Liputan6.com, Jakarta - Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS) memutuskan membatalkan kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump dinilai bakal menjadi sentimen positif untuk pasar keuangan Indonesia. Seiring hal itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menguat pada awal pekan.
Demikian disampaikan Ekonom Keuangan dan Praktisi Pasar Modal Hans Kwee dikutip dari Antara, Senin (23/2/2026).
Advertisement
“IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan support di level 8.170 sampai level 7.861, dan resistance di level 8.251 sampai level 8.596,” kata Hans.
Hans menambahkan, langkah Trum menetapkan tarif global baru sebesar 10% selama 150 hari juga akan menjadi sentimen positif karena tidak terlalu tingginya tarif itu. Namun, Trump tiba-tiba menaikkan tarif global menjadi 15%.
Terkait sentimen pekan ini, Hans menuturkan, data produk domestik bruto (PDB) AS yang melemah, tetapi inflasi PCE AS masih tinggi, menyebabkan probabilitas pemotongan suku bunga oleh bank sentral AS The Federal Reserve (the Fed) menurun.
"Data PDB AS melemah tetapi inflasi PCE tetap masih tinggi, membuat probabilitas The Fed melakukan pemotongan bunga di Juni 2026 menurun, tetapi pelaku pasar tetap mengharapkan dua kali pemotongan bunga di tahun ini," kata Hans.
Data PDB riil AS tercatat hanya tumbuh 1,4 persen pada kuartal IV-2025, sedangkan secara tahunan tumbuh 2,2 persen pada 2025.
Di sisi lain, inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) tercatat tinggi di level 3 persen pada Desember 2025, atau melampaui ekspektasi pasar.
Ia menambahkan, kekhawatiran pelaku pasar global masih akan seputar saham teknologi terkait kecerdasan buatan (AI), yang membuat volatilitas pasar tinggi.
Sentimen IHSG Lainnya
Di sisi lain, ia menilai obligasi pasar berkembang (emerging market) berada di level yang sangat menarik secara historis, dan berpotensi memasuki periode kinerja yang sangat kuat.
"Ini sentimen positif bagi negara berkembang termasuk Indonesia," ujar Hans.
Sementara itu, ia menuturkan, harga minyak global sangat dipengaruhi oleh potensi konflik antara AS dan Iran, serta pembicaraan pasokan oleh Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC +).
"Volatilitas minyak masih tinggi akibat ketidakpastian potensi serangan AS ke Iran," ujar Hans.
Dari dalam negeri, Hans menilai langkah proaktif yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) sebagai tindak lanjut ultimatum MSCI Inc, cukup untuk menghindari ancaman reklasifikasi struktural yakni downgrade dari emerging market menjadi frontier market.
Selanjutnya, langkah proaktif otoritas tersebut didukung oleh kebijakan moneter, yaitu Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen pada pertemuan Februari 2026. Hal ini sesuai ekspektasi pelaku pasar.
Sementara itu, pengamat pasar modal Reydi Octa menuturkan, IHSG berpotensi bergerak sideways cenderung menguat terbatas. Hal ini dengan catatan tidak ada sentimen negatif baru dari global. "Kuncinya ada di arus dana asing dan sentimen makro. Kalau inflow mulai konsisten, rebound bisa lebih kuat,” kata Reydi saat dihubungi Liputan6.com.