Liputan6.com, Jakarta - Hari Strategi Konservasi Dunia (World Conservation Strategy Day) diperingati setiap tanggal 6 Maret. Namun, masih banyak orang yang belum mengetahui peringatan hari penting ini. Berikut alasan pentingnya membangkitkan kesadaran strategi konservasi melalui Hari Strategi Konservasi Dunia.
Pada 6 Maret 1980 dirilis sebuah dokumen bertajuk World Conservation Strategy (WCS) yang melibatkan 31 negara dunia.
Advertisement
WCS diinisiasi oleh United Nations Environment Programme (UNEP) bersama dengan World Wildlife Fund (WWF) dengan International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN).
Peluncuran dokumen WCS ini dilatar belakangi oleh dua kondisi utama hubungan manusia dan alam pada saat itu.
Pertama, kemampuan manusia yang hampir tak terbatas mendorong pembangunan dalam skala besar, serta inovasi terus menerus yang bila dilakukan tanpa tanggung jawab bisa memberikan dampak yang tidak baik bagi ekosistem seperti bencana alam.
Selain itu, kebutuhan yang semakin meningkat berdampak pada pandangan dangkal manusia ketika memutuskan untuk mengeksploitasi sumber daya alam.
Situasi ini semakin menggarisbawahi kebutuhan terhadap strategi konservasi yang mendorong pola pembangunan yang ramah lingkungan dengan nilai guna yang tinggi dan berkelanjutan.
Kedua, hubungan antara tindakan dan tanggung jawab global. Hal ini menimbulkan kebutuhan akan strategi dalam skala yang sama, baik dalam konteks pembangunan maupun konservasi dan sumber daya alam.
Sejalan dengan hal tersebut, pada tahun 2025 Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyusun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) komodo sebagai panduan nasional perlindungan satwa endemik Indonesia hingga 2035 guna menjaga kelestarian populasi dan habitatnya di alam liar.
“Tujuan utamanya tentu untuk menjaga dan mempertahankan kelestarian satwa komodo. Dalam dokumen ini ada empat program utama, kegiatan strategis, dan rencana aksi,” ujar Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kemenhut Ahmad Munawir, melansir Antara, Jumat 6 Maret 2026.
Tujuan Strategi Konservasi Dunia
Strategi konservasi dunia memiliki tujuan utama untuk memajukan pembangunan berkelanjutan melalui konservasi. Untuk mencapai tujuan tersebut, WCS menjabarkan tiga strategi, yaitu:
1. Menjelaskan kontribusi konservasi sumber daya kehidupan terhadap keberlangsungan hidup manusia dan pembangunan berkelanjutan.
2. Mengidentifikasi isu konservasi yang diprioritaskan dan kebutuhan utama dalam menanganinya.
3. Menawarkan metode efektif untuk mencapai tujuan strategi.
Ketiga strategi ini bertujuan memantik pendekatan yang lebih terfokus terhadap konservasi sumber daya kehidupan, serta menyediakan panduan kebijakan untuk merealisasikannya.
Secara rinci, strategi-strategi dalam dokumen tersebut mengidentifikasi tindakan-tindakan yang dibutuhkan, baik untuk meningkatkan efisiensi konservasi, maupun mengintegrasikan konservasi dengan pembangunan.
Dengan kata lain, peringatan Hari Strategi Konservasi Dunia menggambarkan semangat dan kesadaran warga dunia terhadap pentingnya bergerak beriringan dalam upaya konservasi.
Urgensi Strategi Konservasi di Indonesia
Hutan Indonesia memiliki keanekaragaman hayati hingga 1,3 persen daratan dunia. Dengan keberagamannya itu, Indonesia menyumbang kontribusi besar terhadap keanekaragaman hayati global.
Namun, keanekaragaman hayati di Indonesia menghadapi ancaman yang semakin serius dan mengkhawatirkan.
Setidaknya sekitar 400 spesies tumbuhan terancam dari kepunahan dan lebih dari 600 spesies lainnya berada dalam kategori hampir terancam (Near Threatened). Kondisi ini yang kemudian memposisikan Indonesia dalam salah satu prioritas utama konservasi tumbuhan global.
Selain itu, hutan rawa gambut tropis menjadi ekosistem paling sensitif dan rentan di dunia, salah satunya Semenanjung Kampar di Provinsi Riau.
Pada lanskap tersebut terdapat empat kawasan lindung seperti tiga Suaka Margasatwa (Tasik Metas, Tasik Belat, Tasik Serkap), serta Taman Nasional Zamrud seluas 45.000 hektar. Selain itu, disana juga terdapat kawasan Restorasi Ekosistem Riau (RER) seluas kurang lebih 130.000 hektare.
RER adalah sebuah program kolaboratif antara publik dan kelompok swasta dalam tujuan yang sama untuk memulihkan dan melestarikan Semenanjung Kampar, kawasan hutan gambut yang memiliki nilai ekologi penting di Indonesia. Didukung oleh APRIL, sebuah perusahaan pulp, kertas dan serat terkemuka di dunia.
RER merupakan salah satu strategi yang didorong oleh WCS bagaimana pelaku pembangunan dapat berjalan beriringan dengan upaya konservasi sumber daya kehidupan.