Seskab Teddy Sebut Peluang Tarif Dagang AS 19 Persen Bisa Kembali Turun

Seskab Letkol Teddy Indra Wijaya sebut, tarif dagang yang dikenakan AS untuk Indonesia awalnya 32 persen dan bisa turun berkat diplomasi Presiden Prabowo.

oleh Lizsa EgehamDiterbitkan 21 Februari 2026, 08:00 WIB
Presiden Prabowo Subianto bersama Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol Teddy Indra Wijaya dan Menteri Luar Negeri Sugiono (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol Teddy Indra Wijaya mengatakan diplomasi Presiden Prabowo Subianto berhasil menurunkan tarif perdagangan resiprokal Amerika Serikat (AS) dari 32 persen menjadi 19 persen. Teddy berbicara peluang tarif respirokal tersebut dapat kembali turun.

Terlebih, kata dia, Presiden Prabowo melakukan pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump usai penandatanganan tarif dagang respirokal di Washington DC pada Kamis, 19 Februari 2026 waktu AS. Teddy menyebut pertemuan tersebut berlangsung 30 menit dan membahas sejumlah hal, termasuk tarif dagang.

"Presiden Prabowo dan Presiden Trump melaksanakan pertemuan, kurang lebih sekitar 30 menit, tentunya banyak pembicaraan di sana, dan kita tunggu, mungkin dalam waktu dekat, yang sekarang 19 persen, ya mungkin ke depan akan menjadi lebih baik lagi untuk Indonesia, kita tunggu saja," jelas Teddy dalam konferensi pers di Washington DC, pada Jumat (20/2/2026).

Dia menjelaskan, tarif dagang yang dikenakan AS untuk Indonesia awalnya 32 persen. Namun, berkat diplomasi yang dilakukan Prabowo, tarif perdagangan turun signifikan menjadi 19 persen.

"Kemudian di situ juga dilaksanakan penandatanganan langsung perjanjian, yang mana saya mengingatkan lagi, jadi perjanjiannya memang 19 persen, menjadi 19 persen, dari sebelumnya tahun lalu itu 32 persen, menjadi 19 persen," kata Teddy.

 

Kesepakatan Perdagangan

Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol Teddy Indra Wijaya mendampingi Presiden Prabowo Subianto bertemu Raja Inggris Charles III di Lancaster House. (Foto : Instagram @sekretariat.kabinet).

Menurut Teddy, kesepakatan perdagangan tersebut juga memberikan fasilitas tarif 0 persen bagi 1.819 produk-produk unggulan Indonesia. Khususnya pada sektor pertanian dan industri strategis.

"Kemudian yang kedua, ada tarif 0 persen untuk 1.819 produk unggulan, khususnya di bidang pertanian dan industri, kopi, kakao, minyak kelapa sawit, kemudian semi konduktor," jelas Teddy.

Sebelumnya, Indonesia resmi menyepakati perjanjian perdagangan dengan tarif resiprokal 19 persen dengan Amerika Serikat (AS). Ada 1.819 pos tarif yang diatur dalam kesepakatan dagang kedua negara.

Penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump. Kesepakatan diteken pascaagenda perdana pertemuan Dewan Perdamaian untuk Gaza atau Board of Peace (BoP).

"Indonesia dan Amerika Serikat sepakat untuk memperkuat kerjasama ekonomi," ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam konferensi pers daring, Jumat 20 Februari 2026.

Negosiasi Dimulai April 2025 Lalu

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam konferensi pers kesepakatan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS), Jumat (20/2/2026). (Liputan6.com/Arief)

Airlangga mengisahkan perjalanan negosiasi yang dimulai sejak April 2025 lalu ketika Donald Trump mengumumkan Indonesia dikenakan tarif resiprokal 32 persen. Negosiasi berujung pada penurynan tarif menjadi 19 persen dengan berbagai ketentuan tambahan lainnya.

"90 persen daripada dokumentasi yang dikirim oleh Indonesia dipenuhi oleh Amerika. Jadi usulan Indonesia dipenuhi oleh Amerika yang tertuang dalam Agreement on Reciprocal Tariff," ucapnya.

Hasilnya, dua Kepala Negara menandatangani ART yang mencakup 1.819 pos tarif. Sebagian komoditas bahkan mendapat pembebasan tarif. "Dalam ART ini ada 1.819 post tarif produk Indonesia baik itu pertanian maupun industri," sambung Menko Airlangga.

Infografis Deretan Perjanjian Perdagangan Resiprokal Indonesia dan AS. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya