Spesies Semut Ini Mampu Bereproduksi Tanpa Jantan

Spesies semut unik dari Jepang ini hanya terdiri dari ratu yang dapat bereproduksi tanpa semut pekerja dan jantan.

oleh Erin Rahayu PutriDiterbitkan 02 Maret 2026, 20:30 WIB
Ilustrasi Spesies Semut/https://unsplash.com/Prince Patel

Liputan6.com, Jakarta - Para peneliti mengonfirmasi keberadaan spesies semut unik yang seluruh koloninya hanya terdiri dari ratu. Spesies bernama Temnothorax kinomurai ini tidak memiliki semut pekerja maupun jantan, dan berkembang biak secara aseksual melalui proses kloning.

Temuan ini mematahkan anggapan umum bahwa keberadaan pekerja merupakan elemen esensial dalam struktur koloni semut. Pada umumnya, koloni semut bergantung pada kasta pekerja untuk mencari makan, merawat larva, serta mempertahankan sarang. Tanpa pekerja, sebagian besar spesies diyakini tidak mampu bertahan hidup.  

Namun, Temnothorax kinomurai, semut endemik Jepang, menunjukkan pola berbeda. Seluruh individu dalam spesies ini adalah ratu yang mampu menghasilkan keturunan dari telur yang tidak dibuahi. Dengan kata lain, setiap ratu menciptakan klon dirinya sendiri, dikutip dari laman Oddity Central, Senin (2/3/2026).

Dugaan bahwa spesies ini bereproduksi secara aseksual sebenarnya telah muncul sejak beberapa dekade lalu. Kepastian ilmiah baru diperoleh setelah tim peneliti Jepang dan Jerman melakukan eksperimen laboratorium. Mereka mengumpulkan 43 telur dari sejumlah ratu dan membesarkan keturunannya dalam kondisi terkontrol sambil mengamati pola reproduksi dan perilaku yang muncul. Hasilnya menunjukkan tidak adanya kontribusi genetik dari individu jantan.

Proses reproduksi yang digunakan dikenal sebagai partenogenesis, yakni mekanisme perkembangbiakan tanpa pembuahan. Fenomena ini telah ditemukan pada sejumlah serangga lain, namun belum pernah dikonfirmasi pada spesies semut sebelumnya.

Berdasarkan studi terbaru, Temnothorax kinomurai diduga berevolusi dari nenek moyang semut parasit penghasil “budak” yang menggantungkan tenaga kerja pada spesies lain. Seiring waktu, spesies ini kehilangan kasta jantan dan pekerja, lalu mengembangkan partenogenesis sebagai strategi bertahan hidup.

Dalam praktiknya, spesies ini tetap bergantung pada koloni lain untuk kelangsungan hidupnya. Penelitian menyebutkan Temnothorax kinomurai menyerang koloni spesies semut yang berkerabat dekat, Temnothorax makora. Ratu koloni target dibunuh, sebagian pekerja dieliminasi, dan individu yang tersisa dipaksa membesarkan keturunan ratu penyerbu.

Strategi tersebut menjadikan Temnothorax kinomurai sebagai salah satu contoh ekstrem evolusi sosial pada serangga, sekaligus memperluas pemahaman ilmuwan tentang fleksibilitas sistem reproduksi dan struktur koloni dalam dunia semut.

Bentuk Organisasi Semut

Ilustrasi Semut/https://unsplash.com/Amit Talwar

“Mereka menunjukkan bentuk organisasi sosial yang sepenuhnya baru, menambahkan dimensi menarik lainnya pada dunia semut yang sudah kaya dan beragam,” kata Dr. Jurgen Heinz, dari Universitas Regensburg, Jerman.

"Spesies ini dapat dianggap sebagai langkah terakhir dalam evolusi parasitisme sosial, menyoroti fleksibilitas yang sangat besar dalam sejarah kehidupan serangga sosial.” tambahnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya