Tradisi Ramadan di Iran: Ibadah, Budaya, dan Solidaritas Komunitas

Seperti apa tradisi Ramadan yang hingga kini masih dipegang warga Iran?

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 03 Maret 2026, 07:10 WIB
Bendera Iran (Atta Kenare / AFP PHOTO)

Liputan6.com, Teheran - Di Iran, bulan suci Ramadan bukan sekadar periode berpuasa dari fajar hingga senja, tetapi juga momen kuatnya tradisi budaya dan solidaritas sosial yang sudah berlangsung berabad-abad.

Umat Muslim di seluruh negeri menjalankan ritual puasa dengan mulai sahur sebelum adzan Subuh dan berbuka (iftar) setelah adzan Maghrib, di mana keluarga dan tetangga berkumpul untuk berbagi makanan dan doa bersama.

Masjid-masjid di kota besar seperti Teheran, Mashhad, dan Qom menjadi pusat aktivitas ibadah malam, termasuk tarawih dan bacaan Al-Qur’an, yang memperkuat aspek spiritual bulan suci ini. Selain itu, sejumlah komunitas mengadakan pembacaan bersama setiap juz Al-Qur’an dan malam doa menjelang Laylat al-Qadr, yang dianggap sebagai malam paling mulia dalam kalender Ramadan.

Tradisi kuliner juga memainkan peran penting. Makanan khas seperti sholezard, puding beras dengan saffron dan air mawar yang manis, serta kue reshteh khoshkar khas Provinsi Gilan, menjadi hidangan populer saat berbuka puasa. Hidangan lain seperti sop tradisional, daging panggang, dan kurma hampir selalu hadir di meja iftar.

Ramadan di Iran turut ditandai dengan semangat derma dan solidaritas. Banyak keluarga dan organisasi amal menyiapkan nazri, makanan yang dibagikan kepada fakir miskin menjelang iftar, serta menggalang sumbangan untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Perayaan ini mencapai puncaknya dengan salat Eid al-Fitr, yang menandai berakhirnya Ramadan dengan doa berjamaah dan perayaan bersama keluarga

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya