Harga Nilam Aceh Tembus Rp 850 Ribu, Dorongan Masuk RPJM Kian Menguat

Harga nilam Aceh melonjak hingga Rp 850 ribu per kg. Pengembangan industri didorong masuk RPJM agar berkelanjutan.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 27 Februari 2026, 12:00 WIB
Kepala Atsiri Research Center (ARC) Syaifullah Muhammad menjelaskan mengenai potensi nilam indonesia di Universitas Syiah Kuala, di Aceh, dikutip Kamis (26/2/2026). (Liputan6.com/Christian)

Liputan6.com, Jakarta - Kebangkitan komoditas nilam Aceh dalam dua tahun terakhir mendorong perlunya penguatan kebijakan jangka menengah agar pengembangannya lebih terarah dan berkelanjutan. Di tengah tren kenaikan harga serta meluasnya sentra produksi, industri nilam dan turunannya dinilai perlu masuk dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM).

Kepala Atsiri Research Center (ARC), Syaifullah Muhammad, menyampaikan bahwa pengintegrasian nilam ke dalam RPJM penting agar program pengembangan tetap berjalan meski terjadi pergantian kepemimpinan daerah.

Menurutnya, langkah ini juga sejalan dengan visi Pemerintah Kota Banda Aceh yang ingin menjadikan wilayahnya sebagai “Kota Parfum”.

“Kalau sudah masuk RPJM, itu jadi amanah pembangunan. Siapapun kepala daerahnya, program tetap berjalan,” ujarnya di Universitas Syiah Kuala, Kamis (26/2/2026).

Dari sisi harga, minyak nilam asal Aceh menunjukkan lonjakan signifikan. Jika sebelumnya berada di kisaran Rp 350.000–Rp 400.000 per kilogram, kini telah mencapai Rp 850.000 per kilogram.

Bahkan menjelang akhir tahun, harga diproyeksikan kembali menguat hingga Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta per kilogram, mengikuti pola musiman dan permintaan industri global.

 

Semangat Bertani Nilam

Kepala Atsiri Research Center (ARC) Syaifullah Muhammad menjelaskan mengenai potensi nilam indonesia di Universitas Syiah Kuala, di Aceh, dikutip Kamis (26/2/2026). (Liputan6.com/Christian)

Kenaikan harga ini berdampak langsung pada semangat produksi di tingkat petani. Jika sebelumnya budidaya nilam hanya tersebar di empat kabupaten di Aceh, kini telah meluas ke 18 kabupaten.

“Artinya ada optimisme baru di tingkat petani. Ekosistemnya kembali tumbuh,” ujarnya.

Dari sisi pangsa pasar nasional, Aceh kini kembali menempati posisi teratas dengan kontribusi sekitar 19 persen terhadap produksi nasional. Angka tersebut melonjak dibanding periode sebelumnya ketika pangsa pasar sempat merosot hingga sekitar 5 persen.

Meski begitu, posisi tersebut belum menyamai masa kejayaan ketika Aceh pernah menguasai hingga 70 persen pangsa pasar nasional minyak nilam.

 

Peta Produksi Nilam di Indonesia

Saat ini produksi nilam telah tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Sejumlah provinsi seperti Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Timur menjadi sentra baru. Di Pulau Sulawesi, budidaya nilam berkembang di Sulawesi Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah.

Dengan penyebaran tersebut, komposisi produksi nasional kini lebih merata. Beberapa daerah lain memiliki kontribusi yang relatif berdekatan, yakni di kisaran 16–18 persen berdasarkan data statistik produksi terbaru.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya