilustrasi bursa saham Asia (Foto by AI)

Sebelumnya, bursa saham Asia melemah pada perdagangan saham Senin, (9/3/2026). Indeks Nikkei 225 di Jepang dan indeks Kospi di Korea Selatan kompak anjlok signifikan dan memimpin aksi jual di bursa saham Asia Pasifik.

Indeks Nikkei 225 di Jepang dan indeks Kospi di Korea Selatan anjlok lebih dari 6% pada perdagangan awal pekan, Senin, 9 Maret 2026. Hal ini seiring aksi jual karena harga minyak dunia menembus USD 100 per barel untuk pertama kali sejak 2022.

Mengutip CNBC, indeks Nikkei 225 di Jepang anjlok 6,05%, jatuh di bawah posisi 53.000 untuk pertama kali sejak 6 Februari. Sementara itu, indeks Topix melemah 5,27%.

Saham Softbank Group Corp termasuk di antara saham yang alami koreksi terbesar. Saham Softbank Group Corp turun hampir 10%. Sedangkan saham-saham terkait chip seperti Advantest dan Lasertec masing-masing turun lebih dari 10% dan 9%.

Indeks Kospi di Korea Selatan turun 6,5% memicu penghentian sementara perdagangan untuk kontrak berjangka Kospi 200. Penghentian sementara perdagangan diaktifkan pekan lalu ketika indeks acuan itu anjlok lebih dari 12% pada Rabu pekan lalu. Indeks acuan tersebut mencatat penurunan satu hari terburuknya.

Saham raksasa Samsung Electronics anjlok 8,4%, sementara saham perusahaan chip SK Hynix mengalami kerugian yang lebih besar, yaitu 9,2%.

Indeks S&P/ASX 200 Australia turun 3,68% pada perdagangan awal. Harga minyak Brent berjangka melonjak 16,1% menjadi USD 107,61, sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate AS berjangka naik hampir 17,7% menjadi USD 107,02.

 

 

Produsen Bakal Pangkas Produksi Minyak

Sampai pembukaan perdagangan Rabu 4 Maret 2026, harga minyak masih berada di atas US$ 80 per barel. Tampak foto yang menunjukkan sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Aral di Bochum, Jerman, pada Rabu 4 Maret 2026. (Ina FASSBENDER/AFP)

Lonjakan ini terjadi setelah produsen minyak utama Timur Tengah, termasuk Kuwait, Iran, dan Uni Emirat Arab, memangkas produksi minyak menyusul penutupan Selat Hormuz.

Namun, Presiden AS Donald Trump menulis di Truth Social kenaikan "harga minyak jangka pendek" adalah "harga yang sangat kecil untuk dibayar" demi menghancurkan ancaman nuklir Iran.

"Hanya orang bodoh yang berpikir sebaliknya,” Trump menambahkan.

Kontrak berjangka Indeks Hang Seng Hong Kong berada di 25.328, di bawah penutupan terakhir indeks di 25.757,29.

Kontrak berjangka saham AS juga anjlok karena harga minyak yang lebih tinggi, dengan kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average turun lebih dari 800 poin atau 1,75% lebih rendah.

Kontrak berjangka S&P 500 turun 1,59%, sementara kontrak berjangka Nasdaq-100 merosot 1,6%.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya