Liputan6.com, Jakarta - Sinetron Istiqomah Cinta Episode Senin 16 Februari mengisahkan, pada suatu pagi yang masih diselimuti hawa dingin, suasana rumah mendadak berubah tegang. Rara, yang baru saja menerima laporan dari Bi Ijah, langsung naik pitam tanpa berpikir panjang. Amarahnya memuncak dan ia memutuskan memberi “pelajaran” kepada Khansa. Di hadapan Hutami serta Yuda yang menyaksikan melalui panggilan video, Rara melakukan tindakan yang begitu kejam.
Saat Khansa tengah bersujud, memohon ampun dengan tubuh yang masih lemah karena demam, Rara menyiramnya dengan seember air es. Tubuh Khansa sontak gemetar hebat. Namun penderitaan itu belum berakhir. Ia tetap dipaksa mengepel lantai dalam keadaan basah kuyup dan menggigil. Yuda tampak menikmati pemandangan tersebut, merasa puas melihat Khansa tersiksa. Hutami pun terdiam menyaksikan semuanya, meski jauh di relung hatinya terselip rasa perih yang sulit ia pahami ketika melihat Khansa menderita.
Advertisement
Di tempat berbeda, situasi tak kalah mengejutkan terjadi. Emran mendatangi kediaman Darto dengan membawa seorang pria yang sudah terikat di dalam bagasi mobil—Bang Jago, preman bayaran yang sebelumnya disewa Darto.
Di hadapan Elva dan Monika, Emran membongkar kebenaran yang selama ini tersembunyi. Ia mengungkap bahwa Darto adalah otak di balik rencana percobaan pembunuhan terhadap Khansa. Fakta itu membuat suasana memanas dan menimbulkan guncangan besar bagi semua yang mendengarnya.
Sementara itu, Hutami kembali mendatangi rel kereta api, tempat yang menyimpan kenangan pahit dalam hidupnya. Dua puluh lima tahun silam, di lokasi itulah ia meninggalkan bayi yang dilahirkannya. Dengan hati berdebar, Hutami berhasil bertemu Kepala Desa setempat dan memperoleh informasi penting. Ia mengetahui bahwa Rianti sempat kembali enam tahun lalu untuk menjual sebidang tanah demi membiayai kuliah anaknya di Jakarta. Petunjuk tersebut menjadi secercah harapan bagi Hutami untuk menelusuri masa lalunya.
Di sisi lain, Fathan yang telah mengetahui keterlibatan Darto segera berinisiatif menghubungi Khansa. Ia berniat mengajaknya melapor kepada pihak berwajib agar keadilan ditegakkan. Namun kondisi mental Khansa sudah terlanjur rapuh.
Merasa dirinya hanya akan menjadi beban, Khansa justru meminta Fathan menjauh dan melanjutkan rencana pernikahannya dengan Monika. Keputusan itu menjadi pukulan berat bagi Fathan, sekaligus memperlihatkan betapa dalam luka batin yang kini dirasakan Khansa.