Warga DKI Disabilitas Keluhkan Kondisi Halte dan Bus di Jakarta Belum Inklusif, Curhat ke Pramono

Warga penyandang disabilitas curhat soal kendala akses transportasi umum kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 03 Maret 2026, 12:15 WIB
Warga penyandang disabilitas menyampaikan keluhannya soal kendala akses transportasi umum kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. (Liputan6.com/Winda Nelfira)

Liputan6.com, Jakarta - Seorang warga DKI Jakarta penyandang disabilitas bernama Catur yang menggunakan kursi roda menyampaikan keluhannya soal kendala akses transportasi umum kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

Hal ini disampaikan Catur kepada Pramono usai peresmian Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Halte Transjakarta MH Thamrin, Sarinah, Jakarta Pusat, Senin 2 Maret 2026. JPO Sarinah menjadi salah satu halte yang dilengkapi lift untuk memudahkan penyandang disabilitas mengakses transportasi umum.

Catur yang sehari-hari aktif menggunakan transportasi umum ini menyatakan saat ini baru sekitar 55 halte yang dinilai telah aksesibel bagi penyandang disabilitas. Sementara itu, sejumlah halte lain masih belum dilengkapi fasilitas pendukung yang memadai.

"Kalau tidak salah yang sudah ada itu 55 halte ya, 55 halte yang sudah aksesibel untuk teman-teman disabilitas, tetapi sisanya itu masih ada yang belum," kata Catur.

Selain itu, Catur juga menyoroti layanan Minitrans dan Transjakarta yang dinilai masih sulit diakses bagi pengguna kursi roda. Pasalnya, posisi bus dan halte yang saat ini beroperasi di Jakarta disebut masih relatif tinggi bagi pengguna kursi roda.

"Itu kan haltenya masih tinggi-tinggi ya, busnya masih tinggi-tinggi. Jadi saya harap itu bisa ada yang lebih rendah karena kebetulan saya tinggal di Penggilingan rumahnya, dan Minitrans itu tinggi-tinggi," ucap Catur.

Selain itu, Catur juga menekankan pentingnya perawatan fasilitas ramah disabilitas yang saat ini sudah tersedia di Jakarta. Hal itu termasuk ihwal perawatan lift ramah disabilitas pada jembatan penyeberangan orang (JPO).

"Harapan saya lift-nya jangan sampai mati," jelas Catur.

 

Pramono Anung Resmikan JPO Sarinah, Jadi Ramah Disabilitas dan Lansia

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan JPO Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, usai rampung revitalisasi. (Liputan6.com/Winda Nelfira)

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat (Jakpus), yang rampung direvitalisasi pada Senin 2 Maret 2026. jembatan yang sebelumnya terbengkalai itu kini tampil lebih modern dan ramah disabilitas serta lansia.

"Pada hari ini Senin tanggal 2 Maret tahun 2026, revitalisasi jembatan penyeberangan orang halte Transjakarta MH Thamrin Sarinah saya nyatakan diresmikan," kata Pramono di lokasi.

Pantauan Liputan6.com, JPO Sarinah dilengkapi dengan fasilitas lift bergaya kaca transparan untuk mempermudah akses bagi penyandang disabilitas, lansia, maupun masyarakat dengan keterbatasan mobilitas. jembatan itu menghubungkan pejalan kaki dengan halte Transjakarta MH Thamrin.

Keberadaan JPO itu nampak memakan sebagian bahu trotoar. Sedangkan sebagian trotoar yang tersisa didesain ulang sebagai jembatan khusus pejalan kaki.

Pramono menyatakan, JPO Sarinah adalah jembatan penyeberangan pertama yang dimiliki oleh Jakarta, yang diresmikan oleh Gubernur Ali Sadikin pada April 1968.

 

Tetap Pertahankan Pelican Crossing

Pekerja melintasi pelican crossing di kawasan Jakarta, Senin (9/10/2023). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Revitalisasi JPO sengaja dilengkapi dengan lift agar ramah bagi disabilitas. Kendati telah direvitalisasi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI tidak menghilangkan pelican crossing bagi pejalan kaki.

"Dengan demikian, masyarakat yang suka berjalan akan punya pilihan untuk menyeberang, tetapi bagi yang berkebutuhan khusus atau disabilitas bisa memanfaatkan ini dan sebagainya. Dan ini juga untuk publik bisa memanfaatkan," kata Pramono.

Dikarenakan pembangunan JPO Sarinah tersebut memakan sebagian bahu trotoar, Pemprov DKI Jakarta bakal memperlebar trotoar ke arah badan jalan sebesar 2,6 meter. Dengan begitu, akses pejalan kaki diharapkan tidak akan terganggu karena keberadaan JPO.

"Nantinya pedestrian ini akan dilebarkan kurang lebih 2,6 (meter). Sehingga dengan demikian pedestrian ini akan bisa lebih luas, lebih lebar," jelas Pramono.

Infografis Cara hingga Titik Buang Sampah Besar Gratis Pemprov DKI Jakarta. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya