Nama Trump Ingin Dipakai di Bandara, Perusahaan Keluarga Ajukan Hak Merek

Perusahaan keluarga Trump mendaftarkan hak merek untuk nama bandara, tanpa klaim mencari keuntungan.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 18 Februari 2026, 20:00 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Ibu Negara Melania Trump berjalan di South Lawn menuju Gedung Putih setelah tiba dengan Marine One pada hari Senin, 16 Februari 2026, di Washington. (AP Photo/Allison Robbert)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih pada 16 Januari 2026. (Dok. AP/Alex Brandon)

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan milik keluarga Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengajukan permohonan hak merek atas penggunaan nama presiden untuk bandara.

Perusahaan tersebut, Trump Organization, menyatakan tidak berencana memungut biaya atau royalti, setidaknya untuk rencana penggantian nama bandara di dekat kediaman Trump di Florida.

Dikutip dari The Associated Press, Rabu (18/2/2026), permohonan ini diajukan ke kantor merek dagang federal dan mencakup hak eksklusif penggunaan nama Trump pada berbagai fasilitas bandara. Mulai dari bus antarpenumpang, payung, tas perjalanan, hingga pakaian kru penerbangan.

Pengajuan tersebut muncul di tengah perdebatan di Florida mengenai rencana penggantian nama Palm Beach International Airport menjadi bandara atas nama Trump.

Isu ini juga berkaitan dengan polemik pendanaan terowongan antara New York dan New Jersey, serta wacana pemberian nama Trump pada sejumlah infrastruktur publik lainnya.

Trump Organization menyebut, langkah ini dilakukan bukan untuk mencari keuntungan, melainkan untuk melindungi merek dari penyalahgunaan.

Klaim Tak Ambil Untung

Dalam pernyataannya, Trump Organization menegaskan bahwa pengajuan hak merek ini dipicu oleh rancangan undang-undang di Florida.

Perusahaan juga menyebut bahwa nama Trump merupakan salah satu merek yang paling sering dilanggar di dunia.

“Untuk memperjelas, presiden dan keluarganya tidak akan menerima royalti, biaya lisensi, atau keuntungan finansial apa pun dari rencana penggantian nama bandara ini,” tulis perusahaan.

Pernyataan tersebut merujuk pada bandara di dekat klub Mar-a-Lago milik Trump, yakni Mar-a-Lago.

Namun, pihak perusahaan tidak memberikan jawaban pasti ketika ditanya apakah di masa depan mereka akan memungut biaya untuk penggunaan nama Trump di bandara lain atau pada berbagai produk yang tercantum dalam dokumen pengajuan.

Pengamat menilai, langkah ini menunjukkan upaya serius keluarga Trump dalam mengontrol penggunaan nama mereka di ruang publik.

Di sisi lain, muncul pertanyaan tentang batas antara perlindungan merek dan potensi keuntungan bisnis.

 

Belum Pernah Terjadi dalam Sejarah AS

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Ibu Negara Melania Trump tiba dengan Air Force One di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, Senin, 16 Februari 2026, setelah melakukan perjalanan ke Florida. (Foto AP/Matt Rourke)

Pengacara merek dagang Josh Gerben, yang pertama kali menemukan dokumen tersebut, menyebut pengajuan ini sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Meski banyak presiden diberi penghormatan melalui penamaan tempat, belum pernah ada perusahaan pribadi milik presiden yang masih menjabat mengajukan hak merek terlebih dahulu,” tulis Gerben di blognya.

Ia menilai, pengajuan tersebut benar-benar tidak memiliki preseden dalam sejarah Amerika Serikat.

Biasanya, seorang presiden baru mendapatkan kehormatan berupa penamaan bandara bertahun-tahun setelah lengser, atau bahkan setelah wafat.

Sebagai contoh, Bill Clinton harus menunggu 11 tahun, Ronald Reagan sembilan tahun, dan Gerald Ford hingga 22 tahun.

Sementara John F. Kennedy menjadi yang tercepat, hanya sebulan setelah wafatnya.

Jika rencana ini terealisasi, bandara atas nama Trump akan bergabung dengan berbagai fasilitas publik lain yang belakangan dinamai untuknya, termasuk Kennedy Center dan jalan di sekitar Mar-a-Lago.

 

Ekspansi Merek Trump dan Jawaban atas Kritik

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Ibu Negara Melania Trump tiba dengan Air Force One di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, Senin, 16 Februari 2026, setelah melakukan perjalanan ke Florida. (Foto AP/Matt Rourke)

Permohonan hak merek ini diajukan oleh unit perusahaan bernama DTTM Operations ke Kantor Paten dan Merek Dagang AS. Permohonan tersebut mencakup tiga nama, yakni President Donald J. Trump International Airport, Donald J. Trump International Airport, dan DJT.

Trump Organization mengklaim bahwa merek mereka merupakan salah satu yang paling sering dipalsukan. Namun, klaim tersebut sulit diverifikasi.

Sejumlah merek global seperti Gucci, Prada, dan Rolex juga dikenal lama menghadapi masalah pemalsuan produk.

Dalam setahun terakhir, keluarga Trump juga gencar melakukan ekspansi merek. Nama Trump digunakan pada proyek properti, resor golf, dan hunian di berbagai negara, seperti Dubai, India, Saudi Arabia, dan Vietnam.

Selain itu, perusahaan juga menjual produk seperti gitar listrik, Alkitab, dan sepatu bermerek Trump.

Menanggapi kritik bahwa dirinya dan keluarga mengambil keuntungan dari jabatan presiden, Trump menegaskan bahwa bisnisnya dikelola oleh anak-anaknya melalui sistem kepercayaan (trust).

Ia juga menyatakan tidak terlibat langsung dalam operasional perusahaan sehari-hari.

“Semua sudah diatur secara terpisah dari jabatan saya sebagai presiden,” tegas Trump dalam berbagai kesempatan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya