Trio Brasil Chelsea: Joao Pedro, Andrey Santos, dan Estevao Siap Tutup Musim dengan Trofi

Joao Pedro, Andrey Santos, dan Estevao. Ketiganya bukan sekadar rekan satu tim di Chelsea, tetapi sudah seperti keluarga.

oleh Ari Rachman PrayogaDiterbitkan 01 Maret 2026, 15:52 WIB
Skuad Chelsea merayakan gol Joao Pedro ke gawang Fulham di pekan ketiga Premier League 2025/2026 di Stamford Bridge, Sabtu (30/08/2025) malam WIB. (AP Photo/Ian Walton)

Liputan6.com, Jakarta - Di sebuah restoran Brasil di kawasan North-West London, tiga pemain muda Chelsea duduk berdekatan di sudut ruangan bawah tanah. Suasananya santai, penuh tawa, dan terasa hangat, sehangat persahabatan yang terjalin di antara mereka.

Adalah Joao Pedro, 24 tahun, yang tampak paling dominan. Ia duduk diapit dua kompatriotnya, Andrey Santos (21) dan wonderkid 18 tahun, Estevao Willian. Ketiganya bukan sekadar rekan satu tim di Chelsea, tetapi sudah seperti keluarga.

Ketika diminta mendeskripsikan satu sama lain dengan satu kata, jawaban mereka kompak: “Saudara.”


Lebih Sering Bersama Ketimbang Keluarga

Pedro tak menampik kedekatan tersebut. Ia bahkan mengaku lebih banyak menghabiskan waktu bersama dua rekannya itu dibandingkan dengan keluarganya sendiri.

“Kami bermain bersama di Chelsea dan juga di tim nasional. Kami bepergian dan berlatih bersama. Hubungan ini akan terus berkembang,” ujar Pedro.

Santos mengangguk setuju. “Joao itu seperti kakak bagi kami,” katanya.

Bagi Estevao, kehadiran dua senior senegaranya menjadi faktor krusial dalam proses adaptasi di Inggris. Meski percaya diri di lapangan, ia masih terlihat pemalu di luar pertandingan, terlebih karena masih menjalani kursus bahasa Inggris dan kerap membutuhkan bantuan Pedro serta Santos untuk menerjemahkan.

“Adaptasi saya jauh lebih mudah karena mereka selalu membantu setiap hari,” ucap Estevao.


London, Cuaca, dan Proses Pendewasaan

Hijrah dari Brasil ke London bukan perkara mudah, apalagi bagi remaja. Namun Estevao merasa ibu kota Inggris itu tidak terlalu asing baginya.

“Saya dulu tinggal di Sao Paulo. Kota itu mirip London, sama-sama sibuk dan lengkap. Tapi cuacanya… saya kedinginan,” katanya sambil tersenyum.

Pedro, yang datang ke Inggris saat remaja bersama Watford, mengaku banyak belajar sejak menetap di sana. Dari budaya hingga bahasa.

“Saya belajar banyak hal di sini. Makanan yang berbeda, bahasa Spanyol, Inggris… sekarang coba belajar Prancis juga,” ujarnya.

Pengalaman itu, menurut Pedro, membentuknya menjadi pribadi yang lebih matang, tanpa menghilangkan “api” khas pemain Amerika Selatan.

Selebrasi gol Joao Pedro pada laga Chelsea vs Brenrford pada pekan ke-22 Premier League 2025/2026 - Dok. Chelsea/@ChelseaFC

Api yang Tak Pernah Padam

Duel Andrey Santos dan Zian Flemming dalam laga Premier League antara Chelsea vs Burnley di Stamford Bridge, 21 Februari 2026. (Ben Whitley/PA via AP)

Pedro dikenal sebagai pemain dengan determinasi tinggi. Di awal kariernya di Inggris, ia disebut terlalu emosional. Namun ia tak melihat itu sebagai kelemahan.

Lanjut Baca:

“Kalau saya kehilangan semangat itu, lebih baik berhenti bermain bola,” tegasnya. “Kami pemain Amerika Selatan punya api di dalam diri. Semua ingin menang.” Semangat serupa juga ia lihat pada rekan-rekannya, termasuk Moises Caicedo dan Enzo Fernandez di skuad Chelsea. Adaptasi bukan cuma soal permainan, tetapi juga identitas. Pedro pernah dipanggil “John” karena namanya sulit diucapkan. Kini giliran Estevao yang punya cerita serupa. Suporter Chelsea menciptakan chant khusus untuknya, lengkap dengan penggalan lagu “I like it”. Namun julukan “Steve” yang muncul belakangan membuatnya tak percaya. “Saya tidak masalah dipanggil apa pun. Saya senang melihat cara fans menyanyikan lagu itu,” katanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya