Peretasan Kripto Turun Tajam pada Februari, Kerugian Susut 90%

Nilai kerugian akibat peretasan anjlok lebih dari 90% pada Februari 2026 menjadi USD 35,7 juta.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 03 Maret 2026, 14:00 WIB
Ilustrasi peretas atau cyber hacker internet atau kripto. (Foto by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai kerugian akibat eksploitasi kripto anjlok lebih dari 90% pada Februari. Sepanjang bulan itu, total dana yang dicuri tercatat sekitar USD 35,7 juta atau setara Rp 601,7 miliar (asumsi kurs Rp 16.885 per dolar AS), jauh lebih rendah dibanding bulan sebelumnya.

Melansir Yahoo Finance, Selasa (3/3/2026), penurunan ini menjadi yang terendah sejak Maret 2025 dan memberi jeda bagi industri kripto yang biasanya dirugikan ratusan juta dolar akibat peretasan.

Tetap Ada Serangan Besar

Data perusahaan keamanan blockchain CertiK menunjukkan penurunan signifikan secara bulanan maupun tahunan. Sebagai perbandingan, Februari tahun lalu diwarnai peretasan besar senilai USD 1,5 miliar atau setara Rp 25,2 triliun di bursa Bybit yang membuat angka tahunan melonjak tajam.

Meski total kerugian turun, sejumlah serangan besar tetap terjadi. Insiden terbesar terjadi pada 22 Februari di jaringan Stellar, ketika peretas mengeksploitasi pool YieldBlox Blend dan mencuri lebih dari USD 10 juta atau setara Rp 168,5 miliar melalui manipulasi oracle pada pasar dengan likuiditas tipis. Pelaku menaikkan harga token secara artifisial hingga 100 kali lipat, lalu menarik pinjaman besar tanpa jaminan memadai.

Sehari sebelumnya, proyek IoT IoTeX juga diretas setelah kunci pribadi bocor. CertiK memperkirakan kerugian hampir USD 9 juta atau setara Rp 151,6 miliar, meski tim IoTeX menyebut jumlahnya mendekati USD 2 juta atau setara Rp 33,7 miliar. Dana curian disebut ditukar ke ETH lalu dialihkan ke Bitcoin melalui jembatan lintas rantai.

Serangan lain menimpa Foom.Cash dengan kerugian sekitar USD 2,2 juta. Peretas memanfaatkan celah kriptografi untuk memalsukan bukti zkSNARK sehingga dapat menarik token dalam jumlah besar.

 

Phishing Masih Jadi Ancaman

Ilustrasi peretas atau cyber hacker internet atau kripto. (Foto by AI)

Selain celah kontrak pintar, phishing tetap menjadi sumber kerugian signifikan, menyumbang USD 8,5 juta pada Februari.

Modus ini kian marak dengan hadirnya layanan “drainer-as-a-service” seperti Angel Drainer dan Inferno Drainer. Platform ini menyediakan infrastruktur siap pakai bagi pelaku, mulai dari situs palsu, akun media sosial tiruan, hingga skrip otomatis, dengan imbalan persentase dari dana yang berhasil dicuri.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya