Liputan6.com, Jakarta - Sinetron Beri Cinta Waktu Episode Rabu 18 Februari menceritakan, suasana malam itu terasa hangat meski angin berhembus cukup kencang di luar tenda. Trian dan Adila duduk berdua, berbagi cerita di bawah cahaya lampu kecil yang menggantung di atas mereka. Dalam momen yang penuh keheningan itu, Trian menatap Adila dengan serius. Ia meminta satu hal yang sederhana namun sarat makna: agar Adila berjanji untuk selalu menunggunya, apa pun yang terjadi ke depan. Permintaan itu bukan sekadar kata-kata, melainkan harapan agar hubungan mereka tetap bertahan di tengah badai yang sedang menghadang.
Adila tersenyum lembut. Tanpa ragu, ia mengangguk dan menyanggupi permintaan tersebut. Ia meyakinkan Trian bahwa mereka pasti mampu melewati segala rintangan bersama. Baginya, selama ada kepercayaan dan kesabaran, tidak ada masalah yang tidak bisa dihadapi. Malam itu terasa seperti penguat janji di antara keduanya.
Advertisement
Namun keesokan harinya, suasana berbeda terlihat di rumah Cahyadi. Saat sarapan bersama, Cahyadi duduk satu meja dengan Herlina dan Andra. Percakapan yang awalnya biasa berubah menjadi serius ketika Cahyadi menyampaikan niatnya. Ia ingin proses perceraian antara Adila dan Trian segera diselesaikan. Bahkan, ia berencana mendesak Trian agar tidak menunda-nunda lagi. Keputusan itu membuat suasana meja makan terasa tegang, seolah-olah masa depan Adila sedang dibicarakan tanpa kehadirannya.
Di kantor, Adila berniat menemui Trian untuk memberikan sesuatu yang telah ia siapkan. Ia melangkah dengan perasaan campur aduk, masih mengingat janji semalam. Namun saat sampai di depan ruangan Trian, langkahnya terhenti. Ia melihat Trian sedang bersama seorang wanita bernama Claudia. Keduanya tampak berbicara cukup dekat. Hati Adila bergetar, muncul pertanyaan dalam benaknya: ada urusan apa Claudia dengan Trian?
Kebingungan itu semakin bertambah ketika kemudian Claudia muncul di hadapan Adila dan Herlina. Dengan sikap percaya diri, Claudia secara terang-terangan menyatakan bahwa ia menyukai Trian. Ucapan itu membuat Adila terkejut dan terpaku. Janji semalam masih terngiang di telinganya, tetapi kini kenyataan di hadapannya terasa begitu berbeda.