Liputan6.com, Jakarta - Pasar kripto diprediksi masih bergerak fluktuatif dalam beberapa ke depan sambil menanti sinyal yang lebih jelas terkait arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Hal ini seiring kombinasi sikap the Federal Reserve (the Fed) yang cenderung ketat, ketidakpastian kepemimpinan bank sentral hingga dinamika geopolitik.
Mengutip data coinmarketcap.com, harga bitcoin (BTC) naik 1,11% dalam 24 jam terakhir pada Jumat, 20 Februari 2026. Selama sepekan terakhir, harga bitcoin menguat 1,8%. Saat ini, harga bitcoin berada di posisi USD 67.299 atau Rp 1,13 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.920).
Advertisement
Pada Kamis siang, 19 Februari 2026, harga Bitcoin terpantau bergerak di kisaran USD 67.172 setelah sempat turun hingga di bawah USD 66.500. Pelemahan tersebut terjadi tak lama setelah rilis risalah rapat (minutes) The Fed yang dinilai lebih agresif (hawkish) dari ekspektasi pasar.
Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menuturkan, respons pasar kripto kali ini mencerminkan penyesuaian cepat terhadap sinyal kebijakan moneter AS.
"Nada minutes yang hawkish membuat pelaku pasar kembali menghitung ulang peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Ketika ekspektasi pemangkasan mundur, aset berisiko seperti Bitcoin cenderung ikut tertekan,” kata dia seperti dikutip dari keterangan resmi., Jumat (20/2/2026).
Risalah rapat Januari yang dipublikasikan Rabu, 18 Februari 2026 waktu setempat menunjukkan beberapa pejabat The Fed menilai belum ada urgensi untuk kembali melanjutkan pemangkasan suku bunga. Sejumlah anggota bahkan membuka ruang untuk kenaikan suku bunga jika inflasi tetap bertahan di atas target 2%.
Dalam rapat 27–28 Januari, Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) memutuskan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75% melalui voting 10-2. Dua anggota yang berbeda pendapat, Gubernur Christopher Waller dan Stephen Miran, mendorong penurunan seperempat poin dengan alasan risiko pada pasar tenaga kerja.
Namun, mayoritas anggota FOMC menilai pelonggaran lebih lanjut di tengah inflasi yang belum sepenuhnya stabil dapat melemahkan komitmen terhadap target inflasi 2%. Minutes juga mencatat adanya pembahasan mengenai kemungkinan “penyesuaian ke atas” suku bunga apabila tekanan harga tidak mereda sesuai harapan.
Tekanan Makro dan Geopolitik
Bitcoin sempat meluncur dari sekitar USD 68.300 ke bawah USD 66.500 setelah minutes dirilis pada sesi perdagangan AS. Tekanan makin kuat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik AS-Iran yang mendorong harga minyak naik lebih dari 4% dan menekan selera risiko investor global.
Fyqieh menilai faktor geopolitik turut memperbesar tekanan pada aset berisiko.
“Ketika risiko geopolitik naik dan harga minyak melonjak, pasar cenderung masuk mode risk-off. Itu biasanya membuat volatilitas kripto meningkat karena investor mengurangi eksposur,” tutur dia.
Di sisi lain, kembalinya likuiditas pasar Asia usai libur Tahun Baru Imlek juga membuat pergerakan harga lebih tajam. Peningkatan volume dan perputaran perdagangan dinilai memperbesar tekanan jual dalam jangka pendek.
Jerome Powell akan berakhir pada Mei 2026, sementara Presiden AS Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai pengganti. Warsh dipandang lebih condong mendukung suku bunga rendah, tetapi minutes memperlihatkan mayoritas anggota FOMC masih memprioritaskan pengendalian inflasi.
Sementara itu, pasar berjangka saat ini memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga paling cepat terjadi pada Juni 2026.
Bitcoin Masih di Fase Konsolidasi
Menanggapi pergerakan harga tersebut, Fyqieh menilai volatilitas yang terjadi mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi faktor makroekonomi dan geopolitik. “Minutes The Fed yang lebih hawkish membuat pelaku pasar kembali menyesuaikan ekspektasi terhadap arah suku bunga. Ini memberi tekanan jangka pendek pada aset berisiko seperti kripto,” ujar Fyqieh.
Secara teknikal, ia menyebut Bitcoin saat ini masih berada dalam fase konsolidasi dan berada di area krusial. “Bitcoin sedang bergerak di sekitar zona support jangka pendek di kisaran USD 66.200 hingga USD 67.800. Selama area ini bertahan, peluang pemulihan tetap terbuka, meskipun pergerakan cenderung terbatas karena pasar masih menunggu katalis baru,” ujar dia.
Dia menuturkan, level resistensi terdekat berada di sekitar USD 68.380.
“Jika mampu menembus level tersebut, harga berpotensi menguji area berikutnya di USD 69.250 hingga USD 70.800. Namun jika tekanan jual kembali meningkat dan support gagal dipertahankan, risiko koreksi lanjutan tetap ada,” tambah Fyqieh.