Daerah Aliran Sungai Peusangan Aceh Berubah PascaBencana, Habitat Gajah Sumatera Terdampak

Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan di Desa Negeri Antara, Provinsi Aceh mengalami pelebaran dan longsor yang memicu gangguan habitat gajah Sumatera.

oleh Meila Alfauzi SukmawanDiterbitkan 24 Februari 2026, 16:05 WIB
Satu gajah sumatera ditemukan mati di antara timbunan kayu dan lumpur pasca banjir bandang di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Tampak dalam foto, orang-orang berjalan di dekat bangkai gajah Sumatra yang terkubur lumpur di daerah terdampak banjir di Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, pada 30 November 2025. (CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan di Desa Negeri Antara, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh mengalami perubahan bentang alam pascabencana yang terjadi di Sumatera, termasuk ekosistem gajah sumatera yang ikut berubah.

Dalam pantauan, sungai Peusangan kini mengalami longsor di beberapa titik dan perluasan lebar aliran sekitar 200 meter.

Menurut Wahdi, penjaga gajah jinak di CRU Das Peusangan Wahdi di Desa negeri Antara, menuturkan bahwa perubahan lanskap sungai menghilangkan sejumlah area pakan dan lokasi sumber air yang selama ini menjadi rute rutinitas hewan-hewan tersebut.

"Kalau kondisi setelah bencana itu memang ada sedikit perubahan, karena gajah-gajah jina ini kita cari makannya, dan ada beberapa tempat yang memang tempatnya sudah hilang, sudah kena longsor," ujar Wahdi, melansir Antara, Senin 23 Februari 2026.

"Sama tempat yang biasanya kami kasih minum, sehingga kami tidak bisa turun lagi ke tempat itu, karena sudah jadi semacam tebing," sambung dia.

Gajah merupakan hewan yang mempunyai ingatan spasial yang membuat mereka cenderung setia dan dapat melakukan kebiasaan turun-temurun. Dengan kondisi ekosistem ini dapat berpotensi  mengganggu pola perilaku dan kebiasaan kawanan gajah.

Conservation Respon Unit (CRU) Daerah Aliran Sungan (DAS) Peusangan, saat ini mempunyai tiga ekor gajah Sumatera jinak dengan usia rata-rata sekitar 35 tahun. Perawatan hewan-hewan tersebut membutuhkan ketekunan, seperti mandinya dua kali sehari.

Perawatan Intensif Gajah Jinak di Tengah Perubahan Ekosistem

Aktifitas Gajah Sumatra di malam hari yang bisa dinikmati saat safari malam di TNWK. Foto : (Liputan6.com/Ardi).

Menutur Wahdi, selain itu terdapat perawatan gajah lainnya yaitu mengajarkan mereka untuk berjalan setiap hari seperti ekosistem aslinya.

"Kemudian ada sedikit latihan latihan rutin itu namanya, ada untuk angkat kaki, dan juga semacam pemeliharaan cara dia bisa buka mulut seperti ini, biar bisa dia nampak giginya, supaya kami bisa cek apakah giginya bermasalah atau yang lainnya," terang dia.

Kondisi bencana Sumatera juga berdammpak pada kawanan gajah liar yang berada di sekitar area DAS Peusangan.

Dalam keterangannya, Wahdi sering melihat kawanan gajar yang kerap kesulitan untuk menyeberangi aliran sungai Peusangan yang kini sedang mengalami pelebaran.

Pemerintah baru saja memberikann hibah lahan seluas 20 ribu hektare kepada Wold Wildlife Fund (WWF) sebagai upaya konkrit dalam membantu konservasi gajah yang saat ini ekosistemnya terancam karena konflik satwa liar di Aceh.

Demi menjaga ekosistem gajah, sebelumnya Presiden Prabowo berkomitmen mendukung langkah konservasi gajah sumatera yang kini populasinya terancam.                                                                                

 

INFOGRAFIS JOURNAL_ Eksploitasi Alam dan Polusi Udara Berdampak pada Krisis Iklim? (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya