Kasus Bocah Sukabumi Tewas Dianiaya, Terbongkar Isi Chat Sang Ayah Tak Peduli Anaknya Kritis

Ibu kandung melaporkan mantan suaminya ke Polres Sukabumi.

oleh Fira SyahrinDiterbitkan 24 Februari 2026, 16:34 WIB
Lisnawati, ibu kandung NS yang pakai hijab berwarna hitam (Fira Syahrin/Liputan6.com)

Liputan6.com, Sukabumi- Kematian NS (12), pelajar SMP asal Surade, Kabupaten Sukabumi, yang diduga dianiaya ibu tiri berbuntut panjang. Ibu kandung korban, Lisnawati, resmi melaporkan mantan suaminya, Anwar Satibi (AS), ke Polres Sukabumi atas dugaan pembiaran dan penelantaran anak.

Laporan dengan nomor STPLB/106/II/2026/SPKT tersebut didasari oleh temuan bukti percakapan (chat) yang menunjukkan sikap dingin AS saat tahu kondisi kesehatan NS tengah kritis sebelum meninggal dunia pada Februari 2026.

Kuasa hukum ibu kandung, Krisna Murti, mengungkapkan bahwa dua hari sebelum NS meninggal, terdapat komunikasi antara pihak keluarga mengenai kondisi korban yang memburuk. Namun, respons AS dinilai sangat tidak wajar bagi seorang ayah.

"Ketika diminta dibawa ke rumah sakit, jawabnya belum ada waktu, masih sibuk. Kalaupun meninggal, ikhlasin lah. Berarti secara tidak langsung ada pembiaran dari ayahnya," tegas Krisna Murti di hadapan awak media, Selasa (24/2/2026).

Mira Widyawati, yang juga anggota tim kuasa hukum, menambahkan bahwa dalam pesan singkat tertanggal 17 Februari tersebut, AS bahkan sudah menyinggung soal lokasi pemakaman almarhum.

"Dia bilang, ya biarin aja, sampai kalaupun dia meninggal tinggal dimakamkan di pemakaman keluarga dekat bapaknya (AS)," jelasnya.

Kondisi Fisik Korban Mengenaskan

Kecurigaan keluarga semakin menguat melihat kondisi jenazah NS yang dipenuhi luka. Selain luka lebam, ditemukan pula bekas luka bakar dan kulit yang melepuh di sekujur tubuh bocah malang tersebut.

"Pasalnya yang kita laporkan itu Pasal 76B juncto Pasal 77B, di situlah pembiaran. Baru dibawa ke rumah sakit besoknya, padahal dilihat ada luka lebam, luka bakar," tambah Krisna.

Lisnawati, sang ibu kandung, mengaku baru bisa bertindak sekarang setelah 4 tahun tidak diizinkan bertemu anaknya. Dia mengungkap rasa trauma mendalam akibat KDRT yang dialaminya selama menikah dengan AS, yang menjadi alasan dirinya sulit menjangkau sang anak di masa lalu.

"Rambut saya dipotong pakai golok. Waktu dalam kandungan juga bilang, 'sudahlah kamu meninggal aja sama anak saya', sambil bawa motornya diabrut-abrutin, (mengebut)," ungkap Lisnawati dengan nada getir.

Kini, tim kuasa hukum mendesak kepolisian untuk segera memproses laporan ini. Kasus ini pun telah menarik atensi KPAI dan Komisi III DPR RI.

Korban Meninggal di RS

Korban NS meninggal dunia diduga karena dianiaya oleh ibu tirinya di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Korban meninggal dengan luka lebam dan luka bakar pada tubuhnya.

Korban sehari-harinya tinggal di pesantren. Namun saat kejadian, korban sedang libur untuk persiapan berpuasa bersama keluarga.

Ketika itu, ayah korban yang tengah bekerja di Kota Sukabumi, ditelepon istrinya yang memintanya segera pulang dengan alasan korban jatuh sakit.

Setibanya ayah korban di rumah, korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Jampang Kulon untuk mendapatkan penanganan medis. Namun nahas, korban akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di RS tersebut.

Ibu Tiri Bantah Aniaya

Ibu tiri korban berinisial TR (47) membantah tuduhan menganiaya korban hingga tewas. TR menegaskan, kondisi fisik NS yang memprihatinkan tersebut merupakan dampak dari penyakit serius yang menggerogoti tubuh almarhum.

“Kalaupun ada kulit yang melepuh itu akibat dari panas dalam karena kanker darah itu. Itu juga informasi dari saksi yang kemarin (melihat diagnosis),” kata TR saat memberikan klarifikasi, Sabtu (21/2/2026).

Dia menambahkan bahwa informasi yang berkembang di kepolisian (BAP) menyebutkan adanya dugaan penyakit penyerta lainnya.

“Dari Pak Surahman yang di-BAP di Polsek, anak itu didiagnosa leukemia autoimun. Jadi itu benar-benar karena sakit,” imbuhnya.

TR menceritakan detik-detik saat NS dilarikan ke RSUD Jampangkulon pada Kamis pagi. Dia membantah jika disebut menelantarkan atau menyembunyikan kondisi anak. Namun, dia mengakui tidak mengetahui detail penjelasan dokter saat itu karena keterbatasan akses saat proses pendaftaran.

“Hari Kamis itu dibawa ke RSUD Jampangkulon, pagi, sama saya dan bapaknya. Kebetulan yang mendampingi almarhum (di ruang pemeriksaan) itu bapaknya, kalau saya sibuk di bagian pendaftaran jadi saya tidak tahu apa yang disampaikan dokter,” ungkapnya.

Terkait narasi perundungan yang viral, TR menilai ada pihak yang sengaja menggiring opini sebelum hasil medis keluar. Dia menyoroti tindakan pihak tertentu yang melakukan interogasi saat NS dalam kondisi kritis, yang kemudian videonya diunggah ke media sosial tanpa konteks yang utuh.

“Belum ada apa-apa langsung di-upload, akhirnya sama netizen digoreng seperti itu. Padahal anak sudah dalam keadaan kritis, malah disuruh mengaku ini itu,” sesal TR.

Lebih lanjut, TR menyatakan kesiapannya mengikuti prosedur yang berlaku. Dia memilih berserah diri kepada Tuhan di tengah derasnya hujatan publik yang mengarah kepadanya.

“Kalau saya pasrah saja, Allah yang Maha Tahu. Kalau aturan manusia kan bisa diubah dan dibuat, kalau aturan Allah kan tidak bisa. Mudah-mudahan ada keajaiban dan kebenaran bisa diperlihatkan,” pungkas dia.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya