Putin Kecam Kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei

Putin menyebut serangan AS dan Israel telah mendorong Timur Tengah ke ambang kehancuran.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 02 Maret 2026, 16:04 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara dalam pertemuan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Iran Hassan Rouhani terkait perdamaian Suriah di Ankara, Turki, Rabu (4/4). (AFP PHOTO/ADEM ALTAN)

Liputan6.com, Moskow - Presiden Rusia Vladimir Putin mengecam kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei sebagai pembunuhan yang “sinis” dan melanggar norma hukum internasional. Namun, selain menyampaikan belasungkawa, Kremlin tidak menunjukkan komitmen dukungan konkret terhadap Teheran.

Dalam pesan resmi kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Putin menyampaikan simpati kepada keluarga Khamenei, pemerintah, dan rakyat Iran, dikutip dari laman Japan Today, Senin (2/3/2026).

“Terimalah belasungkawa mendalam saya sehubungan dengan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Seyed Ali Khamenei, dan anggota keluarganya, yang dilakukan dengan pelanggaran sinis terhadap semua norma moralitas manusia dan hukum internasional,” demikian pernyataan Putin, seperti dikutip Kremlin.

Khamenei (86), dilaporkan tewas dalam serangan udara gabungan Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu (28/2), menurut pengumuman media pemerintah Iran.

Kemunduran Strategis Moskow

Kematian Khamenei menjadi pukulan terbaru bagi jaringan sekutu Moskow. Dalam 15 bulan terakhir, pemimpin yang didukung Rusia di Suriah dan Venezuela juga terguling. Situasi ini dinilai mempersempit ruang pengaruh Rusia di kawasan yang selama ini menjadi arena perebutan geopolitik.

Pemerintah Rusia menyebut serangan AS dan Israel telah mendorong Timur Tengah ke ambang kehancuran. Namun, sejumlah sumber di Iran menyatakan Moskow belum memberikan bantuan nyata dalam krisis terbesar Iran sejak Revolusi 1979 yang menggulingkan Shah pro-AS.

Tahun lalu, ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka berspekulasi tentang kemungkinan perubahan rezim di Iran, Putin memperingatkan bahwa tekanan eksternal justru dapat menyatukan rakyat Iran di belakang kepemimpinan mereka.

Hubungan Dekat yang Teruji

Putin dan Khamenei memiliki hubungan komunikasi yang erat. Kunjungan luar negeri pertama Putin di luar bekas wilayah Uni Soviet sejak invasi Ukraina pada 2022 adalah ke Teheran untuk bertemu Khamenei. Keduanya disebut kerap bertukar pesan tertulis atau menggunakan utusan khusus, menyusul kekhawatiran penyadapan oleh intelijen AS.

Meski Rusia membeli drone dan persenjataan dari Iran untuk perang di Ukraina serta menandatangani perjanjian kemitraan strategis 20 tahun dengan Teheran, hubungan kedua negara tidak mencakup klausul pertahanan bersama. Moskow juga berulang kali menegaskan penolakannya terhadap pengembangan senjata nuklir Iran, dengan alasan risiko perlombaan senjata di Timur Tengah.

Fyodor Lukyanov, pemimpin redaksi majalah Russia in Global Politics, membandingkan kematian Khamenei dengan tumbangnya Muammar Gaddafi pada 2011 dan eksekusi Saddam Hussein pada 2006. Ia menilai peristiwa di Iran mempertegas skeptisisme Moskow terhadap negosiasi dengan Washington.

 

Kalkulasi Politik dan Ekonomi

Serangan ini merupakan balasan langsung atas serangan udara skala besar yang dilakukan oleh militer Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Teheran dan wilayah Iran lainnya pada Sabtu 28 Februari 2026 pagi. Tampak dalam foto, jejak-jejak pencegahan rudal pertahanan udara terlihat di Tel Aviv, Israel, Sabtu 28 Februari 2026. (AP Photo/Ohad Zwigenberg)

Sejauh ini, Kremlin belum menunjukkan tanda-tanda akan berkonfrontasi langsung dengan Presiden AS Donald Trump terkait Iran. Moskow justru dinilai lebih berhati-hati dalam merespons dinamika terbaru, sembari menjaga kepentingannya sendiri.

Di tengah ketidakpastian kepemimpinan pasca-Khamenei, potensi gangguan pasokan minyak dari Teluk Persia dapat menjadi variabel penting. Jika suplai global terganggu dan harga melonjak, Rusia — sebagai eksportir energi utama — berpotensi meraup keuntungan tambahan untuk menopang ekonomi perangnya.

Bagi Moskow, kematian Khamenei bukan hanya kehilangan sekutu lama, tetapi juga ujian atas kemampuan Rusia mempertahankan pengaruhnya di tengah lanskap geopolitik yang terus berubah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya