Liputan6.com, Jakarta - Makna kata ‘takjil’ di Indonesia terus berevolusi. Bermula dari akar kata bahasa Arab ‘ajila’ yang berarti menyegerakan berbuka, istilah ini perlahan bergeser menjadi sinonim kudapan berbuka.
Kini, fenomena tersebut kembali mengalami metamorfosis: berburu takjil telah bertransformasi menjadi tradisi ngabuburit yang tak tergantikan bagi generasi muda.
Advertisement
Laporan terbaru dari Populix bertajuk "Berburu Takjil Menurut Gen Z dan Milenial" mengungkap bahwa aktivitas mencari kudapan sore kini menduduki kasta tertinggi dalam daftar kegiatan menunggu azan Magrib. Tren ini mengalahkan aktivitas populer lainnya seperti berselancar di media sosial maupun menyiapkan masakan sendiri di rumah.
Research Director Populix, Susan Adi Putra, menyatakan bahwa fenomena ini bukan lagi sekadar upaya mencari pengganjal perut. Bagi sebagian besar anak muda, hiruk-pikuk di pasar kaget atau trotoar jalanan adalah inti dari pengalaman berpuasa itu sendiri.
"Sekitar 41% anak muda memandang kegiatan berburu takjil bukan hanya sebagai self-reward setelah seharian menahan lapar, melainkan sebuah tradisi khas Ramadan yang memiliki nilai emosional tersendiri," ujar Putra dalam keterangan resminya, Selasa (3/3/2026).
Data menunjukkan bahwa berburu takjil telah menjadi rutinitas harian. Lebih dari separuh responden, baik laki-laki maupun perempuan, mengaku membeli takjil hampir setiap hari. Hanya segelintir kecil, yakni sekitar 5%, yang mengaku jarang atau tidak pernah membeli takjil sama sekali selama bulan suci.
Es Teh vs Kue Tradisional
Riset yang dilakukan pada 18-19 Februari 2025 ini juga memetakan preferensi lidah para pemburu takjil. Terdapat perbedaan kontras antara kelompok umur dan gender dalam memilih menu favorit:
- Gen Z: Cenderung memprioritaskan kesegaran. Minuman manis seperti es teh, es buah, dan es campur menjadi incaran utama.
- Milenial & Perempuan: Menunjukkan kecenderungan kuat pada aspek nostalgia dan autentisitas dengan memilih kue-kue tradisional.
- Menu Universal: Gorengan tetap menjadi "juara umum" yang paling banyak dicari, disusul oleh kurma, dessert kekinian, hingga makanan berat seperti nasi dan lontong.
Peluang Ekonomi di Jalur Digital
Meskipun interaksi langsung dengan pedagang kaki lima (PKL) masih mendominasi karena sensasi ngabuburit yang ditawarkan, kanal digital mulai menunjukkan taji.
Sekitar sepertiga responden, terutama dari kalangan perempuan, kini memanfaatkan aplikasi pesan-antar makanan, media sosial, hingga pesan instan untuk mendapatkan takjil pilihan mereka.
"Penjualan secara online membuka peluang besar bagi pelaku usaha untuk meraup omzet lebih tinggi, melengkapi pasar fisik yang sudah ada," Putra menambahkan.
Survei ini melibatkan 1.000 responden dari kalangan milenial dan Gen Z dengan profil ekonomi menengah ke atas. Dengan 93% responden beragama Islam, temuan ini memberikan gambaran jernih bagaimana lanskap sosial-ekonomi Ramadan di Indonesia terus bergerak mengikuti gaya hidup generasi digital.