Pemenang Proyek Sampah Jadi Listrik segera Umumkan, Investasi Rp 10 Triliun

Proyek sampah jadi listrik di 4 kota segera diumumkan, investasi tembus USD 600 juta.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 27 Februari 2026, 11:00 WIB
24 perusahaan asing ikut tender sampah jadi listrik tahap pertama di Indonesia. Rencana Pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik di TPA Cipeucang. (Kristianto Purnomo/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Program nasional sampah jadi listrik memasuki tahap penting. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara segera mengumumkan pemenang tender proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy (WtE) tahap pertama di empat kota, yakni Denpasar, Bekasi, Bogor, dan Yogyakarta.

Direktur Investasi PT Danantara Investment Management Fadli Rahman mengatakan, pemenang akan ditetapkan berdasarkan kriteria ketat sesuai Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025.

"Pemenang adalah yang (kriterianya) sesuai dengan Perpres itu (Peraturan Presiden RI Nomor 109 Tahun 2025) yang memiliki kemampuan teknikal yang sangat baik, kemampuan finansial dan ekonomi yang sangat baik, dan juga risiko yang bisa termanage dengan baik," kata Fadli dikutip dari Antara, Jumat (27/2/2026).

Ia menambahkan, CEO BPI Danantara Roesan Roeslani dijadwalkan mengumumkan pemenang proyek WtE tersebut pada Maret 2026.

Program sampah jadi listrik ini dirancang sebagai solusi atas persoalan kedaruratan sampah di kota-kota besar, sekaligus mendukung ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan limbah menjadi sumber listrik.

 

Perusahaan Asing Ikut Berebut Proyek

Seorang pemulung mengumpulkan barang-barang bekas seperti plastik di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, Tangerang Selatan, Banten, pada 2 September 2025 (Kristianto Purnomo/AFP)

Sebanyak 24 perusahaan internasional mengikuti proses seleksi dan tender proyek sampah jadi listrik tahap pertama ini. Mayoritas peserta berasal dari China, disusul Jepang dan Prancis.

"Sebanyak 24 perusahaan internasional dari China, Prancis, Jepang, telah mengikuti seleksi dan mengikuti tender proyek WtE. Perusahaan internasional itu adalah 20 perusahaan dari China, 3 dari Jepang, dan satu dari Prancis," ujar Fadli.

Di setiap lokasi, hanya satu perusahaan yang akan dipilih. Perusahaan pemenang wajib membentuk konsorsium dengan perusahaan domestik serta menggandeng mitra lokal.

Penilaian tender meliputi latar belakang perusahaan, kemampuan teknis, kualitas desain dan pembangunan, peralatan, operasional, analisis dampak lingkungan, dampak sosial dan ekonomi, kemampuan finansial, hingga keterlibatan mitra lokal.

Namun, aspek teknologi menjadi penilaian dengan bobot tertinggi, terutama desain dan eksekusi teknologi WtE. Hal ini karena Indonesia belum memiliki teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik secara mandiri.

 

Investasi Capai USD 600 Juta, Wajib Transfer Teknologi

Ditargetkan pembangunan fisik PSEL di TPA Cipeucang ini akan dimulai pada akhir 2025 setelah seluruh proses administrasi, termasuk penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), dan pembebasan lahan, telah dinyatakan tuntas. (Kristianto Purnomo/AFP)

Pemenang proyek sampah jadi listrik diwajibkan melakukan transfer teknologi ke Indonesia, termasuk melalui pelatihan tenaga kerja lokal.

"Tenaga kerja yang di-traning itu juga akan dikirim belajar ke negara asal perusahaan itu," kata Fadli.

Untuk tahap pertama, kebutuhan investasi diperkirakan mencapai USD 150–170 juta per lokasi. Dengan empat kota, total investasi minimal mencapai USD 600 juta atau kurang lebih Rp 100 triliun (estimasi kurs Rp 16.778 per dolar AS).

Skema pembiayaan terdiri dari 70 persen investasi asing langsung (FDI) dan 30 persen ekuitas dari Danantara.

Secara keseluruhan, Danantara menargetkan pembangunan proyek sampah jadi listrik di 33 lokasi di Indonesia. Setelah empat kota tahap awal, lelang berikutnya untuk sembilan kota direncanakan digelar pada April 2026 atau setelah Lebaran.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya