Liputan6.com, Jakarta - Hari Raya Idulfitri merupakan waktu yang sangat penting bagi umat Islam di seluruh dunia. Perayaan ini menandai berakhirnya bulan suci Ramadan dan menjadi momen berkumpulnya keluarga. Selain itu, Idulfitri juga diwarnai dengan berbagai amalan ibadah yang memiliki makna mendalam. Salah satu praktik yang sering dilakukan adalah membedakan rute berangkat dan pulang saat melaksanakan salat Idulfitri.
Rasulullah Muhammad SAW menjadi teladan dalam hal ini, dan ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Memahami hukum dan tujuan dari praktik ini dapat memperkaya pengalaman beribadah dan memperkuat ikatan spiritual di antara umat Islam.
Advertisement
Sebenarnya bagaimana hukum dalam Islam saat berbeda rute dalam melaksanakan ibadah salat Idulfitri? Untuk mengetahuinya, simak informasi selengkapnya berikut, dirangkum Liputan6.
Apa Itu Membedakan Rute Berangkat dan Pulang saat Salat Idulfitri
Membedakan rute berangkat dan pulang saat salat Idulfitri adalah praktik menempuh jalan yang berbeda ketika pergi menuju lokasi salat Id dan kembali ke rumah setelahnya. Praktik ini merupakan sunah yang dianjurkan dalam Islam, khususnya pada hari raya Idulfitri dan Iduladha. Umat Islam disarankan untuk tidak menggunakan jalur yang sama persis saat pergi dan kembali dari tempat pelaksanaan salat.
Rasulullah Muhammad SAW menjadi teladan dalam praktik ini. Anjuran ini tidak bersifat wajib, tetapi memiliki nilai keutamaan bagi mereka yang melaksanakannya. Pelaksanaan sunah ini menjadi bagian dari rangkaian amalan yang dapat melengkapi ibadah salat Idulfitri.
Observasi menunjukkan bahwa umat Islam di berbagai daerah sering menerapkan sunah ini dengan menempuh jalan yang sedikit berbeda, baik itu jalan yang lebih panjang saat berangkat atau sekadar jalan alternatif saat pulang. Tujuannya adalah untuk mengikuti jejak Rasulullah SAW dan meraih keberkahan dari amalan tersebut.
Membedakan Rute Berangkat dan Pulang saat Salat Idulfitri Merupakan Anjuran Rasulullah
Praktik membedakan rute berangkat dan pulang saat salat Idulfitri merupakan anjuran yang bersumber dari tindakan Rasulullah Muhammad SAW. Banyak ulama menjelaskan bahwa Rasulullah SAW selalu menempuh jalan yang berbeda ketika pergi dan kembali dari salat Id. Hal ini diriwayatkan dalam beberapa hadis, salah satunya dari Jabir bin Abdullah RA yang menyatakan bahwa Nabi SAW pada hari raya menempuh jalan yang berlainan.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menegaskan anjuran ini dalam karyanya Ghuniyatul Thalibin, dikutip dari NU Online, bahwa umat mukmin dianjurkan untuk pergi dan pulang dari salat Id melalui jalan yang berbeda. Penjelasan ini didasarkan pada riwayat berbunyi:
"ويستحب إذا خرج المؤمن إلى صلاة العيد في طريق أن يرجع في طريق أخرى لما روى ابن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم أخذ يوم العيد في طريق ورجع في طريق أخرى."
Artinya: "Orang Mukmin dianjurkan pergi dan pulang dari shalat id dari jalan yang berbeda karena Ibnu Umar menyatakan bahwa Nabi SAW pergi dan pulang shalat id dari jalan yang berbeda."
Mengapa Rute Berangkat dan Pulang saat Salat Idulfitri Jadi Sunnah Lebaran?
Anjuran membedakan rute berangkat dan pulang saat salat Idulfitri memiliki berbagai hikmah yang dijelaskan oleh para ulama. Salah satu hikmah adalah untuk memperbanyak langkah kaki, yang setiap langkahnya dapat menghapus dosa dan menambah pahala. Dengan menempuh jalan yang lebih panjang atau berbeda, seseorang berkesempatan mengumpulkan lebih banyak kebaikan.
Hikmah lain yang sering disebut adalah untuk memperluas silaturahmi dan interaksi sosial. Dengan melewati jalan yang berbeda, seseorang dapat bertemu dengan lebih banyak orang, menyapa, dan bermaaf-maafan, sehingga mempererat tali persaudaraan sesama muslim. Ini juga menjadi kesempatan untuk menyebarkan syiar Islam dan menunjukkan kegembiraan hari raya kepada masyarakat yang lebih luas.
Selain itu, ada pandangan yang menyatakan bahwa tujuan dari praktik ini adalah agar kedua jalan yang dilalui menjadi saksi bagi amal ibadah seseorang di Hari Kiamat. Beberapa ulama juga berpendapat bahwa hal ini dilakukan untuk bersedekah kepada orang-orang fakir yang mungkin berada di jalur berbeda, atau untuk menunjukkan kebencian terhadap orang-orang munafik. Berbagai penafsiran ini menunjukkan kekayaan makna di balik sunah Rasulullah SAW.
Apakah Sunnah Ini Berlaku Juga di Luar Lebaran?
Sunah membedakan rute berangkat dan pulang ini secara spesifik dikaitkan dengan salat Idulfitri dan Iduladha. Hadis-hadis yang menjadi dasar anjuran ini secara eksplisit menyebutkan konteks "hari raya" atau "hari Id". Oleh karena itu, penerapan sunah ini umumnya dipahami berlaku pada dua momen hari raya tersebut.
Tidak ada indikasi yang jelas dalam sumber-sumber utama Islam yang menganjurkan praktik serupa untuk salat-salat fardu harian atau salat Jumat. Meskipun prinsip memperbanyak langkah menuju masjid dan memperluas silaturahmi adalah hal yang baik secara umum, anjuran spesifik untuk membedakan rute pergi dan pulang tidak disebutkan untuk ibadah di luar hari raya.
Dengan demikian, umat Islam mengamalkan sunah ini sebagai bagian dari kekhasan perayaan Idulfitri dan Iduladha. Ini adalah salah satu cara meneladani Rasulullah SAW dalam konteks ibadah hari raya, yang memiliki makna dan hikmah tersendiri yang tidak selalu relevan untuk ibadah rutin lainnya.
Pandangan Ulama Tentang Alasan Rasulullah yang Melewati Rute Berbeda Ketika Salat Idulfitri
Para ulama memiliki berbagai pandangan mengenai alasan spesifik Rasulullah SAW menempuh rute yang berbeda saat berangkat dan pulang dari salat Id. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mencatat adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait hal ini. Salah satu pendapat menyebutkan bahwa Rasulullah SAW ingin mempercepat perjalanan pulang setelah menempuh jalan yang lebih panjang saat berangkat untuk mendapatkan pahala lebih banyak.
Pendapat lain mengemukakan bahwa tujuan Rasulullah SAW adalah agar lebih banyak orang dapat melihat beliau dan mendapatkan keberkahan dari pertemuan tersebut. Melihat wajah Rasulullah SAW dianggap sebagai kebahagiaan dan rahmat, sehingga beliau melewati banyak jalan agar semua orang mendapat rahmat. Ini juga sejalan dengan tujuan menyebarkan syiar Islam dan menunjukkan kegembiraan hari raya kepada khalayak luas.
Imam an-Nawawi, sebagaimana dijelaskan oleh Musthafa Dib al-Bugha, juga mengemukakan beberapa hikmah, termasuk agar dua jalan itu menjadi saksi pada hari kiamat, untuk menyebarkan zikir kepada Allah SWT, bersedekah kepada orang fakir, dan menunjukkan kewaspadaan terhadap orang munafik. Meskipun terdapat beragam penafsiran, inti dari semua pandangan ini adalah bahwa tindakan Rasulullah SAW selalu mengandung kebaikan dan pelajaran bagi umatnya.
Pertanyaan dan Jawaban Sesuai Topik
Q: Apa hukum membedakan rute saat salat Idulfitri?
A: Hukum membedakan rute saat salat Idulfitri adalah sunah, artinya dianjurkan untuk dilakukan.
Q: Siapa ulama yang menjelaskan sunah membedakan rute salat Idulfitri dalam Ghuniyatul Thalibin?
A: Syekh Abdul Qadir Al-Jailani adalah ulama yang menjelaskan sunah ini dalam kitabnya.
Q: Apa hikmah di balik membedakan rute berangkat dan pulang salat Idulfitri?
A: Hikmah di balik membedakan rute antara lain untuk memperbanyak langkah kaki dan memperluas silaturahmi.
Q: Apakah sunah ini hanya berlaku untuk salat Idulfitri saja?
A: Ya, sunah ini berlaku untuk salat Idulfitri dan Iduladha.
Q: Apa saja pandangan ulama mengenai alasan Rasulullah SAW membedakan rute salat Idulfitri?
A: Ulama berpendapat bahwa Rasulullah SAW ingin mempercepat perjalanan pulang dan agar lebih banyak orang melihat beliau.