Liputan6.com, Jakarta - PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) menambah fasilitas pinjaman kepada entitas afiliasinya, PT Bara Makmur Dwitama, sebesar Rp 12 miliar. Transaksi tersebut dilakukan pada 24 Februari 2026 dan merupakan transaksi afiliasi dalam bentuk pinjaman antar perusahaan.
Melansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (25/2/2026), Manajemen DAAZ menjelaskan, tambahan Rp 12 miliar itu meningkatkan total fasilitas pinjaman yang diberikan kepada PT Bara Makmur Dwitama dari sebelumnya Rp 10 miliar menjadi Rp 22 miliar.
Advertisement
Perseroan menyebutkan, dana pinjaman digunakan untuk kebutuhan modal kerja pembelian batu bara. Sumber dana berasal dari hasil penerbitan Obligasi I DAAZ Tahun 2025, sesuai dengan rencana penggunaan dana obligasi.
Pinjaman tersebut dikenakan bunga sebesar 8,85% per tahun dengan jangka waktu 370 hari sejak tanggal perjanjian pinjaman.
Dalam keterbukaan informasi itu juga dijelaskan bahwa PT Bara Makmur Dwitama merupakan pemegang saham pengendali perseroan, sehingga transaksi ini dikategorikan sebagai transaksi afiliasi.
Sebelumnya, Proyek Waste-to-Energy (WTE) Danantara memasuki fase paling krusial menjelang pengumuman pemenang lelang tahap pertama pada Februari 2026.
Dari total 24 peserta, hanya empat yang akan ditetapkan sebagai pemenang sebelum proyek memasuki tahap groundbreaking pada Maret 2026 dan berlanjut ke fase ekspansi hingga pertengahan tahun.
Dengan timeline yang semakin dekat, perhatian pasar mulai meningkat dan spekulasi pun berkembang.
Peningkatan Volume Transaksi
Analis pasar Thomas William (Towils) menyebut adanya kemungkinan kejutan dalam penentuan pemenang proyek tersebut.
“Selama ini yang dirumorkan kan OASA, TOBA, MHKI. Tapi yang saya dengar justru bisa saja bukan nama-nama itu. Ada kemungkinan yang dapat malah DAAZ. Ini masih rumor ya, belum ada konfirmasi resmi. Kita lihat saja nanti benar atau tidak,” ujarnya dikutip dari Antara, Rabu (18/2/2026).
DAAZ yang dimaksud adalah PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ). Pernyataan tersebut memicu diskusi baru di kalangan pelaku pasar, terutama karena nama tersebut sebelumnya tidak menjadi fokus utama dalam rumor awal proyek WTE.
Seiring beredarnya spekulasi tersebut, peningkatan volume transaksi pada saham terkait sempat terlihat.
Meski demikian, hingga saat ini belum terdapat pernyataan resmi mengenai keterlibatan atau posisi emiten tersebut dalam struktur konsorsium tahap pertama.