Liputan6.com, Jakarta - Sebuah penelitian skala besar, mendobrak klaim efisiensi bahan bakar dari produsen mobil plug-in hybrid (PHEV) yang selama ini dipasarkan sebagai solusi transisi menuju kendaraan ramah lingkungan. Analisis yang dilakukan oleh Fraunhofer Institute menunjukkan, bahwa mobil-mobil ini ternyata mengonsumsi bahan bakar jauh lebih boros dibandingkan angka resmi yang diumumkan dalam pengujian laboratorium.
Disitat ArenaEV, kendaraan PHEV dirancang dengan kombinasi baterai listrik dan mesin pembakaran internal, memberi harapan pengendara bisa mengurangi konsumsi bahan bakar sembari tetap memiliki fleksibilitas berkendara.
Advertisement
Namun, dari data hampir satu juta kendaraan yang dipantau di Eropa, konsumsi rata-rata mencapai 6,12 liter per 100 kilometer, atau sekitar 3,9 kali lebih boros daripada angka resmi WLTP yang hanya sekitar 1,57 liter per 100 kilometer.
Hasil penelitian itu mengejutkan banyak pihak, karena menunjukkan mobil yang mengklaim hemat bahan bakar justru berada di level yang mirip dengan kendaraan diesel konvensional.
Studi menggunakan alat pengukur khusus di dalam mobil untuk mencatat konsumsi nyata, mencakup berbagai model dan pola berkendara, sehingga hasilnya mencerminkan penggunaan sehari-hari daripada kondisi uji laboratorium.
Lebih ironis lagi, temuan menunjukkan bahwa mesin bensin sering menyala lebih sering dari yang diharapkan, bahkan ketika baterai masih tersisa.
Mesin bisa aktif saat pengendara menginginkan akselerasi lebih, menggunakan pemanas di pagi hari, atau ketika baterai melemah, membuat banyak perjalanan yang seharusnya didukung listrik justru tetap mengandalkan bahan bakar.
Perilaku Beda Merek
Data juga mengungkapkan perilaku berbeda antar merek. Beberapa pemilik mobil mewah seperti Porsche, Bentley, dan Ferrari jarang mengisi ulang baterai mereka, sehingga mobil berjalan lebih sering menggunakan bahan bakar.
Sebagian besar Porsche yang dianalisis bahkan tidak pernah diisi daya sama sekali sepanjang periode studi, menunjukkan bahwa baterai justru menjadi beban tambahan tanpa manfaat efisiensi.
Para peneliti dan pembuat kebijakan kini mendesak agar metode pengujian efisiensi bahan bakar direvisi agar mencerminkan kondisi nyata.
Perubahan ini diharapkan mulai berlaku pada aturan baru 2027, sehingga angka resmi lebih dekat dengan konsumsi aktual di jalan dan membantu konsumen membuat keputusan tentang mobil ramah lingkungan yang hendak dibeli.