Kredit Perbankan Tumbuh Hampir 10% di Januari 2026

Kredit perbankan tercatat tumbuh 9,96 persen secara tahunan (YoY) pada Januari 2026.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 19 Februari 2026, 16:30 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers RDG Oktober 2024, di Gedung BI, Jakarta, Rabu (16/10/2024). Kredit perbankan tercatat tumbuh 9,96 persen secara tahunan (YoY) pada Januari 2026. (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat kredit perbankan tumbuh 9,96 persen secara tahunan (YoY) pada Januari 2026. Naik tipis dari catatan per Desember 2025 lalu sebesar 9,69 persen (YoY).

"Berdasarkan kelompok penggunaan, perkembangan ini didukung oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi, yang pada Januari 2026 masing-masing tumbuh sebesar 22,38 persen, 4,13 persen, dan 6,58 persen," papar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil RDG BI, Kamis (19/2/2026).

Di sisi lain, Perry menyampaikan bahwa fasilitas pinjaman yang belum ditarik (undisbursed loan) perbankan masih cukup besar, senilai Rp 2.506,47 triliun atau setara 22,65 persen dari total plafon kredit yang tersedia.

Meskipun begitu, pembiayaan perbankan diklaim tetap memadai. Didukung oleh rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) sebesar 27,54 persen. Lalu, dana pihak ketiga (DPK) yang tumbuh 13,48 persen (yoy) pada Januari 2026..

"Minat penyaluran kredit pembiayaan perbankan terus membaik. Terjamin dari persyaratan pembelian kredi (lending requirement) yang semakin longgar. Kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat masih tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut," imbuh Perry.

Catatan lainnya, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio) perbankan pada Desember 2025 tercatat tinggi sebesar 25,89 persen.

Kemudian, rasio kredit bermasalah alias non-performing loan (NPL) perbankan pada agregat tetap rendah, yakni 2,05 persen secara bruto dan 0,79 persen secara neto pada Desember 2025.

"Hasil stress test Bank Indonesia menunjukkan ketahanan perbankan yang tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, ditopang oleh kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga," pungkas Perry.

 

BI-Fast Catat Transaksi Rp 1.176 Triliun di Januari 2026, Tumbuh 34%

Nasabah melakukan transaksi di gerai ATM, Tangerang, Banten, Kamis (4/11/2021). Layanan BI-Fast Payment bakal menggantikan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) yang selama ini dipakai untuk mewadahi transaksi antarbank. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mencatat volume transaksi melalui BI-Fast kian bertambah. Nilai transaksi yang terhimpun dalam infrastruktur sistem pembayaran ritel tersebut mencapai Rp 1.176 triliun pada Januari 2026.

"Volume transaksi retail yang diproses melalui BI-Fast mencapai 455 juta transaksi, atau tumbuh 34,41 persen, dengan nilai transaksi mencapai Rp 1.176 triliun pada Januari 2026," ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis (19/2/2026).

Tak hanya BI-Fast, transaksi bernilai besar melalui Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) juga ikut melonjak pada bulan yang sama, bahkan dengan nominal jauh lebih tinggi.

"Sementara itu, volume transaksi nilai besar yang diproses melalui BI-RTGS tercatat sebesar 0,86 juta transaksi atau tumbuh 7,6 persen. Dengan nilai sebesar Rp 19.555 triliun pada Januari 2026," imbuh Perry.

 

Infrastruktur Pembayaran

Nasabah melakukan transaksi di gerai ATM, Tangerang, Banten, Kamis (4/11/2021). Layanan BI-Fast Payment bakal menggantikan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) yang selama ini dipakai untuk mewadahi transaksi antarbank. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Adapun dalam konteks infrastruktur pembayaran, Bank Indonesia juga resmi telah bergabung dalam proyek Nexus Global Payments sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas sistem pembayaran lintas negara.

Melalui keikutsertaan ini, BI akan berkolaborasi dengan lima bank sentral lain untuk menghadirkan solusi pembayaran antarnegara yang lebih efisien, aman, dan terjangkau.

Lima bank sentral yang terlibat dalam proyek Nexus bersama BI yakni Bank Negara Malaysia (BNM), Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP), Monetary Authority of Singapore (MAS), Bank of Thailand (BOT), dan Reserve Bank of India (RBI). Keenam otoritas moneter tersebut akan mengimplementasikan Nexus dengan menghubungkan sistem pembayaran instan domestik masing-masing negara.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya