IAEA: Tak Ada Bukti Iran Bangun Bom Nuklir, tapi Stok Uranium Jadi Kekhawatiran

IAEA menekankan bahwa pihaknya tidak dapat memberikan jaminan bahwa program nuklir Iran sepenuhnya bersifat damai.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 05 Maret 2026, 17:02 WIB
Kombinasi gambar yang dibuat pada tanggal 22 Juni 2025 menggunakan citra satelit yang dirilis oleh Maxar Technologies menunjukkan fasilitas pengayaan nuklir Isfahan milik Iran pada tanggal 16 Juni 2025 (atas), dan fasilitas pengayaan nuklir Isfahan milik Iran di Iran bagian tengah setelah serangan AS pada tanggal 22 Juni 2025. (Citra satelit ©2025 Maxar Technologies/AFP)

Liputan6.com, Wina - Kepala International Atomic Energy Agency (IAEA) Rafael Grossi menyatakan belum ada bukti bahwa Iran saat ini sedang mengembangkan bom nuklir. Meski demikian, ia menegaskan masih ada sejumlah persoalan serius terkait program nuklir Teheran yang belum terselesaikan.

Dalam pernyataan yang disampaikan Selasa (3/3/2026) malam, Grossi mengatakan Iran memiliki persediaan uranium yang diperkaya dalam jumlah besar, bahkan sebagian telah mencapai tingkat yang mendekati level yang dapat digunakan untuk senjata nuklir. Namun, menurutnya, IAEA sejauh ini belum menemukan indikasi bahwa Iran tengah membuat senjata nuklir.

“Kami belum melihat bukti bahwa Iran sedang mengembangkan bom nuklir,” kata Grossi, dikutip dari laman Middleeastmonitor, Kamis (5/3).

Meski demikian, ia menyoroti terbatasnya akses yang diberikan Iran kepada para inspektur internasional. Menurutnya, pembatasan tersebut meningkatkan kekhawatiran di dalam badan pengawas nuklir PBB itu.

Grossi memperingatkan bahwa tanpa kerja sama penuh dari Teheran untuk menjawab berbagai pertanyaan yang masih menggantung, IAEA tidak akan dapat memberikan jaminan bahwa program nuklir Iran sepenuhnya bersifat damai.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Permusuhan antara ketiga pihak dilaporkan pecah pada Sabtu lalu setelah perundingan mengenai program nuklir Iran gagal mencapai kesepakatan.

Sehari sebelum konflik meletus, Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi menyatakan Iran pada prinsipnya bersedia untuk tidak menyimpan uranium yang telah diperkaya sebagai bagian dari pembahasan diplomatik yang sedang berlangsung.

Menurut al-Busaidi, proposal tersebut mencakup penyerahan material uranium yang telah diperkaya serta penerapan mekanisme verifikasi guna memastikan tidak ada bahan bakar nuklir yang ditimbun.

Namun, Presiden AS Donald Trump tetap bersikeras bahwa Iran seharusnya tidak melakukan pengayaan uranium sama sekali, bahkan pada tingkat rendah yang berada di bawah level untuk senjata nuklir. Washington selama ini menuntut Teheran menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium sebagai syarat utama penyelesaian sengketa nuklir tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya