Liputan6.com, Jakarta - Harga bitcoin (BTC) bergerak di zona merah pada perdagangan Rabu sore, (18/2/2026). Namun, selama sepekan terakhir, harga kripto kapitalisasi pasar terbesar ini menguat.
Berdasarkan data coinmarketcap.com, harga bitcoin turun 0,88% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga bitcoin bertambah 1,53%. Saat ini, harga bitcoin berada di posisi USD 67.795 atau Rp 1,14 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.830).
Advertisement
Sementara itu, harga Ethereum (ETH) naik 1,04% selama 24 jam terakhir. Dalam sepekan terakhir, harga Ethereum melonjak 2,78%. Kini, harga Ethereum berada di posisi USD 2.001,86.
Mengutip Yahoo Finance, bitcoin melanjutkan koreksi selama empat minggu di tengah volatilitas pasar yang lebih luas. Hal ini seiring investor khawatir tentang dampak kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terhadap perekonomian.
Bitcoin cenderung bergerak seiring fluktuasi saham teknologi dalam beberapa bulan terakhir, mencerminkan koreksi sebelumnya di pasar saham AS tetapi gagal mengimbangi kenaikan itu.
“Sentimen jelas suram di pasar kripto,” ujar Penulis Buletin Crypto is Macro Now, Noelle Sacheson.
Ia menuturkan, ada kemajuan yang signifikan dalam adopsi oleh lembaga-lembaga tradisional, tetapi ini tidak tercermin dalam harga secara keseluruhan yang semakin menekan sentimen.
Pelaku pasar yang kesulitan menilai prospek AI membuat saham berfluktuasi dalam sesi perdagangan yang volatil di Wall Street. Ada ketidakpastian tentang potensi teknologi tersebut untuk mengganggu beberapa segmen ekonomi dan skeptisisme pengeluaran besar untuk Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan akan segera membuahkan hasil.
Penarikan Dana
Arus dana tetap menjadi hambatan bagi Bitcoin, dengan penarikan dana sebesar USD 360 juta atau Rp 6,05 triliun dari dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) yang terdaftar di AS minggu lalu, minggu keempat berturut-turut dengan arus keluar bersih.
Di sisi lain, Indeks Ketakutan dan Keserakahan CryptoQuant berada di angka 10 dari 100 pada Senin, jauh di wilayah "ketakutan ekstrem".
Direktur senior di market maker Wincent, Paul Howard memperkirakan konsolidasi karena Bitcoin mencari pendorong sentimen baru. Putusan Mahkamah Agung AS tentang tarif yang akan dikeluarkan Jumat bisa jadi lebih penting daripada notulen rapat rutin Federal Reserve atau data inflasi, katanya.
Kepala Eksekutif platform Koinly, Robin Singh menuturkan, investor juga memperdebatkan apakah Bitcoin telah menetapkan level dukungan yang tahan lama.
"Banyak yang melihat USD 60.000 sebagai level dukungan kunci, tetapi itu mungkin tidak akan bertahan jika selera risiko semakin memburuk,” ujar dia.
"Satu guncangan makro, gelombang ketidakpastian lain, atau bahkan hanya pergerakan harga yang berkelanjutan di pertengahan USD 60.000-an dapat dengan mudah mendorong harga kembali ke USD 50.000-an dengan lebih tajam,” Singh menambahkan.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.