Liputan6.com, Jakarta - PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) mencatatkan kinerja keuangan yang positif sepanjang tahun buku 2025. Perseroan membukukan penjualan sebesar Rp 21,06 triliun atau meningkat 32% dibandingkan tahun sebelumnya, seiring kenaikan harga jual rata-rata dan volume penjualan produk sawit serta minyak dan lemak nabati.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang telah diaudit untuk periode yang berakhir 31 Desember 2025, laba bruto naik 13% secara tahunan menjadi Rp 5,47 triliun. Laba usaha meningkat 21% menjadi Rp 4 triliun, sementara laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 33% menjadi Rp2,07 triliun. Core profit juga tumbuh 26% menjadi Rp 2,91 triliun.
Advertisement
Dari sisi operasional, produksi Tandan Buah Segar (TBS) inti turun 2% menjadi 2,71 juta ton. Namun, total produksi CPO justru meningkat 4% menjadi 733 ribu ton, didukung kenaikan pasokan TBS dari pihak eksternal.
Rasio pengungkit neto (net gearing) perusahaan juga membaik menjadi 0,04x per akhir 2025, dibandingkan 0,11x pada akhir 2024, mencerminkan struktur permodalan yang semakin sehat.
Direktur Utama SIMP, Paulus Moleonoto, menyatakan, Grup SIMP mencatat kinerja yang positif di 2025 meskipun menghadapi berbagai tantangan agribisnis yang terus berlanjut termasuk volatilitas harga komoditas, kondisi cuaca yang tidak menentu dan ketidakpastian global.
"Grup SIMP tetap berfokus, diantaranya, pada peningkatan pengendalian biaya dan efisiensi, memprioritaskan investasi modal, optimalisasi kegiatan operasional dan produktivitas serta menerapkan praktik-praktik agrikultur secara berkelanjutan," jelas dia dalam keterangan tertulis, Senin (2/3/2026).
SIMP merupakan grup agribisnis terdiversifikasi dan terintegrasi, dengan lini usaha mulai dari riset dan budidaya kelapa sawit hingga pengolahan minyak sawit mentah (CPO) serta distribusi produk turunannya seperti minyak goreng, margarin, dan lemak nabati.
Selain sawit, perusahaan juga mengembangkan komoditas lain seperti karet, tebu, kakao, dan teh.
GAPKI Pede Ekspor Sawit ke AS Tembus 3 Juta Ton Jika Tarif 0 Persen
Sebelumnya, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) optimistis ekspor minyak sawit ke Amerika Serikat (AS) dapat meningkat signifikan apabila kebijakan tarif nol persen kembali diberlakukan. Dalam beberapa tahun terakhir, tren ekspor ke AS terus menunjukkan kenaikan.
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono menyebutkan bahwa dalam lima tahun terakhir volume ekspor minyak sawit Indonesia ke AS terus bertambah. Jika sebelumnya berada di bawah satu juta ton, kini sudah melampaui dua juta ton.
"Saya meyakini kalau ini digarap lagi dengan baik apalagi nanti tarif kembali ke nol persen, harusnya 2-3 tahun ke depan kita bisa mendekati sudah sekitar tiga juta ton," ujar Eddy Martono dikutip dari Antara, Minggu (1/3/2026).
Menurut Eddy, Amerika Serikat merupakan salah satu pasar besar bagi minyak sawit Indonesia. Saat ini, pangsa pasar minyak sawit Indonesia di AS telah mencapai 89 persen dari total impor minyak sawit negara tersebut.
Peluang dari Pergeseran Konsumen AS
GAPKI melihat adanya peluang tambahan dari perubahan preferensi konsumen di Amerika Serikat. Sejumlah konsumen disebut mulai beralih dari minyak kedelai ke minyak sawit, yang dinilai lebih kompetitif dari sisi harga dan ketersediaan.
Situasi ini dinilai dapat menjadi momentum untuk memperluas penetrasi pasar. Namun demikian, GAPKI masih menunggu tindak lanjut pemerintah terkait kepastian kebijakan tarif dalam perjanjian dagang Indonesia-AS.
Pemerintah Indonesia sendiri berharap fasilitas tarif nol persen untuk sejumlah komoditas ekspor tetap berlaku, meski Mahkamah Agung AS membatalkan kebijakan tarif resiprokal yang sebelumnya diberlakukan Presiden Donald Trump.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan bahwa saat ini masih berlangsung masa konsultasi menyusul keputusan Mahkamah Agung tersebut.