6 Tanda Ramadhan Diterima Menurut Ulama dan Hikmahnya untuk Umat Islam

Tanda ramadhan diterima menurut ulama perlu diketahui umat Islam sebagai pelecut semangat dan muhasabah demi menjadi pribadi yang bertakwa

oleh Nanik RatnawatiDiterbitkan 14 Maret 2026, 17:15 WIB
Ramadhan 2026 (Gemini AI)

Liputan6.com, Jakarta - Bulan Ramadhan telah berlalu, meninggalkan kenangan maning dan kesedihan karena ditinggalkan bulan mulia. Sebagian muslim terkadang juga risau apakah ibadahnya selama Ramadhan diterima. Karena itu, umat Islam perlu mengetahui tanda ramadhan diterima menurut ulama.

Pertanyaan ini adalah refleksi spiritual yang diajarkan oleh para nabi dan ulama sepanjang zaman. Ibrahim AS, sang kekasih Allah, pun memanjatkan doa: "Ya Allah, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (QS. Al-Baqarah: 127).

Jika seorang nabi saja tidak merasa aman dari tertolaknya amal, maka kita yang jauh dari ma'shum lebih layak untuk merenung dan bermuhasabah. Terlebih Rasulullah SAW telah memperingatkan, "Betapa banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapat apa-apa dari puasanya kecuali lapar. Betapa banyak orang yang salat malam, tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain begadang saja" (HR. An-Nasa'i).

Hadis ini menjadi cambuk kesadaran bahwa puasa bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah proses transformasi spiritual yang harus meninggalkan jejak dalam kehidupan.

Lalu, apa saja tanda-tanda bahwa Ramadhan kita diterima? Para ulama telah merinci berdasarkan dalil-dalil Al-Qur'an dan hadis, serta pengalaman spiritual mereka. Simak rangkumannya.

Tanda-Tanda Diterimanya Ramadhan Menurut Ulama

1. Konsistensi dalam Kebaikan Setelah Ramadhan

Tanda paling utama bahwa puasa Ramadhan kita diterima adalah adanya keberlanjutan amal saleh setelahnya. Ibn Rajab al-Hanbali, seorang ulama besar mazhab Hanbali, dalam kitabnya Lathâ'if al-Ma'ârif menjelaskan:

"Sesungguhnya di antara tanda diterimanya kebaikan adalah kebaikan setelahnya. Barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan kemudian diikuti oleh amal-amal kebajikan lainnya, itu berarti menjadi tanda diterimanya amal kebajikan yang pertama. Sebaliknya, barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan kemudian diikuti oleh amal keburukan (maksiat), itu berarti tanda tidak diterimanya amal kebajikan tersebut."

Ibn Rajab lebih lanjut mengatakan, "Membiasakan puasa setelah puasa Ramadhan merupakan tanda diterimanya amal puasa di bulan Ramadhan, karena sesungguhnya Allah jika menerima suatu amal hamba, maka Allah akan memberi dia taufik untuk melakukan amal saleh setelahnya."

Amal saleh setelah Ramadhan itu bisa berupa puasa sunnah enam hari di bulan Syawal, sebagaimana sabda Rasulullah saw.: "Barang siapa berpuasa Ramadhan, kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun" (HR. Muslim, no. 1164). Puasa Syawal menjadi bukti bahwa kita tidak hanya menjadi "musiman" dalam beribadah, tetapi bertekad untuk istiqamah.

Selain puasa Syawal, menjaga shalat sunnah, membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan amalan-amalan lain yang dilakukan selama Ramadhan hendaknya tetap berlanjut. Sebagaimana disebutkan dalam Ebook Amalan setelah Ramadhan karya Sukamto HM, "Shalat sunnah termasuk amalan yang mesti kita jaga dan rutinkan. Di antara keutamaannya, shalat sunnah akan menutupi kekurangan pada shalat wajib."

2. Rasa Khawatir Tidak Diterimanya Amal

Paradoksnya, salah satu tanda diterimanya amal justru adalah perasaan khawatir bahwa amal tersebut belum tentu diterima. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur'an:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka" (QS. Al-Mukminun: 60).

Wahbah az-Zuhaili dalam kitab tafsirnya Al-Munîr menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan hati yang takut adalah kekhawatiran akan tidak diterimanya amalan tersebut akibat kekurangsempurnaan dalam menjalankannya. Untuk memperkuat penafsirannya, az-Zuhaili mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, at-Tirmidzi, dan Ibnu Abi Hatim dari 'Aisyah r.a.:

Suatu ketika 'Aisyah bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud ayat itu adalah orang yang suka mencuri, berzina, atau minum minuman keras sehingga mereka takut kepada Allah?" Beliau menjawab, "Tidak, wahai putri Abu Bakar ash-Shiddiq. Mereka itu adalah orang-orang yang (rajin) salat, puasa, dan bersedekah, tetapi mereka juga takut (khawatir) tidak diterima di sisi Allah 'azza wajalla."

Ini menunjukkan bahwa kekhawatiran akan tertolaknya amal justru menjadi indikasi keimanan yang dalam. Sebaliknya, merasa aman dan yakin bahwa amal pasti diterima bisa jadi merupakan tanda kelalaian.

3. Meninggalkan Maksiat dan Perilaku Buruk

Puasa yang berkualitas seharusnya membentuk pribadi yang lebih baik, terutama dalam interaksi sosial. Rasulullah saw. bersabda:

"Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan palsu atau perkataan kotor dan selalu memperbuatnya, maka Allah tidak akan mempedulikan (puasanya) di mana ia telah susah payah meninggalkan makan dan minum" (HR. Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa dimensi sosial puasa sangat penting. Jika setelah Ramadhan seseorang masih gemar berbohong, menggunjing, korupsi, atau melakukan kezaliman, maka patut dipertanyakan kualitas puasanya. Dalam kitab Ihyâ' 'Ulûmiddîn, Imam al-Ghazali membagi puasa menjadi tiga tingkatan: puasa umum (menahan lapar dan dahaga), puasa khusus (menahan anggota tubuh dari dosa), dan puasa khususnya khusus (menahan hati dari keinginan rendah dan pikiran kotor). Puasa yang diterima adalah yang mencapai tingkatan kedua dan ketiga.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Lathâ'if al-Ma'ârif juga menegaskan bahwa tanda ditolaknya amal adalah ketika ketaatan disusuli dengan kemaksiatan. Beliau berkata:

"Tanda diterimanya amal hamba di sisi Allah adalah ketika satu ketaatan menuntunnya pada ketaatan yang lebih baik lagi. Sedangkan tanda ditolaknya amal seorang hamba adalah ketika ketaatannya disusuli dengan kemaksiatan. Dia tak tercegah darinya. Dan tanda diterimanya tobat seorang hamba adalah jika kekeliruan masa lalunya tak diulang dan dia terus sibuk berketaatan."

4. Meningkatnya Kualitas Ibadah dan Akhlak

Ramadhan adalah madrasah yang mendidik umat Islam untuk menjadi pribadi bertakwa. Jika setelah Ramadhan kita merasakan peningkatan dalam kualitas ibadah—lebih khusyuk dalam shalat, lebih rajin membaca Al-Qur'an, lebih dermawan, dan lebih sabar—maka itu pertanda baik.

Sebaliknya, jika tidak ada perubahan signifikan, bahkan cenderung menurun, maka kita perlu waspada.

Dalam buku Pesan Profetik Ramadhan, Ahmad Syafi'i SJ menulis tentang "Quantum Puasa dan Revolusi Mental" bahwa puasa seharusnya mengubah cara pandang (mindset) seseorang. "Revolusi mental yang dibentuk ibadah puasa, oleh karenanya, mengubah cara pandang seorang muslim dalam hidupnya. Mindset inilah yang pada gilirannya akan menentukan sikap dan perilaku para pengamal puasa."

Ibn al-Qayyim dalam Madârij as-Sâlikîn menyebutkan bahwa buah dari ibadah adalah perubahan akhlak. Jika ibadah tidak membawa perubahan, maka ia hanya seperti kulit tanpa isi. 

5. Meningkatnya Kepedulian Sosial

Salah satu hikmah terbesar puasa adalah menumbuhkan empati kepada sesama, terutama fakir miskin. Bulan Ramadhan disebut sebagai Syahr al-Muwasât (bulan kepedulian sosial).

Jika setelah Ramadhan kita semakin peka terhadap penderitaan orang lain, suka bersedekah, dan peduli terhadap lingkungan, maka itu adalah tanda bahwa puasa kita telah membuahkan hasil.

Dalam Pesan Profetik Ramadhan, Endrik Safudin menulis: "Kepekaan sosial yang terkandung dalam ibadah puasa adalah merasakan penderitaan fakir miskin dan kaum dhu'afa.

Seseorang yang menjalankan ibadah puasa pasti akan merasakan lapar dan dahaga. Kepekaan sosial ini pada akhirnya melahirkan kepedulian sosial untuk menyelesaikan problematika sosial yang dihadapi oleh umat manusia."

Rasulullah saw. adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya meningkat di bulan Ramadhan. Jika kita meneladani beliau, maka sifat dermawan itu tidak hanya muncul di Ramadhan, tetapi juga di bulan-bulan berikutnya.

6. Menjaga Lisan dan Perbuatan

Puasa melatih kita untuk mengendalikan lisan dan emosi. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman: "Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia meninggalkan syahwat, makanan, dan minumannya karena Aku" (HR. Bukhari).

Orang yang berpuasa dengan benar akan mampu menahan amarah, tidak mudah tersinggung, dan senantiasa berkata baik.

Imam al-Ghazali dalam Ihyâ' 'Ulûmiddîn menekankan pentingnya menjaga lisan saat berpuasa. Beliau mengutip hadis: "Lima hal yang membatalkan puasa, yaitu dusta, gunjingan (ghibah), adu domba (namimah), sumpah palsu, dan pandangan dengan syahwat."

Jika setelah Ramadhan kita masih terjebak dalam dosa-dosa lisan, maka puasa kita mungkin belum mencapai tujuannya.

Hikmah Ramadhan untuk 11 Bulan Ke Depan

Ramadhan adalah momentum pelatihan selama satu bulan yang hasilnya harus dipetik selama sebelas bulan berikutnya. Berikut beberapa hikmah yang dapat kita bawa:

1. Ketakwaan sebagai Modal Hidup

Tujuan utama puasa adalah meraih ketakwaan (QS. Al-Baqarah: 183). Takwa adalah bekal terbaik dalam menghadapi dinamika kehidupan. Orang bertakwa dijanjikan kemudahan, rezeki dari arah tak terduga, dan solusi atas setiap masalah.

2. Disiplin dan Manajemen Waktu

Puasa mengajarkan kedisiplinan: kapan harus berhenti makan, kapan berbuka, kapan beribadah. Disiplin ini harus diterapkan dalam pekerjaan, belajar, dan aktivitas sehari-hari.

3. Empati dan Solidaritas Sosial

Rasa lapar dan haus selama puasa mengingatkan kita pada saudara-saudara yang kekurangan. Ini mendorong kita untuk berbagi dan membantu sesama, tidak hanya di Ramadhan tetapi sepanjang tahun.

4. Kesehatan Fisik dan Mental

Dari sisi medis, puasa memberikan manfaat luar biasa. Prof. dr. Taruna Ikrar dalam bukunya 60 Fakta Kesehatan Mutakhir menyatakan, "Lewat puasa sebulan penuh, berdasarkan plastisitas, neurogenesis, dan fungsional kompensasi, jaringan otak diperbarui. Terbentuk rute jaringan baru di otak, yang berarti terbentuk pribadi manusia baru secara biologis, psikologis, dan fungsional." Puasa juga membantu detoksifikasi tubuh dan meningkatkan sistem imun.

5. Pengendalian Diri

Puasa melatih kita mengendalikan hawa nafsu. Jika selama sebulan kita mampu menahan diri dari hal-hal yang halal di siang hari, maka seharusnya kita lebih mudah menahan diri dari hal-hal haram di luar Ramadhan.

6. Kebiasaan Ibadah yang Berkelanjutan

Ramadhan membiasakan kita dengan ibadah-ibadah sunnah seperti shalat malam, tadarus Al-Qur'an, dan sedekah. Kebiasaan ini hendaknya dipertahankan meskipun Ramadhan telah pergi. Sebagaimana disebutkan dalam Ebook Amalan setelah Ramadhan, menjaga shalat sunnah, membaca Al-Qur'an, dan bersedekah adalah amalan yang dianjurkan sepanjang tahun.

People also Ask:

Apa tanda-tanda puasa yang diterima oleh Allah?

Tanda puasa diterima Allah adalah adanya perubahan positif yang berkelanjutan setelah Ramadan, seperti menjadi lebih takwa, rajin ibadah (shalat, sedekah, zikir), menjaga lisan dan perbuatan dari maksiat, serta konsisten melakukan kebaikan, menunjukkan peningkatan kualitas diri dan ketenangan hidup, bukan sekadar ibadah fisik yang berhenti.

Keistimewaan 10 hari kedua bulan Ramadhan?

Fase 10 hari kedua (bertepatan dengan hari ke-11 hingga hari ke-20 Ramadhan) seringkali menjadi titik di mana euforia awal mulai menurun, masjid mulai menyusut jamaahnya, dan kelelahan fisik mulai terasa. Padahal, secara substansial, ini adalah masa transisi emas di mana Allah SWT membuka pintu ampunan seluas-luasnya.

Apa itu Ramadan PDF?

Ramadan adalah salah satu bulan terpenting dalam kalender Islam. Ini adalah bulan di mana puasa, rukun Islam keempat, diwajibkan, dan bulan di mana Al-Quran diturunkan . Para sahabat Nabi ﷺ mengetahui nilai yang sangat besar dari bulan ini.

Ciri ciri ibadah yang diterima Allah?

Berikut ini empat tanda bahwa ibadah seseorang dilakukan dengan ikhlas dan berpotensi besar diterima oleh Allah SWT.Tidak Mencari Pujian dari Manusia. ...Tetap Konsisten Meski Tidak Diperhatikan. ...Tidak Mengungkit Amal Kebaikan. ...Merasa Tenang dan Bahagia Setelah Ibadah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya