10 Pahala di Bulan Syawal yang Sering Terlewat, Simak Penjelasan dan Tips Praktisnya

Umat Islam harus mengetahu pahala di bulan Syawal yang sering terlewat. Sebab, waktu Syawal disebut bulan kembangkitan, bukan sebaliknya semangat ibadah turun

oleh Nanik RatnawatiDiterbitkan 21 Maret 2026, 14:20 WIB
Ilustrasi puasa syawal. Photo by Rachid Oucharia on Unsplash

Liputan6.com, Jakarta - Bulan suci Ramadan berlalu, berganti euforia perayaan Idul Fitri. Sayangnya, ingar-bingar kemenangan ini kerap memudarkan semangat ibadah. Banyak muslim tanpa sadar menyebabkan pahala di bulan Syawal yang sering terlewat. Padahal, bulan ini menyimpan ladang amal istimewa sebagai penyempurna puasa wajib.

Merujuk ebook Panduan Amalan Syawal Sepanjang Aidilfitri, terbitan Qur'an Pro Academy, salah satu anjuran terbesar yang kerap dilalaikan adalah puasa sunah. Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian mengiringinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun" (HR. Muslim). Dalil sahih ini menegaskan besarnya ganjaran bagi muslim yang konsisten menjaga ketakwaannya.

Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitab Latha'if Al-Ma'arif menerangkan bahwa merutinkan puasa Syawal merupakan indikator diterimanya ibadah Ramadan. Konsistensi amal pasca-Ramadan adalah wujud syukur nyata seorang hamba. Momentum Syawal idealnya menjadi titik tolak membiasakan ketaatan, bukan justru mengendurkannya.

Lantas, apa saja pahala di bulan Syawal yang sering terlewat? Simak lengkap berikut ini.

1. Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Puasa enam hari di bulan Syawal merupakan amalan yang paling utama dan paling sering terlewat. Banyak umat Islam yang mengira bahwa setelah Ramadan, "musim ibadah" telah usai. Padahal, Rasulullah SAW justru menganjurkan untuk melanjutkan puasa di bulan Syawal.

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian mengikutkannya dengan enam hari dari bulan Syawal, maka seolah-olah ia telah berpuasa selama setahun penuh." (HR. Muslim No. 1164)

Hadits ini memiliki derajat shahih dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, sehingga tidak ada keraguan tentang keabsahannya.

Imam Nawawi dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa pahala seperti puasa setahun penuh diperoleh karena satu kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat oleh Allah SWT. Jika seseorang berpuasa Ramadan selama 30 hari, maka seolah-olah ia telah berpuasa 300 hari. Kemudian ditambah dengan enam hari puasa Syawal yang dikalikan 10 menjadi 60 hari, maka genaplah 360 hari atau satu tahun Hijriyah .

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Latha'if al-Ma'arif menegaskan bahwa puasa Syawal bukan hanya soal pahala, tetapi juga tentang keberlanjutan dalam ibadah. Menurut beliau, puasa enam hari ini mengajarkan kita bahwa amalan sunnah memiliki kedudukan tinggi jika dilakukan dengan istiqamah .

Sementara itu, Syekh Utsaimin dalam Majmu' Fatawa wa Rasail menjelaskan bahwa puasa Syawal bisa dilakukan secara berurutan maupun terpisah, selama masih dalam bulan Syawal . Hal ini memberikan kemudahan bagi umat Islam untuk menyesuaikan dengan kesibukan masing-masing.

Hukum dan Tata Cara

Mayoritas ulama sepakat bahwa hukum puasa Syawal adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan) . Pelaksanaannya dimulai dari tanggal 2 Syawal (karena tanggal 1 Syawal diharamkan berpuasa) hingga akhir bulan Syawal. Boleh dilakukan secara berurutan maupun berselang hari .

Terkait niat, para ulama menjelaskan bahwa niat cukup di dalam hati dan tidak perlu dilafadzkan . Yang terpenting adalah berniat untuk melaksanakan puasa sunnah Syawal karena Allah SWT.

2. Menghidupkan Malam dengan Qiyamullail

Setelah sebulan penuh terbiasa dengan shalat Tarawih dan Qiyamullail di bulan Ramadan, semangat ini seringkali meredup begitu Syawal tiba. Padahal, menghidupkan malam dengan ibadah di bulan Syawal adalah amalan yang sangat dianjurkan.

Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang menghidupkan malam raya (Idulfitri dan Iduladha) dengan amal ibadat demi mengharapkan ganjaran pahala daripada Allah, nescaya hatinya tidak akan mati pada hari matinya segala hati." (HR. Ibnu Majah)

Hadits lain yang relevan: "Lakukanlah qiyamullail karena ia adalah kebiasaan orang-orang soleh sebelum kamu, ia mendekatkan kamu kepada Allah, menghapuskan dosa-dosamu, dan mencegah kamu daripada melakukan dosa." (HR. Tirmidzi No. 3549).

Tips Praktis:

Untuk menghidupkan kembali semangat Qiyamullail di bulan Syawal, kita bisa memulainya dengan langkah-langkah sederhana:

  • Mulai dengan shalat sunnah 2 rakaat setelah Isya
  • Tetapkan alarm 30 menit sebelum Subuh untuk bangun malam
  • Bacalah doa: "Ya Allah, jadikan aku orang yang bangun malam untuk beribadah kepada-Mu".

3. Melanjutkan Tradisi Membaca Al-Qur'an

Ramadan melatih kita untuk dekat dengan Al-Qur'an. Sayangnya, tradisi ini sering putus setelah Ramadan berlalu. Bulan Syawal adalah waktu yang tepat untuk membuktikan bahwa Al-Qur'an benar-benar menjadi sahabat sepanjang hayat.

Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan solat serta menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi atau terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi." (Surah Fatir: 29)

Rasulullah SAW bersabda: "Bacalah Al-Qur'an, kerana ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat kepada orang yang membacanya." (HR. Muslim No. 804) [Ebook]

Tips Praktis

  • Tetapkan target harian, misalnya satu juz per hari atau sesuai kemampuan
  • Manfaatkan waktu-waktu berkah seperti setelah Subuh atau sebelum tidur
  • Bacalah dengan tadabbur (memahami makna) dan perbaiki bacaan tajwid.

4. Puasa Sunnah Lainnya: Senin-Kamis dan Ayyamul Bidh

Selain puasa enam hari Syawal, ada puasa sunnah lain yang pahalanya sering terlewat di bulan ini, yaitu puasa Senin-Kamis dan puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah).

Dari Aisyah RA, ia berkata: "Rasulullah SAW sangat antusias dan bersungguh-sungguh dalam melakukan puasa pada hari Senin dan Kamis." (HR. Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Imam Ahmad)

Keutamaan puasa Ayyamul Bidh dijelaskan dalam hadits: "Puasa tiga hari di setiap bulannya adalah seperti berpuasa sepanjang tahun." (HR. Bukhari).

5. Memperbanyak Silaturahmi dan Saling Memaafkan

Syawal identik dengan silaturahmi, namun sayangnya seringkali hanya dimaknai sebagai seremonial belaka. Padahal, silaturahmi memiliki nilai ibadah yang tinggi dan pahala yang besar.

Rasulullah SAW bersabda: "Sesiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah dia menghubungkan silaturahim." (HR. Bukhari No. 5985 dan Muslim No. 2557).

Dalam hadits lain, beliau bersabda: "Silaturahmi bukanlah yang saling membalas kebaikan. Tetapi seorang yang berusaha menjalin hubungan baik meski lingkungan terdekat (relatif) merusak hubungan persaudaraan dengan dirinya." (HR. Bukhari)

Ebook "Panduan Amalan Syawal" menyebutkan adab-adab silaturahmi yang perlu diperhatikan:

  • Makan dengan segera jika dihidangkan makanan
  • Tidak meminta-minta hidangan yang menyusahkan tuan rumah
  • Memberitahu terlebih dahulu jika akan berkunjung
  • Tidak duduk terlalu lama hingga membuat tuan rumah tidak nyaman
  • Memilih waktu yang tepat untuk bertandang.

6. Konsistensi Bersedekah

Setelah Ramadan dengan berbagai program sedekah dan zakat, semangat berbagi sering menurun di bulan Syawal. Padahal, bersedekah secara konsisten adalah salah satu kunci meraih keberkahan.

Allah SWT berfirman:

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji." (Surah Al-Baqarah: 261) [Ebook]

Rasulullah SAW bersabda: "Sedekah itu menghapuskan dosa seperti air memadamkan api." (HR. Tirmidzi No. 614).

Tips Praktis

  • Sediakan tabung sedekah di rumah dan biasakan mengisinya setiap hari
  • Tetapkan jumlah kecil namun konsisten, misalnya RM1 per hari sepanjang Syawal
  • Manfaatkan platform sedekah online untuk memudahkan transaksi.

7. Menjaga Lisan dan Akhlak

Salah satu ujian terbesar setelah Ramadan adalah menjaga lisan dari perkataan yang tidak bermanfaat. Bulan Syawal menguji sejauh mana hasil tarbiah Ramadan mampu mengekang lisan dan memperbaiki akhlak.

Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari No. 6136).

8. Mengqadha' Puasa dan Ibadah yang Terlewat

Bagi mereka yang memiliki utang puasa Ramadan, bulan Syawal adalah waktu terbaik untuk menggantinya. Selain itu, ada juga amalan qadha untuk ibadah lain seperti iktikaf.

'Imran bin Hushain RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW pernah bertanya kepada seorang laki-laki, "Apakah engkau berpuasa di awal, tengah, atau akhir bulan ini?" Laki-laki itu menjawab, "Tidak." Rasulullah SAW bersabda, "Apabila engkau telah merampungkan puasa Ramadan, berpuasalah dua hari sebagai pengganti puasa sunah yang terlewat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari mengomentari, "Hadits ini mengandung pensyariatan qadha' puasa sunnah."

Iktikaf di Bulan Syawal

Diriwayatkan dari Aisyah RA bahwa suatu ketika Rasulullah SAW tidak melaksanakan iktikaf di bulan Ramadan karena suatu hal, lalu beliau menggantinya di sepuluh hari terakhir bulan Syawal . Ini menunjukkan bahwa iktikaf juga bisa dilakukan di luar Ramadan sebagai bentuk qadha atau bahkan sebagai amalan sunnah mandiri.

Ibnu Bathal berpendapat, "Iktikaf di bulan Syawal dan di bulan lainnya hukumnya mubah bagi mereka yang ingin melakukannya."

9. Menikah di Bulan Syawal

Amalan ini mungkin tidak terlintas sebagai "ibadah" bagi kebanyakan orang, namun menikah di bulan Syawal memiliki landasan sunnah yang kuat.

Para ulama mazhab Syafi'iyyah menganjurkan menikah di bulan Syawal berdasarkan riwayat bahwa Aisyah RA dinikahi dan dibangunkan rumah tangganya dengan Rasulullah SAW pada bulan Syawal.

Tentu saja, ini bukan keharusan, melainkan anjuran yang menunjukkan bahwa Syawal adalah bulan yang baik untuk memulai kehidupan baru dalam ikatan pernikahan.

10. Berbelanja Secara Berhemah

Di tengah euforia hari raya yang sering menjebak pada pemborosan, Islam mengajarkan untuk berbelanja secara berhemah. Amalan ini sering terlewat karena dianggap sepele, padahal termasuk bagian dari syukur atas rezeki.

Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang membazir itu adalah saudara syaitan." (Surah Al-Isra': 27) [Ebook]

Tips Praktis

  • Siapkan anggaran khusus Syawal dan patuhi
  • Prioritaskan kebutuhan daripada keinginan
  • Hindari berbelanja karena emosi atau tekanan sosial.

Hikmah di Balik Amalan-Amalan Syawal

Para ulama menyebutkan beberapa hikmah mengapa amalan-amalan di bulan Syawal memiliki keutamaan besar:

1. Bantuk Syukur

Sebagai bentuk syukur atas nikmat Ramadan. Dengan melanjutkan ibadah di bulan Syawal, seorang Muslim menunjukkan bahwa ia benar-benar bersyukur atas kesempatan beribadah di bulan Ramadan.

2. Sebagai bukti istiqamah

Ibadah yang dilakukan secara konsisten, meskipun sedikit, lebih dicintai Allah daripada ibadah besar namun terputus.

3. Sebagai penutup kekurangan ibadah Ramadan

Ibadah sunnah di bulan Syawal berfungsi menyempurnakan kekurangan yang mungkin ada dalam ibadah wajib selama Ramadan .

4. Melatih jiwa untuk tidak bersifat musiman dalam beribadah

Islam mengajarkan bahwa ibadah adalah untuk sepanjang hayat, bukan hanya di bulan tertentu.

People also Ask:

Amalan sunnah apa yang paling ditekankan di bulan Syawal?

Selain puasa, memperbanyak silaturahmi juga merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan di Bulan Syawal. Rasulullah SAW bersabda bahwa menjalin silaturahmi dapat memperpanjang umur dan melapangkan rezeki.

Mengapa penting untuk menjaga ibadah di bulan Syawal?

Menjaga Silaturahmi

Semoga amalan-amalan di bulan Syawal ini dapat membantu kita untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperkuat iman kita sebagai umat muslim, dan memotivasi kinerja kita untuk selalu lebih baik lagi di bulan-bulan mendatang.

Apa saja yang terjadi di bulan Syawal?

Selain peristiwa perang, ada juga peristiwa besar di bulan Syawal yang penuh nuansa cinta dan dakwah, yaitu pernikahan Rasulullah SAW dengan Aisyah RA. Pernikahan ini terjadi di bulan Syawal, dan menjadi awal dari kontribusi besar Aisyah RA dalam pengembangan ilmu Islam.

Mengapa puasa enam hari di bulan Syawal dianjurkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?

Puasa sunnah Syawal berfungsi sebagai penyempurna bagi puasa Ramadan. Sebagaimana shalat sunnah rawatib yang menyempurnakan shalat fardhu, puasa Syawal melengkapi dan menyempurnakan ibadah puasa wajib yang telah dilaksanakan selama bulan Ramadan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya