Membandingkan Mencekamnya Operasi Berdarah Geng Narkoba di Meksiko dan Brasil

Situasi di Meksiko dan Brasil sama-sama mencekam saat Polisi melakukan operasi besar-besaran dalam penumpasan geng narkoba. Di Meksiko, 73 orang tewas. Sementara di Brasil, 132 orang tewas dalam polisi melawan perang narkoba.

oleh Tim GlobalDiterbitkan 25 Februari 2026, 03:02 WIB
Sebuah bus dibakar oleh kelompok kejahatan terorganisir sebagai respons atas operasi di Negara Bagian Jalisco untuk menangkap target keamanan prioritas tinggi, terbakar di salah satu jalan utama di Zapopan, Jalisco, Meksiko, pada 22 Februari 2026. Warga sipil bersenjata memblokade sejumlah jalan di Negara Bagian Jalisco, Meksiko barat, setelah operasi pasukan federal di kota Tapalpa, lapor otoritas setempat. Jalisco, yang akan menjadi tuan rumah empat pertandingan Piala Dunia 2026 mendatang, merupakan basis Kartel Jalisco Generasi Baru (CJNG) yang kuat, dan dalam beberapa tahun terakhir diguncang berbagai episode kekerasan. (Ulises Ruiz / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Di Guadalajara, ibu kota Jalisco, jalan-jalan diblokade. Kendaraan terbakar dan berbagai usaha tutup lebih awal. Warga memilih bertahan di rumah masing-masing. Sekolah-sekolah di beberapa negara bagian diliburkan pada Senin 23 Februari 2026.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan kepulan asap di atas kota wisata Puerto Vallarta, serta kepanikan warga yang berlarian di bandara Guadalajara.

Maskapai Air Canada mengumumkan penghentian sementara penerbangan ke Puerto Vallarta akibat situasi keamanan yang berlangsung dan menyarankan penumpang untuk tidak menuju bandara. Sejumlah maskapai Meksiko dan internasional lainnya juga membatalkan penerbangan. 

Gubernur Jalisco Pablo Lemus meminta warga untuk tetap berada di rumah, menangguhkan transportasi publik, dan menyatakan bahwa negara bagian tersebut tengah "melewati jam-jam kritis”.

Suasana mencekam di Meksiko terjadi setelah pemimpin kartel narkoba Generasi Baru Jalisco (CJNG) Nemesio Ruben Oseguera Cervantes alias El Mencho tewas pada Minggu (22/2/2026) dalam sebuah operasi militer di Negara Bagian Jalisco. Kematian buronan paling diburu pemerintah Meksiko itu memicu kekacauan di berbagai wilayah dan memperlihatkan eskalasi konflik antara aparat keamanan dan kelompok kriminal terorganisir.

Operasi penangkapan El Mencho dilakukan di Tapalpa, Jalisco. Kementerian Pertahanan Meksiko dalam pernyataannya seperti dikutip Associated Press menyebutkan bahwa El Mencho terluka dalam operasi tersebut dan tewas saat diterbangkan menuju Kota Meksiko untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. 

Baku tembak tak terhindarkan dalam operasi itu. Pasukan militer sempat mendapat tembakan balasan. Sebanyak 73 orang tewas dalam operasi ini. Menteri Keamanan Meksiko Omar Garcia Harfuch mengatakan, dari jumlah korban tewas, sebanyak 25 orang adalah anggota Garda Nasional. Mereka meninggal dunia dalam enam serangan berbeda di negara bagian Jalisco.

Dia menambahkan, 30 orang terduga anggota kartel narkoba juga tewas di Jalisco. Empat orang lainnya tewas di negara bagian Michoacan, termasuk El Mencho. Dia terluka dan kemudian meninggal dunia. Tiga anggota angkatan bersenjata juga dilaporkan terluka dan tengah menjalani perawatan medis. Aparat keamanan juga menyita kendaraan lapis baja, peluncur roket, serta berbagai jenis senjata lainnya.

Kematian El Mencho menandai babak baru dalam perang melawan kartel narkoba di Meksiko. Dengan dampak langsung berupa gelombang kekerasan dan ketidakstabilan di berbagai wilayah negara tersebut.

Operasi Penumpasan Geng Narkoba Terbesar di Brasil

Operasi menumpas geng narkoba di Brasil lebih mencekam dibanding Meksiko. Selasa, 28 Oktober 2025, sekitar 2.500 personel polisi dikerahkan untuk menumpas habis geng narkoba Comando Vermelho atau Komando Merah yang legendaris di Brasil. Operasi ini dilakukan jelang para pemimpin dunia dan delegasi internasional untuk KTT Iklim COP30 di Belém, Brasil. 

Aksi itu disebut-sebut sebagai operasi polisi paling mematikan terhadap geng narkoba dalam sejarah Brasil menewaskan sedikitnya 132 orang. Jumlah ini melampaui tragedi Carandiru pada 1992 yang menewaskan 111 anggota geng.

‘Perang’ yang menargetkan geng narkoba besar telah direncanakan secara menyeluruh selama lebih dari dua bulan, dan dirancang untuk menggiring tersangka ke lereng bukit berhutan tempat unit operasi khusus sedang menunggu untuk menyergap. 

Sekretaris kepolisian Negara Bagian Rio de Janeiro, Felipe Curi mengatakan, geng narkoba Comando Vermelho mengenakan pakaian kamuflase saat baku tembak dengan pasukan keamanan.

"Orang-orang ini berada di dalam hutan, mengenakan pakaian kamuflase, rompi, dan bersenjata. Sekarang banyak dari mereka ditemukan hanya mengenakan pakaian dalam atau celana pendek, tanpa perlengkapan, seolah-olah mereka melewati portal dan berganti pakaian," ujar Curi.

Selain korban tewas mencapai 132 orang, sebanyak 113 orang ditangkap Polisi. Dalam operasi tersebut, Polisi juga menyita 118 senjata api. 

Keesokan harinya, Rabu(29/10), suasana memanas. Keluarga koeban meletakkan puluhan jenazah di jalan untuk menunjukkan besarnya operasi perang itu. Tak lama kemudian, jenazah-jenazah itu dikumpulkan dengan truk dan dipamerkan di alun-alun utama, di mana warga mengelilinginya sambil meneriakkan "pembantaian" dan "keadilan" sebelum tim forensik datang mengambilnya. 

Para korban, sebagian besar pria berusia 20–30-an. Mereka diyakini bagian dari kelompok kriminal Comando Vermelho -- jaringan narkoba terbesar dan tertua di Rio. Warga di lingkungan Penha di Rio mengumpulkan puluhan jenazah dari hutan di sekitarnya semalaman dan menata lebih dari 70 jenazah di tengah jalan utama.

"Saya hanya ingin membawa putra saya keluar dari sini dan menguburkannya," kata Taua Brito, ibu dari salah satu korban tewas, dikelilingi oleh pelayat dan penonton yang menangis di kedua sisi barisan jenazah yang panjang, beberapa di antaranya ditutupi seprai atau tas.

 

 

Operasi Mematikan

Raquel Thomas, ibu dari seorang pemuda 19 tahun yang menjadi korban, menceritakan, putranya dieksekusi tanpa perlawanan. "Mereka menggorok leher anak saya dan menggantung kepalanya di pohon. Dia tidak diberi kesempatan untuk membela diri," ujarnya. 

Keluarga korban menggambarkan bukti-bukti eksekusi singkat, termasuk anggota badan yang diikat, luka tusuk, dan tembakan di wajah dan leher.

"Beberapa keluarga melaporkan tanda-tanda penyiksaan pada jenazah para korban," kata Guilherme Pimentel, seorang pengacara hak asasi manusia yang bekerja dengan keluarga korban di kamar mayat polisi Rio. 

Pejabat PBB dan pakar keamanan mengkritik tingginya korban jiwa akibat operasi militer tersebut. Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan pembunuhan tersebut menambah tren penggerebekan polisi yang sangat mematikan di komunitas-komunitas terpinggirkan di Brasil.

"Kami mengingatkan pihak berwenang akan kewajiban mereka berdasarkan hukum hak asasi manusia internasional, dan mendesak penyelidikan yang cepat dan efektif," kata badan tersebut dalam sebuah pernyataan.

Untuk diketahui, operasi penumpasan geng narkoba paling mematikan di kota itu pernah terjadi pada tahun 2021. Ketika itu, 28 orang tewas di lingkungan Jacarezinho.

Penggerebekan terbaru ini juga merupakan operasi polisi paling mematikan yang pernah ada di Brasil. Pada tahun 1992, 111 tahanan tewas ketika polisi Sao Paulo menyerbu Lembaga Pemasyarakatan Carandiru untuk memadamkan pemberontakan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya