Liputan6.com, Jakarta - KapanLagi Buka Bareng atau KLBB Festival 2026 yang digelar di Stadion Madya GBK, Senayan, Jakarta, dari 28 Februari hingga 1 Maret 2026 berlangsung meriah sejak hari pertama. Salah satu penampil yang mencuri perhatian, Idgitaf. Tak hanya hadir untuk membawakan lagu-lagu hitnya, Idgitaf membawa komitmen yang konsisten disuarakannya dari panggung ke panggung. Sejatinya, konser harus bisa dinikmati semua orang, tanpa terkecuali.
“Aku menghadirkan performer teman tuli, di mana mereka akan menarikan lagu-lagu dalam bahasa isyarat. Tarian saja sudah sulit, apalagi menari dalam kondisi teman-teman tidak bisa mendengar,” ujar Idgitaf di sela penampilan.
Advertisement
Dalam aksi panggungnya kali ini, Idgitaf juga melibatkan komunitas Fantasi Tuli sebagai bagian dari pertunjukan. Para performer tak sekadar tampil, tetapi menerjemahkan lagu melalui bahasa isyarat dan ekspresi gerak yang selaras dengan irama.
Di atas panggung, Idgitaf tampil dengan energi hangat dan ciri khasnya. Yang membuat penampilannya terasa beda adalah upayanya menghadirkan ruang yang lebih inklusif. Idgitaf ingin memastikan pengalaman menikmati musik tidak terbatas pada mereka yang dapat mendengar secara penuh.
Komitmen itu bukan hal baru. Mei 2024, ia menggelar konser bertajuk “Mengudara Bersama Teman Tuli.” Dalam acara tersebut, sekitar 100 teman tuli diundang untuk menonton gratis. Penampilan lagu-lagu Idgitaf dilengkapi penerjemah bahasa isyarat, sehingga pesan dan emosi di tiap lagu tersampaikan.
Bagi Idgitaf, musik adalah hak semua orang. Ia meyakini keterbatasan pendengaran tidak seharusnya menjadi penghalang untuk merasakan pengalaman konser.
Pengakuan Idgitaf Soal Kondisi Telinganya
Di balik kepedulian terhadap isu kesetaraan, ada alasan yang sangat personal. Idgitaf pernah mengungkap, ia lahir dengan kondisi daun telinga kanan yang tidak terbentuk sempurna. Dalam dunia medis, kondisi tersebut dikenal sebagai microtia. Pengalaman itu membuat Idgitaf merasa memiliki kedekatan emosional dengan komunitas teman tuli.
Baginya, kolaborasi dengan komunitas tuli bukan sekadar konsep atau pemanis panggung. Ia benar-benar melibatkan mereka secara aktif di pertunjukan. Beberapa teman tuli tampil membacakan puisi, menari, hingga menerjemahkan lagu ke dalam bahasa isyarat di atas panggung.