Konflik Timur Tengah Ganggu Ekspor Mobil dari China, Pasar Eropa Terdampak

Konflik yang terjadi di Timur Tengah, membuat bisnis ekspor kendaraan dari China terganggu, bahkan bisa berefek ke pasar Eropa

oleh Arief AszhariDiterbitkan 04 Maret 2026, 19:03 WIB
China siap perketat ekspor mobil listrik mulai 2026 demi jaga kualitas dan kepercayaan pasar global (BYD)

Liputan6.com, Jakarta - Ekspor mobil buatan China tengah menghadapi tantangan serius akibat meningkatnya ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah. Ketegangan ini bukan hanya menghentikan penjualan langsung ke negara-negara seperti Iran, tetapi juga mengganggu rute distribusi utama melalui pelabuhan Jebel Ali di Dubai, yang selama ini menjadi jalur penting bagi mobil Tiongkok yang akan dikirim ke wilayah lain di Timur Tengah serta Afrika Barat dan Afrika Utara.

Dilansir Carnewschina, seorang manajer ekspor dari salah satu produsen mobil Tiongkok mengatakan, "Bisnis kami di Iran benar-benar terhenti," ujarnya, seraya menggambarkan kesulitan operasional yang dialami.

Sementara itu, seorang pelaku perdagangan mobil menjelaskan bahwa banyak perusahaan China memanfaatkan Dubai sebagai pusat transit sebelum kendaraan dikirim ke tujuan akhir. Namun, situasi sekarang membuat fungsi ini menjadi tidak aman dan berdampak luas pada rantai pasokan.

Data menunjukkan bahwa Uni Emirat Arab (UAE) kini menjadi salah satu tujuan ekspor mobil China terbesar ketiga pada 2025, di bawah Meksiko dan Rusia, dengan volume mencapai sekitar 567 ribu unit.

Angka ini bahkan lebih tinggi dari total penjualan mobil di dalam negeri UAE, yang kurang dari 400 ribu unit, sehingga menegaskan peran Dubai sebagai pusat distribusi penting bagi pelaku industri otomotif China.

Gangguan ini bertambah parah ketika pelabuhan Jebel Ali diserang pada 1 Maret, sehingga operasional sempat terhenti.

Meskipun operator pelabuhan mengumumkan pemulihan sebagian aktivitas pada beberapa dermaga, banyak perusahaan pelayaran tetap menghentikan layanan mereka, yang membuat pelabuhan secara fungsional tidak berjalan normal.

Efek dari gangguan di Timur Tengah ini tidak hanya dirasakan di kawasan tersebut tetapi juga merembet ke pasar Eropa.

Jalur pengiriman melalui Terusan Suez dan Laut Merah kini dianggap berisiko tinggi, sehingga kapal harus mengalihkan rute mengelilingi Tanjung Harapan, yang menambah waktu perjalanan hingga 10 sampai 15 hari.

Pengiriman ke Eropa Terlambat

Hal ini berpotensi memperlambat pengiriman mobil China ke benua Eropa yang merupakan pasar utama ekspor kendaraan energi baru China.

Menurut data dari China Association of Automobile Manufacturers (CAAM), total ekspor kendaraan China mencapai lebih dari 7 juta unit pada 2025, naik sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Semula, CAAM memperkirakan pertumbuhan ekspor akan melanjutkan tren positif di 2026, namun eskalasi konflik ini bisa memaksa produsen dan asosiasi industri untuk mempertimbangkan kembali proyeksi tersebut.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya