Produksi Tesla Cybercab Pertama Telah Dimulai di Amerika Serikat

Tesla telah memulai produksi dari kendaraan otonomnya, Cybercab di Amerika Serikat

oleh Arief AszhariDiterbitkan 22 Februari 2026, 04:24 WIB
Produksi Tesla Cybercab Pertama Telah Dimulai di Amerika Serikat (Carscoops)

Liputan6.com, Jakarta - Tesla telah mencatatkan tonggak penting dalam perjalanan menuju mobil otonom masa depan, setelah unit Cybercab pertama keluar dari jalur perakitan di Gigafactory Texas di Amerika Serikat. Kendaraan listrik yang dirancang khusus sebagai robotaxi ini, diklaim telah diproduksi lebih cepat dari jadwal semula yang diperkirakan akan dimulai pada April 2026.

Dilansir dari Carscoops, foto resmi yang dibagikan Tesla pada 17 Februari lalu menunjukkan tim di pabrik tengah mengawasi Cybercab yang baru selesai dirakit. Meski demikian, unit ini diperkirakan masih bagian dari produksi percontohan (pilot build) dan belum siap untuk langsung dikirim ke konsumen.

CEO Tesla, Elon Musk mengonfirmasi bahwa perusahaan tetap menargetkan versi konsumen dari Cybercab tersedia sebelum 2027.

Tesla Cybercab dirancang sebagai kendaraan listrik dengan fitur otonom penuh, tanpa setir maupun pedal. Berbeda dengan model lain seperti Model Y, yang sebelumnya dipakai dalam uji coba robotaxi. Kendaraan tanpa kontrol manual seperti ini memenuhi visi Tesla akan mobil yang benar-benar bisa beroperasi sendiri.

Meski sudah memproduksi unit pertama, tantangan berikutnya justru terletak pada aspek legal dan regulasi. Standar keselamatan kendaraan di Amerika Serikat selama ini mengasumsikan adanya pengemudi manusia, sehingga badan seperti NHTSA kemungkinan perlu memberikan pengecualian pada sejumlah aturan agar Cybercab dapat dioperasikan di jalan umum.

Artinya, walau pencapaian produksi ini menjadi langkah penting bagi Tesla, belum ada kepastian kapan robotaksi tanpa pengemudi ini benar-benar bisa beredar secara luas.

Perusahaan masih menghadapi proses panjang guna mendapatkan persetujuan penuh dan memenuhi kriteria keselamatan sebelum produksi massal menjelang akhir dekade ini.

Nasib Tesla Model S dan Model X di Ujung Tanduk

Tesla Model S dan Mode X merupakan dua model flagship yang pernah menjadi simbol kejayaan merek EV asal Amerika Serikat itu, kini berada dalam fase yang sangat rentang dan dipandang sebagai awal dari kemungkinan berkurangnya relevansi Tesla sebagai pembuat mobil tradisional.

Meski telah mendapatkan pembaruan pada desain dan fitur termasuk pada aerodinamika yang lebih baik untuk Model S dan versi Plaid berdaya lebih dari 1.000 tenaga kuda membuat respons pasar terhadap kedua model ini tidak sesuai dengan ekspektasi.

Pada pembaruan inipun membawa sejumlah perubahan kontroversial, seperti penggantian kemudi tradisional dengan yoke steering yang menyebabkan penolakan dari sebagian besar konsumen sehingga Tesla akhirnya menawarkan retrofit kemudi tradisional sebelum sepenuhnya menggantinya kembali.

Selain perubahan desain yang tak sepenuhnya diterima, penjualan Model S dan Model X juga terdampak oleh kenaikan harga berturut-turut di saat konsumen makin enggan untuk membeli EV premium di atas USD 80.000 atau sekitar Rp 1,3 miliar.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya