Houthi Ucapkan Selamat atas Terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran

Houthi menyebut pemilihan Mojtaba Khamenei sebagai kemenangan baru bagi Revolusi Islam dan pukulan telak bagi musuh-musuh Republik Islam Iran.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 09 Maret 2026, 07:53 WIB
Mojtaba Khamenei, putra kedua Ali Khamenei, terpilih sebagai pemimpin tertinggi ketiga Iran. Foto ini disediakan oleh kantor pemimpin tertinggi Iran dan diambil pada Oktober 2024. (Dok. AFP)

Liputan6.com, Teheran - Kelompok pemberontak Houthi di Yaman yang didukung Iran menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Mojtaba Hosseini Khamenei atau Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru. Ucapan tersebut disampaikan melalui pernyataan yang dipublikasikan di Telegram pada Minggu (8/3/2026).

"Kami mengucapkan selamat kepada Republik Islam Iran, para pemimpinnya, dan rakyatnya atas terpilihnya Sayyid Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam pada momen penting dan menentukan ini," tulis kelompok tersebut seperti dikutip dari The Guardian.

Mojtaba Khamenei dipilih oleh Majelis Ahli Iran yang bertugas menentukan otoritas tertinggi negara tersebut. Majelis tersebut menyerukan kepada warga Iran untuk bersatu mendukung kepemimpinan baru. Mereka mengimbau masyarakat di seluruh negeri, "terutama para elite dan intelektual dari kalangan seminar dan universitas", agar menyatakan kesetiaan kepada pemimpin baru serta menjaga persatuan nasional pada momen yang dianggap krusial bagi Iran.

Pengangkatan Mojtaba Khamenei menandai pertama kalinya sejak Revolusi Islam 1979 kepemimpinan tertinggi Iran berpindah dari ayah kepada anak. Perkembangan ini diperkirakan akan memicu perdebatan di dalam negeri mengenai munculnya sistem dinasti dalam negara yang sejak awal didirikan untuk menggulingkan kekuasaan turun-temurun setelah era shah.

Khamenei, yang memimpin Iran selama 37 tahun, gugur dalam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel di Teheran pada 28 Februari, hari pertama perang meletus.

 

Dukungan dan Ancaman

Ketua parlemen Iran juga memuji keputusan majelis ulama yang memilih Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi negara itu, dan menyebut mengikuti kepemimpinannya sebagai "kewajiban agama dan nasional". 

Kepala keamanan negara menyatakan bahwa pemimpin baru mampu membimbing Iran melalui masa yang sensitif saat ini. Sementara itu, Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan kesiapan mereka untuk mengikuti kepemimpinannya, yang menunjukkan adanya dukungan luas dari institusi inti negara.

Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran dinilai berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut dalam perang yang sedang berlangsung. Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah menyatakan bahwa Mojtaba merupakan kandidat penerus paling mungkin dan menyebut pilihan ini tidak dapat diterima.

Trump juga mengatakan bahwa pemimpin tertinggi Iran berikutnya "tidak akan bertahan lama" jika tidak terlebih dahulu mendapatkan persetujuannya. 

Sebelumnya pada hari yang sama, militer Israel melalui unggahan berbahasa Farsi di platform X menyatakan akan terus memburu setiap penerus Khamenei serta siapa pun yang berupaya menunjuk penggantinya.

 

Dari Lingkaran Dalam Kekuasaan ke Puncak Kepemimpinan

Bagi banyak analis, penunjukan Mojtaba Khamenei dipandang sebagai langkah simbolis untuk menunjukkan bahwa rezim Iran tetap kuat dan tidak akan tunduk pada tekanan Barat.

Ulama berusia 56 tahun tersebut tidak pernah memegang jabatan elektif maupun secara resmi menduduki posisi tinggi dalam pemerintahan Iran. Selama bertahun-tahun ia dikenal berada di pusat kekuasaan, namun tetap jarang tampil di hadapan publik.

Mojtaba Khamenei lahir pada tahun 1969 di Kota Mashhad. Ia tumbuh dalam lingkungan politik dan keagamaan yang terbentuk setelah Revolusi Islam 1979. Saat muda, ia mempelajari teologi di pusat pendidikan ulama Syiah di Qom dan dilaporkan ikut terlibat dalam tahap akhir perang Iran–Irak. 

Berbeda dengan banyak tokoh lain dalam kepemimpinan Iran, Mojtaba Khamenei tidak meniti karier melalui jabatan publik atau pemerintahan. Sebaliknya, ia secara bertahap menjadi figur berpengaruh di dalam kantor ayahnya dan sering dianggap sebagai bagian dari lingkaran kecil yang mengatur akses politik kepada pemimpin tertinggi.

Selama bertahun-tahun ia disebut menjalin hubungan dekat dengan para ulama konservatif serta unsur-unsur IRGC. Para analis menilai hubungan tersebut memperkuat posisinya dalam struktur kekuasaan negara.

Namanya mulai banyak dibicarakan publik setelah pemilihan presiden Iran yang kontroversial pada 2009. Saat itu, tokoh-tokoh reformis menuduhnya berperan dalam mendukung tindakan keras aparat keamanan terhadap gelombang demonstrasi yang muncul setelah hasil pemilu dipersoalkan oleh pihak oposisi.

Sosok Mojtaba Khamenei sendiri tidak pernah membahas isu suksesi secara terbuka.

Bagi para pendukungnya, Mojtaba Khamenei dianggap mewakili kesinambungan garis ideologis yang ditetapkan oleh Ayatullah Ruhollah Khomeini dan dilanjutkan oleh ayahnya. Namun bagi para pengkritik, kemunculan dirinya sebagai pemimpin tertinggi menimbulkan pertanyaan serius mengenai konsentrasi kekuasaan serta kemungkinan munculnya kepemimpinan yang bersifat turun-temurun di Iran.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya