Liputan6.com, Islamabad - Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, melontarkan pernyataan langka terkait keterlibatan Islamabad dalam konflik Afghanistan selama beberapa dekade. Dalam sidang Majelis Nasional, Senin (16/2/2026), ia menyebut partisipasi Pakistan bukan dilandasi motif keagamaan, melainkan demi legitimasi politik dan dukungan kekuatan global, terutama Amerika Serikat.
“Kami tidak memasuki perang ini untuk membela Islam atau melakukan jihad. Kami masuk untuk legitimasi politik dan untuk mendapatkan dukungan negara adidaya,” kata Asif di hadapan anggota parlemen.
Advertisement
Ia merujuk pada keterlibatan Pakistan sejak era Perang Dingin, ketika konflik Soviet-Afghanistan berlangsung, hingga periode pasca-serangan 11 September 2001. Menurutnya, apa yang selama ini dipersepsikan sebagai jihad sejatinya adalah perang proksi antara kekuatan besar.
“Itu bukan jihad. Itu perang negara adidaya,” ujarnya. Ia menambahkan, demi mendukung narasi tersebut, Pakistan bahkan mengubah sistem pendidikan dan kurikulum nasional—dampaknya, kata dia, masih terasa hingga kini.
Asif juga mengakui Pakistan kembali bersekutu dengan Washington setelah serangan 9/11 dan terlibat hampir dua dekade dalam perang yang dipimpin AS di Afghanistan. “Bukan satu dekade, tapi dua dekade kita menyewakan diri kita sendiri. Tujuannya satu: dukungan Amerika,” katanya.
Ia menegaskan tidak ada satu pun pelaku serangan 11 September yang berasal dari Afghanistan. “Afghanistan tidak melakukan 9/11,” ujarnya, seraya menyatakan bahwa Islamabad terlalu dalam terseret dalam perang lanjutan tersebut.
Dalam pidatonya, Asif menyerukan evaluasi menyeluruh atas kebijakan masa lalu. Ia menyebut para pemimpin Pakistan gagal mengakui kesalahan strategis yang telah membentuk lanskap sosial dan politik negara itu. “Sampai kita mengakui kesalahan, tidak akan ada perbaikan,” katanya. Ia bahkan mengklaim telah secara pribadi meminta maaf atas keputusan generasi sebelumnya—langkah yang jarang dilakukan politisi Pakistan.
Asif turut menyinggung ketegangan keamanan dengan pemerintahan Taliban di Afghanistan. Menurutnya, pejabat Taliban mengakui keberadaan militan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) di wilayah Afghanistan, namun tidak memberikan jaminan keamanan kepada Islamabad.
“Dalam pertemuan di Doha, Istanbul, dan Riyadh, mereka mengatakan akan memindahkan atau menindak TTP, tetapi meminta dana dari kami,” ujar Asif. Ia menyatakan Pakistan bersedia membantu secara finansial, namun hanya jika ada jaminan konkret.
Pernyataan Taliban
Taliban berulang kali membantah menampung atau mendukung TTP, meski sejumlah laporan pemantauan PBB mencatat keberadaan kelompok tersebut di Afghanistan.
Dalam setahun terakhir, Pakistan menghadapi lonjakan serangan militan, terutama di Balochistan dan wilayah barat laut. Pemerintah menuding kelompok yang berbasis di Afghanistan berada di balik kekerasan tersebut. Taliban membantah tudingan itu.
Presiden Asif Ali Zardari sebelumnya menyebut situasi Afghanistan kini “lebih buruk daripada sebelum 11 September,” dan menuduh negara itu menjadi tempat aman bagi kelompok militan. Di sisi lain, Islamabad juga menuding India mendukung kelompok proksi anti-Pakistan—klaim yang dibantah New Delhi.
Pernyataan Khawaja Asif dinilai sebagai salah satu pengakuan paling terbuka dari pejabat tinggi Pakistan mengenai kalkulasi politik di balik keterlibatan negara itu dalam perang Afghanistan—isu sensitif yang selama ini jarang dibahas secara gamblang di tingkat pemerintahan.